Laporan Utama

  • Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Berdemo di Negeri Greta Thunberg

    Pengalaman mengikuti demonstrasi iklim di Stockholm. Greta Thunberg jadi pahlawan di negerinya, yang rapi, yang peduli pada lingkungan.

  • Pemanasan Global di Kaki Everest

    Kenaikan suhu udara akibat pemanasan global membuat hamparan es di Himalaya menyusut. Batu-batu sebesar gunung menghangat akibat suhu naik rata-rata 0,09 derajat Celsius hingga 0,12 derajat Celsius per tahun di wilayah Khumbu dan Langtang. Gletser di ketinggian 5.000-6.000 meter dari permukaan laut menyusut dua kali luas Jakarta Pusat per tahun.

  • Jejak Karbon di Everest

    Kedatangan pendaki ke Everest dan naiknya penghuni sepanjang jalur ke sana membuat jumlah karbon di Himalaya naik.

  • Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.

  • Gairah Baru dari Bulukumba

    Pemerintah membuat cara baru meluaskan realisasi perhutanan sosial. Menggandeng kabupaten dan generasi milenial melakukan pendampingan petani hutan.

  • Rona Kuning di Jalan Nanjing

    Cina menerapkan perhutanan sosial sejak Revolusi 1949. Perencanaannya detail.

  • Tiga Tahap Wana Lestari

    Hutan sosial bisa sukses jika setiap komponen bekerja bersama. Juga kesadaran masyarakat akan fungsi hutan bagi hidup mereka. Cerita dari kelompok Wana Lestari di Lampung Barat.

  • Gambut yang Belum Bersambut

    Belum banyak perhutanan sosial di kawasan gambut. Pemerintah baru menerbitkan aturannya.

  • Hutan Sosial yang Ideal

    Enam syarat mencapai perhutanan sosial yang ideal. Setelah urusan legalitas selesai.

  • Perhutanan Sosial Harus Dikeroyok

    Wawancara dengan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Supriyanto.

  • Segunung Utang Janji Jokowi

    Meski sudah ada peraturan daerah dan/atau surat keputusan kepala daerah, toh kelembagaan pusat masih merasa perlu untuk melakukan verifikasi ulang. Akibatnya jelas: terhambatnya laju pengakuan hak masyarakat adat dan pemborosan.

  • Solusi Konflik Sawit Rakyat di Kawasan Hutan

    Momentum Inpres Moratorium Sawit, perhutanan sosial dan reforma agraria sangat layak dimanfaatkan sebagai upaya penyelesaian penguasaan lahan oleh perkebunan sawit rakyat dalam kawasan hutan.

  • Kemitraan Konservasi dalam Kontroversi

    Tantangan besar terkait dengan tuntutan reforma agraria di kawasan konservasi adalah ketentuan tentang pola penyelesaian permasalaham penguasaan lahan di kawasan yang ditunjuk  sebagai kawasan hutan dengan fungsi konservasi melalui resletement.

  • Alam Terkembang di Ranah Minang

    Dukungan pemerintah daerah amat vital dalam kesuksesan sebuah hutan sosial. Bisa ditiru provinsi lain.

  • Masa Depan Perhutanan Sosial

    Memasuki periode 2020-2024, perhutanan sosial sudah mesti menaruh porsi pada kualitas dan outcome yakni pemberdayaan serta menjadi mekanisme penyelesaian konflik yang efektif.

  • Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Salah satunya karena vetiver tanaman penyerap limbah beracun. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat agar vetiver kian perkasa menyerap limbah.

  • Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok berkat vetiver. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka. Untung ada vetiver.

  • Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.

  • Bumi yang Memanas

    Perubahan iklim nyata di depan mata. Badai, curah hujan yang berubah, banjir, suhu air laut yang menghangat, salju yang ekstrem, adalah sederet bukti semesta sedang berubah. Penyebabnya adalah manusia, dengan segala aktivitas dan keserakahannya. Negara-negara maju dan berkembang berembuk membuat prakarsa dan tindakan untuk menyelamatkan bumi yang bergolak, tapi semuanya tergantung tindak-tanduk tiap individu. Ikhtiar-ikhtiar kecil akan mengurangi kerusakan bumi kian parah.

  • Negosiasi Alot di Katowice

    Para negosiator perubahan iklim berembuk di Polandia. Tarik menarik kepentingan negara maju dan berkembang.

  • Perubahan Iklim di Sekitar Kita

    Pemanasan suhu bumi secara global mengubah arah angin dan curah hujan. Sudah terjadi pada hidup kita sehari-hari.

  • Lima Agenda Membangun Desa Peduli Iklim Dunia

    Pembangunan desa bisa menjadi titik tolak pencegahan bencana. Juga pengendalian iklim dunia akibat pemanasan global.

  • Kapasitas Mitigasi Pemanasan Global

    Kesepakatan Paris belum menjamin pencapaian target pengendalian perubahan iklim global. Mitigasi dan adaptasi menjadi isu serius dan mendesak.

  • Hidup Tanpa Plastik

    Beberapa kota menerapkan larangan kantong plastik bagi peritel modern. Industri mengikuti.

  • Insentif Hutan untuk Menyerap Emisi Karbon

    Tiga upaya memaksimalkan hutan tumbuh secara alami untuk menyerap emisi karbon dan gas rumah kaca. Sudah berada di jalan yang benar.

  • Pendanaan untuk Menurunkan Efek Gas Rumah Kaca

    Pendanaan untuk mengurangi dampak pemanasan global sebagai kepanjangan negosiasi di Paris dan Polandia. Perlu kerja sama yang kuat antar negara maju dan berkembang.

  • Solusi Menangani Perubahan Iklim

    Kerjasama global menjadi tulang punggung keberhasilan mencegah perubahan iklim. Tak kalah penting peran individu sejak dari rumah.

  • Insentif Mengurangi Emisi Berbasis Kinerja

    Pemerintah menyiapkan insentif pelaksanaan pengurangan emisi berbasis kinerja. Perlu aturan dan skema turunan yang lebih teknis.

  • Sekolah-Sekolah Peduli Lingkungan

    Sekolah adalah satu tiang utama merawat lingkungan, ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di lembaga pendidikan ini setiap hari. Sekolah juga yang membentuk pola pikir mereka terhadap apa saja.

  • Nyamuk pun Tak Bersarang di Ciasin

    Desa Bendungan di Bogor menjadi desa ramah lingkungan berkat kesadaran penduduknya mencegah sampah masuk sungai. Setelah sungai bersih mereka membendung dan menanaminya dengan ikan. Menguntungkan secara ekonomi bagi keluarga.

  • Ironi Rumah Orang Tua

    Hutan Indonesia seperti rumah. Satwa yang menghuninya ibarat orang tua. Kini rumah itu menuju kekosongan karena penghuninya tak lagi hidup di dalamnya. Mereka punah atau terdesak oleh kebutuhan dan nafsu mamalia lain yang bisa berpikir untuk berkembang biak: manusia. Perlu perubahan paradigma menyelamatkan agar rumah orang tua itu tak jadi suwung.

  • Nasib Burung dalam Tangkar

    Pegiat konservasi dan pehobi burung kicau berdebat soal perlindungan lima jenis burung. Nilai bisnisnya sangat besar.

  • Satwa Kita dalam Angka

    Jumlahnya kian memprihatinkan.

  • Derita Satwa Nusa Tenggara

    Satwa endemik Nusa Tenggara Timur kian tergerus karena habitatnya yang hancur. Perlu dikelola dengan paradigma konservasi.

  • Melindungi Satwa, Melindungi Mama Kita

    Bagi masyarakat Papua melindungi alam seperti menjaga ibu mereka sendiri. Satwa adalah bagian dari mama yang sakral.

  • Melestarikan Burung Secara Liar

    Biarkan burung-burung hidup dan berkeliaran di alam bebas. Menikmati suara cantik mereka lebih indah di alam liar ketimbang terkurung di sangkar.

  • Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar

    Ada banyak ragam pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar.

  • Tantangan Konservasi Orangutan

    Penelitian dan pemanfaatan orangutan dan habitatnya merupakan tantangan tersendiri selain masih rendahnya minat mahasiswa Indonesia meneliti orangutan. Pendanaan merupakan tantangan lain yang tak kalah krusial.

  • Strategi Mengurangi Konflik Harimau dan Manusia

    Deforestasi adalah akar utama konflik manusia dengan harimau. Setidaknya sekitar 7,54 juta hektare lahan hutan primer di Sumatra hilang selama 1990-2010 atau sekitar 0,38 juta hektar per tahun.

  • Ekowisata Gajah Danau Toba

    Gajah jinak yang menjadi obyek wisata di KHDTK Aek Nauli merupakan hasil domestikasi dari gajah tangkapan yang dijinakkan, dilatih, dan dikembangbiakkan (ditangkarkan).

  • Kolaborasi Mengonservasi Orangutan Tapanuli

    Adanya Forum Bersama juga diharapkan dapat  mengurangi beban pembiayaan yang semula hanya ditanggung oleh pemerintah menjadi tanggungjawab multi pihak. Oleh karena pelaksanaan konservasi merupakan kewajiban para pihak.

  • Kayu yang Kalah Bersaing

    Perhutanan sosial di Konawe berhenti justru ketika dimandirikan. Perlu lebih profesional dan dukungan pemerintah.

  • Kayu Putih untuk Lahan Marjinal

    Kayu putih bisa tumbuh di mana saja, di tanah subur maupun miskin hara. Cocok untuk rehabilitasi dan reklamasi bekas tambang dengan pertumbuhan lebih bagus. Nilai bisnisnya juga besar.

  • Potensi Minyak Atsiri di Luar Negeri

    Terdapat puluhan jenis tanaman atsiri yang bisa dibudidayakan di Indonesia dan memiliki besaran pasar yang signifikan baik dalam maupun luar negeri. Sebagian besar tanaman atsiri tersebut bisa digolongkan sebagai HHBK.

  • Prospek Hasil Hutan Bukan Kayu

    Indonesia memiliki hasil hutan bukan kayu yang melimpah sehingga punya prospek cerah karena minat pasar internasional naik signifikan. Setelah pembangunan berorientasi kayu, saatnya menengok selain pohon.

  • Fahutan yang Asyik

    "Bagaimana rasanya menjadi alumni mahasiswa Kehutanan?"

  • Langkah 49 Tanpa Getar

    Bina Corps Rimbawan 2013 tak seseram yang dibayangkan. Seru-seruan lomba make-up.

  • Berbagi Bolu Hingga Botak Lucu

    Cerita angkatan 48 soal masa orientasi.

  • ASIK Sebagai Kepribadian

     Tak ada cerita. Ini pendapat angkatan 46 atas yal-yel ASIK yang kita kenal.

  • Kegantengan Naik 100% Setelah BCR

    Menjadi senior itu ternyata susah. Bangga setelah lulus masa orientasi.

  • Angkatan "Pemberontak" dan Kritis

    “Ada cinta yang silang sengkarut. Subsidi silang antar mahasiswa agar bisa bertahan kuliah. E44 adalah sekelumit kisah panjang tentang cinta, kesetiakawanan dan tenggang rasa, kesahajaan, dan kebebasan”.

  • Budak Bageur Tukang Nongkrong

    Transisi kuliah ke kurikulum baru mayor-minor. Banyak mata kuliah yang belum diambil sudah hilang dan ikut kuliah penyetaraan.

  • Generasi Milenial Fahutan

    Angkatan yang masuk ketika abad berganti. Kuliah memakai telepon seluler.

  • Cerita di Era Reformasi

    Angkatan 34 ini kuliah ketika ekonomi sedang sulit. Saksi sejarah tumbangnya rezim Soeharto.

  • Antara Cijulang dan Nusakambangan

    Angkatan 33 mempersembahkan tulisan ini untuk mengenang Dani dan Heri, teman terbaik yang kami sayangi.

  • Ragam Cerita Para Gondewa

    Kisah angkatan 32. Punya panggilan sayang untuk dosen Tatang Tiryana.

  • Bajiguran: Don't Crack Under Pressure

    Bajiguran angkatan 31 menjadi pengalaman paling mengesankan. Mengamalkan nilai-nilai Ospek dalam acara penutupan masa orientasi.

  • Cinta yang Tak Terceritakan

    Angkatan 30 ini membebaskan teman di “penjara” sampai gerakan sosial membantu sesama.

  • Warna-Warna Puber Kedua

    Angkatan ini sedang berada dalam puncak karier memimpin organisasi tempat mereka bekerja. Selalu serius.

  • Tersesat di Jalan yang Benar

    Beberapa catatan kenangan kuliah di Fahutan. Kreativitas tak berbatas: dari catatan kuliah hingga mendirikan radio gelap.

  • Piknik Bersama Lagi Setelah 25 Tahun

    Angkatan 27 punya slogan P4: Pahutan Pamili Poreper Paham. Hobi piknik bareng sejak kuliah.

  • Seperti Kondom, Kami Saling Melindungi

    Angkatan 25, angkatan pertama yang bergelar S.Hut karena Ir dihapuskan. Jumlah laki-laki dan perempuan nyaris sama.

  • Kenangan Lama di Dramaga Plaza

    Angkatan ini punya prinsip: jika tak dilarang, lakukanlah.

  • Fahutan Bikin Saya Hobi Naik Gunung

    Acap praktik di hutan membuat keterusan jadi hobi. Kompak sampai kawinan. Kisah angkatan 17.

  • Gemuruh Angkatan 1980

    Inisiator pendirian Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan yang memelopori pendirian rumah limbah.

  • Rimbawan 79 dan Osma

    Rimbawan 79 berbicara tentang perploncoan, hikmahnya, dan relevansinya dengan kondisi saat ini.

  • Selamat dari Sergapan Maling

    Pengalaman tinggal di asrama putri Dramaga dari angkatan 13. Dikunci di dalam kamar oleh senior dan disantroni maling.

  • Transisi Sarjana dari Enam ke Empat Tahun

    Cerita angkatan 11 ketika Fakultas Kehutanan menjadi fakultas favorit ketiga pertengahan 1970-an. Banyak yang nilainya A, alias alhamdulillah lulus.

  • Mimpi-Mimpi Menjadi Sarjana Kehutanan

    Kuliah dan ospek telah menempa mereka menjadi rimbawan. Persaudaraan dan kedekatan tak menjadi alas mengejar karier setelah lulus.

  • Shinting Tapi Romantis

    Angkatan 7 ini menjadi inisiator pendirian Forest Management Student Club. Tingkat persiapan seperti “the killing field”.

  • Angkatan Miskin Wanita

    Hanya ada tiga perempuan di angkatan ini. Sebanyak 70 persen “lulus dipercepat”.

  • Lahir di Tahun Politik

    Angkatan ini menjadi mahasiswa ketika politik sedang memanas menjelang pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Kompak dengan kejahilan-kejahilan tak terperi.

  • Angkatan Pra-Rimbawan

    Menjadi panitia Ospek dua fakultas selain mahasiswa Kehutanan. Karena kekurangan air di asrama banyak yang terkena “kupret”.

  • Kompak Seperti Suara Ompreng

    Angkatan pertama Fakultas Kehutanan atau E-1 ini menjadi mahasiswa perintis Fakultas Kehutanan IPB. Kenakalan-kenakalan filosofis.

  • Belajar Kepada Dosen Belanda

    Mereka mahasiswa angkatan minus 15 hingga minus 1, sebelum IPB berdiri. Sudah ada plonco untuk pembinaan korps.