Laporan Utama | Juli-September 2019

Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

Siti Sadida Hafsah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

BADAN Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menggolongkan unit usaha restorasi ekosistem ke dalam empat kategori: peluang bisnis, proyek hijau, konservasi, dan menyelamatkan aset sendiri. Ada 16 perusahaan yang sejak 2009 mendapat izin mengelola kawasan hutan produksi yang sudah tak diolah untuk dipulihkan sesuai habitat semula.

Ada tiga grup usaha yang tergabung dalam kategori keempat: Riau Andalan Pulp and Paper yang mengoperasikan empat perusahaan dalam Restorasi Ekosistem Riau (PT Gemilang Cipta Nusantara, PT Global Alam Nusantara, PT The Best One Unitimber, PT Sinar Mutiara Nusantara), Asia Pulp and Paper (PT Karawang Ekawana Nugraha), dan PT Sipef Biodiversity Indonesia. PT Sipef juga tercatat masuk ke dalam kategori proyek hijau.

Mereka yang masuk kategori keempat ini sebetulnya masih menyoal penamaan “menyelamatkan aset sendiri”. Sebab, penamaan itu mengandung arti mereka hendak menguasai lahan setelah tak menebang kayu dan merusak kawasannya. “Padahal kami mendapat konsesi baru di lahan itu,” kata Nyoman Iswarayoga, Direktur Hubungan Eksternal Restorasi Ekosistem Riau. “Perusahaan kami tak punya konsesi di lahan itu sebelumnya.”

Pengelompokan usaha restorasi ekosistem

PT Restorasi Ekosistem Indonesia

REKI menjadi perusahaan pertama yang mendapat izin restorasi ekosistem dalam sistem lelang pada 2007. Perusahaan ini dibentuk oleh tiga organisasi konservasi besar: Burung Indonesia, Birdlife International, dan The Royal Society of Protection for the Bird. Awalnya, mereka mengajukan izin mengelola kawasan rusak di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, untuk menyelamatkan habitat asli burung di sana pada 2007 seluas 52.170 hektare.

Tiga tahun kemudian, izin kedua terbit untuk konsesi seluas 46.385 hektare di Batanghari dan Sorolangun, Jambi. Mereka menamai areal konsesinya dengan nama Hutan Harapan. Sehingga, luas total untuk dua areal konsesi PT Restorasi Ekosistem 98.555 hektare—1,5 kali luas Jakarta.

Burung di kawasan restorasi PT Restorasi Ekosistem Indonesia di Hutan Harapan, Jambi, 2019.

Selama 2010-2019, PT REKI telah menanam bibit pohon 1.281.306 di Jambi. Pengadaan bibit pohon bekerja sama dengan masyarakat desa sekitar hutan. Setelah survei di awal kerja, di kawasan REKI di Jambi terdapat 547 jenis satwa, 106 di antaranya jenis yang terancam punah seperti gajah, harimau Sumatera, tapir, beruang, rangkong. Menurut Direktur Utama REKI Mangarah Silalahi, pemulihan di areal konsesi butuh waktu 30 tahun.

Sumber biaya investasi REKI berasal dari donor, seperti Singapore Airlines, PT Tasco, dan sumbangan dari proyek pelestarian gajah dari Darwin Initiative dan pemerintah Jerman. Perusahaan-perusahaan besar ini berinvestasi di bank, kemudian menyalurkan pendapatan bunganya ke REKI. Mangarah mencontohkan, Singapore Airlines yang menyimpan US$ 7-15 juta mendapatkan bunga bank US$ 55.000 setahun.

Sejauh ini pendapatan REKI berasal dari hasil hutan non kayu seperti bambu dan madu. Dengan menggandeng masyarakat, mereka telah menanam bambu di areal 40 hektare, dari target 2.000 hektare. Namun, menurut Mangarah, pendapatan non kayu ini hanya 10% dari biaya operasional. “Sementara operasional kami butuh minimal Rp 13 miliar setahun,” kata dia.

PT Rimba Raya Conservation

Berdiri pada 2007, izin restorasi ekosistem untuk perusahaan ini terbit pada 2013 untuk memulihkan areal seluas 37.151 hektare yang berimpitan dengan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Areal bekas hak pengusahaan hutan PT Mulung Basidi ini terdegradasi karena perambahan dan pembalakan liar.

Menurut Direktur Teknik Mochamad Asari, awal mula RRC masuk ke areal ini untuk menyelamatkan orang utan yang berumah di taman nasional. Apalagi sebagian besar areal konsesi RRC adalah gambut yang rusak akibat kegagalan Orde Baru menyulapnya menjadi sawah sejuta hektare.

Ada 14 desa di sekitar konsesi RRC yang menjadi kawasan penyangga taman nasional. Agar masyarakat turut menjaga kawasan konsesi, RRC membuat banyak kegiatan di desa, seperti pembuatan bibit tanaman, kerajinan dari bahan plastik daur ulang, bank sampah, beternak ayam, pengembangbiakan ayam petelur, hingga beasiswa untuk siswa SMA.

Menurut Asari, modal untuk semua kegiatan berasal dari dana perusahaan, selain bekerja sama dengan sejumlah lembaga mitra seperti World Education, Infinite Earth, Orangutan Foundation International (OFI) Badan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kalimantan Tengah, taman nasional untuk patroli, Kyoto University untuk penanaman pohon gaharu, pemerintah New Zealand untuk pengadaan panel solar.

Pendiri RRC merupakan gabungan tiga perusahaan: PT Jaga Rimba, PT Phoenix Pembangunan Indonesia, dan PT Lestari Jaya Anugerah. Untuk menjaga kawasan, RRC tengah menanam 400 ribu pohon lokal. Menurut Ansari, setelah enam tahun berjalan, investasi belum balik modal. “Ada usaha nonkayu tapi sangat kecil dan hanya cukup untuk masyarakat binaan saja,” katanya.

Biaya operasional bertambah besar untuk pengamanan karena ancaman musim kemarau yang bisa membakar kawasan gambut. Apalagi, pendapatan menjual karbon yang mulai diminati dunia internasional belum berjalan karena belum ada aturan jelas soal bisnis ini dari pemerintah. “Sementara keringanan kewajiban berupa insentif pajak juga belum ada,” kata Ansari.

Orangutan di PT Rimba Raya Conservations di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Menurut Ansari, pemerintah tak memberi insentif apa pun kepada usaha restorasi karena setoran sejak biaya izin hingga pajak sama dengan usaha HPH dan HTI yang sejak awal berorientasi bisnis. “Padahal usaha restorasi baru stabil setelah sepuluh tahun,” katanya.

Di lapangan, gangguan terhadap usaha restorasi tidak merongrong kegiatan utama, yakni penanaman kembali, melainkan gangguan masyarakat. Manajer Camp dan Koordinator Teknis RRC Antonius Jonathan bercerita tiap musim pemilihan umum para calon memberikan janji yang muskil kepada konstituen. “Mereka menjanjikan bagi lahan di kawasan hutan produksi,” kata dia.

Menurut Jonathan, gangguan perambahan dan kebakaran jadi problem utama RRC menjaga kawasan. Pembalakan liar juga jadi ancaman serius. Sehingga biaya operasional perusahaan lebih banyak tersedot untuk patroli dan pengamanan.

PT Karawang Ekawana Nugraha

Awalnya, anak usaha Asia Pulp and Paper ini mengajukan izin mengelola lahan bekas operasi PT Jaya Sentosa seluas 8.300 hektare di Simpang Heran Beyuku, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, untuk menyuplai air bagi pabrik kertas PT Sinar Mas. Kawasannya berupa rawa yang tergenang air sedalam 30 sentimeter dengan belukar tua seluas 5.614 hektare, belukar muda hampir 2.000 hektare, dan sisanya lahan terbuka.

Karena tujuan itu, pemerintah menggolongkan PT Karawang sebagai usaha restorasi menyelamatkan aset sendiri setelah izinnya terbit pada 2014. Menurut Kepala Operasional Urip Wiharjo tujuan awal itu buyar karena hutan rawa itu tak layak dibangun gedung. “Tiang pancang sampai lima saja masih ambles,” katanya.

Karena gagal mewujudkan tujuan itu, fokus restorasi PT Karawang kini berupa konservasi gajah karena daerah itu menjadi jalur perlintasan hewan besar ini. Dari survei awal ada sekitar 3.000 ekor gajah dengan daya jelajah areal 16.000 hektare. Pendanaan untuk mengelola kawasan ini sepenuhnya ditanggung APP Group.

Gajah di kawasan restorasi PT Karawang Ekawana Nugraha di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

PT Kawarang, kata Urip, tengah mengembangkan ekowisata gajah di areal konsesi mereka, ekowisata rawa, kanal dan sungai, serta pemanfaatan getah jelutung dan pulai. “Ada juga usaha agrosilvofishery,” kata Urip.

Jika restorasi PT Karawang berhasil mengembalikan habitat biotik seperti semula, potensi karbon yang bisa diserap kawasan ini sebanyak 9,1 juta ton karbon per tahun. Jika harga per ton US$ 5, harga karbon yang bisa dijual sekitar US$ 839.763 per tahun. Tapi, menurut Urip, usaha karbon belum berjalan karena regulasinya belum ajek.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.