Laporan Utama

  • Bumi yang Memanas

    Perubahan iklim nyata di depan mata. Badai, curah hujan yang berubah, banjir, suhu air laut yang menghangat, salju yang ekstrem, adalah sederet bukti semesta sedang berubah. Penyebabnya adalah manusia, dengan segala aktivitas dan keserakahannya. Negara-negara maju dan berkembang berembuk membuat prakarsa dan tindakan untuk menyelamatkan bumi yang bergolak, tapi semuanya tergantung tindak-tanduk tiap individu. Ikhtiar-ikhtiar kecil akan mengurangi kerusakan bumi kian parah.

  • Negosiasi Alot di Katowice

    Para negosiator perubahan iklim berembuk di Polandia. Tarik menarik kepentingan negara maju dan berkembang.

  • Perubahan Iklim di Sekitar Kita

    Pemanasan suhu bumi secara global mengubah arah angin dan curah hujan. Sudah terjadi pada hidup kita sehari-hari.

  • Lima Agenda Membangun Desa Peduli Iklim Dunia

    Pembangunan desa bisa menjadi titik tolak pencegahan bencana. Juga pengendalian iklim dunia akibat pemanasan global.

  • Kapasitas Mitigasi Pemanasan Global

    Kesepakatan Paris belum menjamin pencapaian target pengendalian perubahan iklim global. Mitigasi dan adaptasi menjadi isu serius dan mendesak.

  • Hidup Tanpa Plastik

    Beberapa kota menerapkan larangan kantong plastik bagi peritel modern. Industri mengikuti.

  • Insentif Hutan untuk Menyerap Emisi Karbon

    Tiga upaya memaksimalkan hutan tumbuh secara alami untuk menyerap emisi karbon dan gas rumah kaca. Sudah berada di jalan yang benar.

  • Pendanaan untuk Menurunkan Efek Gas Rumah Kaca

    Pendanaan untuk mengurangi dampak pemanasan global sebagai kepanjangan negosiasi di Paris dan Polandia. Perlu kerja sama yang kuat antar negara maju dan berkembang.

  • Solusi Menangani Perubahan Iklim

    Kerjasama global menjadi tulang punggung keberhasilan mencegah perubahan iklim. Tak kalah penting peran individu sejak dari rumah.

  • Insentif Mengurangi Emisi Berbasis Kinerja

    Pemerintah menyiapkan insentif pelaksanaan pengurangan emisi berbasis kinerja. Perlu aturan dan skema turunan yang lebih teknis.

  • Sekolah-Sekolah Peduli Lingkungan

    Sekolah adalah satu tiang utama merawat lingkungan, ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di lembaga pendidikan ini setiap hari. Sekolah juga yang membentuk pola pikir mereka terhadap apa saja.

  • Nyamuk pun Tak Bersarang di Ciasin

    Desa Bendungan di Bogor menjadi desa ramah lingkungan berkat kesadaran penduduknya mencegah sampah masuk sungai. Setelah sungai bersih mereka membendung dan menanaminya dengan ikan. Menguntungkan secara ekonomi bagi keluarga.

  • Ironi Rumah Orang Tua

    Hutan Indonesia seperti rumah. Satwa yang menghuninya ibarat orang tua. Kini rumah itu menuju kekosongan karena penghuninya tak lagi hidup di dalamnya. Mereka punah atau terdesak oleh kebutuhan dan nafsu mamalia lain yang bisa berpikir untuk berkembang biak: manusia. Perlu perubahan paradigma menyelamatkan agar rumah orang tua itu tak jadi suwung.

  • Nasib Burung dalam Tangkar

    Pegiat konservasi dan pehobi burung kicau berdebat soal perlindungan lima jenis burung. Nilai bisnisnya sangat besar.

  • Satwa Kita dalam Angka

    Jumlahnya kian memprihatinkan.

  • Derita Satwa Nusa Tenggara

    Satwa endemik Nusa Tenggara Timur kian tergerus karena habitatnya yang hancur. Perlu dikelola dengan paradigma konservasi.

  • Melindungi Satwa, Melindungi Mama Kita

    Bagi masyarakat Papua melindungi alam seperti menjaga ibu mereka sendiri. Satwa adalah bagian dari mama yang sakral.

  • Melestarikan Burung Secara Liar

    Biarkan burung-burung hidup dan berkeliaran di alam bebas. Menikmati suara cantik mereka lebih indah di alam liar ketimbang terkurung di sangkar.

  • Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar

    Ada banyak ragam pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar.

  • Tantangan Konservasi Orangutan

    Penelitian dan pemanfaatan orangutan dan habitatnya merupakan tantangan tersendiri selain masih rendahnya minat mahasiswa Indonesia meneliti orangutan. Pendanaan merupakan tantangan lain yang tak kalah krusial.

  • Strategi Mengurangi Konflik Harimau dan Manusia

    Deforestasi adalah akar utama konflik manusia dengan harimau. Setidaknya sekitar 7,54 juta hektare lahan hutan primer di Sumatra hilang selama 1990-2010 atau sekitar 0,38 juta hektar per tahun.

  • Ekowisata Gajah Danau Toba

    Gajah jinak yang menjadi obyek wisata di KHDTK Aek Nauli merupakan hasil domestikasi dari gajah tangkapan yang dijinakkan, dilatih, dan dikembangbiakkan (ditangkarkan).

  • Kolaborasi Mengonservasi Orangutan Tapanuli

    Adanya Forum Bersama juga diharapkan dapat  mengurangi beban pembiayaan yang semula hanya ditanggung oleh pemerintah menjadi tanggungjawab multi pihak. Oleh karena pelaksanaan konservasi merupakan kewajiban para pihak.

  • Kayu yang Kalah Bersaing

    Perhutanan sosial di Konawe berhenti justru ketika dimandirikan. Perlu lebih profesional dan dukungan pemerintah.

  • Kayu Putih untuk Lahan Marjinal

    Harga minyak kayu putih pun cukup baik, sekitar Rp. 200.000 per kg. Sampai saat ini, baru Perum Perhutani yang membudidayakan kayu putih secara masif

  • Potensi Minyak Atsiri di Luar Negeri

    Terdapat puluhan jenis tanaman atsiri yang bisa dibudidayakan di Indonesia dan memiliki besaran pasar yang signifikan baik dalam maupun luar negeri. Sebagian besar tanaman atsiri tersebut bisa digolongkan sebagai HHBK.

  • Prospek Hasil Hutan Bukan Kayu

    Pada masa-masa awal pembangunan bidang kehutanan hanya berorientasi pada timber based-management yang menitikberatkan pada kepentingan ekonomi semata. Kondisi ini telah mengakibatkan rusaknya lingkungan hutan, berkurangnya keanekaragaman hayati serta bentuk-bentuk kerusakan yang lain.

  • Fahutan yang Asyik

    "Bagaimana rasanya menjadi alumni mahasiswa Kehutanan?"

  • Langkah 49 Tanpa Getar

    Bina Corps Rimbawan 2013 tak seseram yang dibayangkan. Seru-seruan lomba make-up.

  • Berbagi Bolu Hingga Botak Lucu

    Cerita angkatan 48 soal masa orientasi.

  • ASIK Sebagai Kepribadian

     Tak ada cerita. Ini pendapat angkatan 46 atas yal-yel ASIK yang kita kenal.

  • Kegantengan Naik 100% Setelah BCR

    Menjadi senior itu ternyata susah. Bangga setelah lulus masa orientasi.

  • Angkatan "Pemberontak" dan Kritis

    “Ada cinta yang silang sengkarut. Subsidi silang antar mahasiswa agar bisa bertahan kuliah. E44 adalah sekelumit kisah panjang tentang cinta, kesetiakawanan dan tenggang rasa, kesahajaan, dan kebebasan”.

  • Budak Bageur Tukang Nongkrong

    Transisi kuliah ke kurikulum baru mayor-minor. Banyak mata kuliah yang belum diambil sudah hilang dan ikut kuliah penyetaraan.

  • Generasi Milenial Fahutan

    Angkatan yang masuk ketika abad berganti. Kuliah memakai telepon seluler.

  • Cerita di Era Reformasi

    Angkatan 34 ini kuliah ketika ekonomi sedang sulit. Saksi sejarah tumbangnya rezim Soeharto.

  • Antara Cijulang dan Nusakambangan

    Angkatan 33 mempersembahkan tulisan ini untuk mengenang Dani dan Heri, teman terbaik yang kami sayangi.

  • Ragam Cerita Para Gondewa

    Kisah angkatan 32. Punya panggilan sayang untuk dosen Tatang Tiryana.

  • Bajiguran: Don't Crack Under Pressure

    Bajiguran angkatan 31 menjadi pengalaman paling mengesankan. Mengamalkan nilai-nilai Ospek dalam acara penutupan masa orientasi.

  • Cinta yang Tak Terceritakan

    Angkatan 30 ini membebaskan teman di “penjara” sampai gerakan sosial membantu sesama.

  • Warna-Warna Puber Kedua

    Angkatan ini sedang berada dalam puncak karier memimpin organisasi tempat mereka bekerja. Selalu serius.

  • Tersesat di Jalan yang Benar

    Beberapa catatan kenangan kuliah di Fahutan. Kreativitas tak berbatas: dari catatan kuliah hingga mendirikan radio gelap.

  • Piknik Bersama Lagi Setelah 25 Tahun

    Angkatan 27 punya slogan P4: Pahutan Pamili Poreper Paham. Hobi piknik bareng sejak kuliah.

  • Seperti Kondom, Kami Saling Melindungi

    Angkatan 25, angkatan pertama yang bergelar S.Hut karena Ir dihapuskan. Jumlah laki-laki dan perempuan nyaris sama.

  • Kenangan Lama di Dramaga Plaza

    Angkatan ini punya prinsip: jika tak dilarang, lakukanlah.

  • Fahutan Bikin Saya Hobi Naik Gunung

    Acap praktik di hutan membuat keterusan jadi hobi. Kompak sampai kawinan. Kisah angkatan 17.

  • Gemuruh Angkatan 1980

    Inisiator pendirian Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan yang memelopori pendirian rumah limbah.

  • Rimbawan 79 dan Osma

    Rimbawan 79 berbicara tentang perploncoan, hikmahnya, dan relevansinya dengan kondisi saat ini.

  • Selamat dari Sergapan Maling

    Pengalaman tinggal di asrama putri Dramaga dari angkatan 13. Dikunci di dalam kamar oleh senior dan disantroni maling.

  • Transisi Sarjana dari Enam ke Empat Tahun

    Cerita angkatan 11 ketika Fakultas Kehutanan menjadi fakultas favorit ketiga pertengahan 1970-an. Banyak yang nilainya A, alias alhamdulillah lulus.

  • Mimpi-Mimpi Menjadi Sarjana Kehutanan

    Kuliah dan ospek telah menempa mereka menjadi rimbawan. Persaudaraan dan kedekatan tak menjadi alas mengejar karier setelah lulus.

  • Shinting Tapi Romantis

    Angkatan 7 ini menjadi inisiator pendirian Forest Management Student Club. Tingkat persiapan seperti “the killing field”.

  • Angkatan Miskin Wanita

    Hanya ada tiga perempuan di angkatan ini. Sebanyak 70 persen “lulus dipercepat”.

  • Lahir di Tahun Politik

    Angkatan ini menjadi mahasiswa ketika politik sedang memanas menjelang pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Kompak dengan kejahilan-kejahilan tak terperi.

  • Angkatan Pra-Rimbawan

    Menjadi panitia Ospek dua fakultas selain mahasiswa Kehutanan. Karena kekurangan air di asrama banyak yang terkena “kupret”.

  • Kompak Seperti Suara Ompreng

    Angkatan pertama Fakultas Kehutanan atau E-1 ini menjadi mahasiswa perintis Fakultas Kehutanan IPB. Kenakalan-kenakalan filosofis.

  • Belajar Kepada Dosen Belanda

    Mereka mahasiswa angkatan minus 15 hingga minus 1, sebelum IPB berdiri. Sudah ada plonco untuk pembinaan korps.

  • Pesona Perhutanan Sosial

    Penggiat perhutanan sosial menggelar Festival Rakyat Perhutanan Sosial Nusantara (PeSonNa) pada 6-8 September 2016. Dari pameran yang menampilkan pelbagai contoh praktik perhutanan sosial dari seluruh Indonesia itu terlihat bahwa hutan memberikan manfaat yang besar jika dikelola bersama masyarakat. Pemerintah tengah bersiap menelurkan aturan baru sebagai basis pengelolaan 12,7 juta hektare hutan oleh masyarakat.

  • Mari Berwisata...

    Ekowisata kian digandrungi para pelancon. Promosi melestarikan alam mulai menyadarkan banyak orang akan pentingnya upaya pelestarian. Dan upaya tersebut bertemu dengan hasrat orang untuk jalan-jalan dalam ekowisata. Tak mudah menggolongkan sebuah objek wisata ke dalam kategori eko. Ini beberapa di antaranya:

  • Ciremai Lewat Jalur Kelima

    RIMPALA melakukan ekspedisi mendata tumbuhan obat di jalur baru pendakian ke puncak Gunung Ciremai. Obat untuk sehari-hari.

  • Primata-primata Sangatta

    Taman Nasional Kutai sangat kaya akan keragaman primata langka. Ekspedisi mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata selama sepuluh hari.

  • Edelweis Setelah Erupsi

     Tim ekspedisi Rimpala membandingkan dua lokasi yang terdampak dan tak terdampak erupsi Gunung Merapi pada 2010. Alam sedang saling menaklukkan.

  • Para Pemburu Anggrek

    Reportase Tim Rimpala dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang menjadi rumah terbesar bagi anggrek dan kantong semar. Vegetasi hutan hujan tropis yang lengkap dan beragam.

  • Menjemput Hutan Gambut

    Reportase dari Taman Nasional Tanjung Puting. Ekspedisi tim Eksflorasi Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan. Perjalanan yang tak mungkin menjadi mungkin.

  • Simalakama Api dalam Semak

    Kebakaran menjadi momok hutan gambut. Mengendalikannya tak cukup dengan mengatur ketinggian air.

  • Kepentingan Ekonomi dan Restorasi Harus Sejalan

    Wawancara dengan Haris Gunawan, Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut.

  • Kearifan Lokal yang Tak Tepermanai

    Indonesia menjadi contoh keberhasilan menangani kebakaran di lahan gambut. Nenek moyang kita jauh lebih intelek.

  • Agar Gambut Bersemi Kembali

    Paludikultur menjadi alternatif baru memperbaiki dan mencegah meluasnya kerusakan lahan gambut. Cara tradisional yang diakui secara ilmiah.

  • Bimbang di Hutan Gambut

    Pemerintah menunda izin baru kebun sawit di lahan gambut. Kebakaran hebat tahun 2015 menjadi titik balik cara pandang terhadap hutan sampah organik ini. Selama moratorium pemerintah akan mendata ulang lahan gambut yang rusak untuk direstorasi dan masih bagus untuk budidaya yang tepat bagi kepentingan lingkungan dan ekonomi. Namun tarik-menarik kepentingan dua sektor itu membuat masalah gambut jadi pelik.

  • Di Asrama Semua Cerita Bermula

    Mahasiswa Fakultas Kehutanan menempati tiga asrama. Memulai tradisi pemberian nama panggilan, sampai tercetak di ijazah.

  • "Ini Soal Hidup dan Mati"

    Pidato Bung Karno ketika meletakkan batu pertama Kampus IPB Baranangsiang. Seharusnya gedung ini dirancang Frederich Silaban.

  • Solidaritas dari Kantin

    Kantin merekam cerita solidaritas mahasiswa Fakultas Kehutanan. Boleh utang asal cuci piring.

  • Hutan yang Memberi Hidup

    Masyarakat mengelola hutan yang rusak dan berhasil melestarikannya. Ada yang mengembangkan pariwisata, hingga menanam kopi seraya merawat alam.

  • Dari Kuis Ketok ke Kuis Tetot

    Meja-meja rusak karena diketok saat ujian. Bikin kaget.

  • HAPKA: Pesta Sampai Bosan

    Hari Pulang Kampus muncul tahun 1980. Untuk mengenang kuliah dan hari-hari yang menyenangkan.

  • Pelopor Wisuda di IPB

    Pemanenan menjadi cikal bakal Hapka. IPB menirunya kemudian.

  • Asal Usul Slogan ASIK

     Slogan ASIK yang menjadi jargon mahasiswa Fahutan mulai dikenalkan pada awal 1980. Muncul secara spontan.

  • Para Sarjana yang Dipercepat

    Sistem belajar di IPB tak kenal ampun. Drop-out hingga residivis dengan masa studi kian pendek.

  • Plonco yang Keras Tapi Berkesan

    Plonco mahasiswa baru sudah ada sejak sebelum IPB berdiri. Fahutan meneruskannya untuk mengeratkan kekompakan dan kekeluargaan.

  • Cintaku di Kampus Abu-Abu

    Fahutan telah jadi nama generik para mahasiswa, dosen, dan alumni. Ia kampus, ia rumah, ia juga keluarga yang mengikat 6.000 lulusannya untuk selalu pulang ke sini, menjenguk kenangan, menyiapkan masa depan. Fahutan tak sekadar Fakultas Kehutanan yang menjadi bagian dari Institut Pertanian Bogor. Ia mengajarkan lebih dari mata kuliah akademis, tapi nilai-nilai hidup yang utama: kebersamaan, solidaritas, peduli, dan saling menghargai.

  • Agroforestri: Masa Depan Pemanfaatan Lahan Hutan Produksi

    Agroforestri merupakan salah satu penggunaan lahan yang sudah tua oleh petani selama ribuan tahun di seluruh dunia.

  • Catatan dari Papua: Sentosa Karena Pala

    Sebuah komoditas disebut unggul atau memiliki daya saing tinggi jika mampu menangkal komoditas pesaing di pasar domestik dan atau pasar ekspor.

  • Belajar Mencintai Hutan di Gunung Walat

    Ekowisata pendidikan berkembang sejak digarap secara serius. Tak sekadar untuk penelitian.

  • Wisata di Hutan Produksi

    Ekowisata menjadi cara baru mengelola dan memanfaatkan hutan produksi yang tak lagi mengandalkan kayu. Belum ada model ideal dan perlu dukungan infrastruktur.

  • Di Balik Sampul Forest Digest Edisi Khusus Hapka 2018

    Sampul yang coba menangkap masa lalu dan masa kini, kenangan dan harapan yang akan datang.