Surat dari Darmaga

  • Jalan Damai Mengelola Hutan

    Tanpa pelibatan masyarakat setempat, sudah dapat dipastikan bahwa berbagai persoalan di hutan konservasi tidak dapat diselesaikan dengan tuntas.

  • Peran Buzzer dalam Kerusakan Hutan

    Sebuah solusi menjadi seolah-olah benar ketika kebijakan dan kegiatan berdasarkan konteks atau kondisi lapangan yang kita pikirkan, bukan masalah dari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Sudah saatnya kita mengusir buzzer di pikiran kita, karena seharusnya lebih mudah daripada mengenyahkan buzzer di luar sana.

  • Ilmu Kehutanan Ketinggalan Zaman?

    Harus kita akui ilmu kehutanan gagal membuat hutan kita lestari. Perlu paradigma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

  • Eulogi untuk KPK

    Eulogi untuk KPK, ketika akses terhadap sumber daya alam dibuka bersamaan dengan datangnya investor. Negara menyerahkan nasib rakyat kepada investor, sehingga selamanya hanya sebagai buruh.

  • Jebakan Institusional dalam Birokrasi Kita

    Ada beberapa pemimpin daerah yang berhasil keluar dari jebakan institusional yang mengurat-akar dalam birokrasi mereka. Prinsipnya melayani masyarakat.

  • Peran Ekonomi-Politik dalam Kutukan Sumber Daya Alam

    Ada korelasi terbalik antara keberlimpahan hutan sebagai kekayaan negara dengan ketidakadilan yang mendorong kekayaan warga negara. Korelasi terbalik ini semacam kutukan sumber daya alam.

  • Transformasi Politik Kehutanan di Jawa

    Proses sosial-politik di desa-desa sekitar hutan kawasan Perhutani memicu transformasi pendekatan pengelolaan hutan di Pulau Jawa.

  • 10 Etika Rimbawan

    Jika para rimbawan mampu melaksanakan beberapa etika saja dari kesepuluh etika ini, akan terjadi perubahan sikap mental yang mendasar di tingkat pengambil kebijakan dan juga berdampak nyata di masyarakat.

  • Neo-patrimonialisme dalam Birokrasi Kehutanan Indonesia

    Ekonomi-politik menumbuhkan neo-patrimonalisme dalam birokrasi kehutanan. Mereka yang menentukan pengelolaan hutan adalah mereka yang punya koneksi hingga kekuasaannya melampaui pemegang posisi formal di sebuah institusi.

  • Pangkal Soal Kerusakan Lingkungan

    Pangkal soal kerusakan lingkungan bisa sejak dalam prinsip berpikir, sebelum soal jauhnya jarak sosial antara pengambil keputusan dengan objek yang diputuskan.

  • Akar Masalah Sektor Kehutanan

    Ada lingkaran setan antara aturan dan perilaku pembuat keputusan yang saling mengunci yang membuat problem sektor kehutanan tak selesai bertahun-tahun. Perlu terobosan dalam regulasi dan inovasi dalam mengeksekusinya.

  • Terbit untuk Jadi Sejarah

    Majalah ini diterbitkan dengan semangat yang sederhana: menyebarkan informasi tentang hutan dan lingkungan dengan bahasa yang mudah dicerna. Rupanya tidak mudah.

  • Menyelesaikan Konflik Tanah: Dari mana Memulainya?

    Konflik tanah bukan akibat kelangkaan lahan atau meningkatnya populasi manusia, atau sekadar persoalan administrasi, tetapi akibat buruknya tata kelola dan korupsi, melalui politik dan kebijakan.

  • Trembesi vs Lidah Mertua: Mana Lebih Kuat Menyerap Polusi?

    Kelebihan dan kekurangan trembesi dan lidah mertua dalam menyerap polusi. Tak sepadan membandingkannya.

  • Perguruan Tinggi dan Kebajikan Publik

    Posisi para guru besar perguruan tinggi dalam kepentingan dan kebajikan publik (public virtue). Sebuah otokritik untuk kita renungkan.

  • Bisakah Industri Kehutanan Bangkit Lagi?

    Prasyarat jika industri kehutanan ingin kembali berjaya seperti elama 40 tahun sejak 1970.

  • Inovasi di Tengah Macetnya Birokrasi

    Kita melakukan kesalahan-kesalahan yang sama karena ada dogma dan logika bekerja yang bertahan puluhan tahun. Perlu pikiran yang terbuka pada terobosan dan inovasi.