Surat dari Darmaga

  • Ekologi Politik dalam Pembangunan Hutan

    Para rimbawan masih menganggap hutan semata biologi, bukan tentang manusia. Akibatnya, birokrasi dan tata kelola yang melahirkan korupsi tetap berkembang dalam mewujudkan hutan lestari.

  • Pohon Sebagai Identitas Nasional

    Beberapa negara memakai pohon sebagai lambang dan identitas nasional. Apa pohon nasional Indonesia?

  • Jazz dan Hutan Kita

    Catatan dari Darmaga Jungle Jazz 2013 Idang Rasjidi and his friends. Para musisi perlu berperan dalam mengingatkan pengelolaan hutan lestari.

  • Ekosida Sebagai Kejahatan Kelima

    Para rimbawan terkena bias kolonialisme yang menganggap hutan hanya bisa dikelola oleh para ahli hasil sekolah. Akibatnya adalah bencana lingkungan, ekosida, hingga pengusiran masyarakat adat dari tempat tinggal mereka di dalam rimba.

  • Mengapa Kita Membutuhkan Harimau

    Renungan Hari Harimau Sedunia: bukan mereka yang membutuhkan manusia, tapi kita yang membutuhkan harimau sebagai penyeimbang ekosistem. Jika harimau punah, hidup manusia akan bermasalah.

  • Lemahnya Proteksi Lingkungan dalam RUU Cipta Kerja

    Dalam omnibus law RUU Cipta Kerja ada kewajiban izin investasi berdasarkan risiko jenis usaha terhadap lingkungan. Banyak bolongnya.

  • Sapardi dan Perubahan Iklim

    Sajak Hujan Bulan Juni yang ditulis Sapardi Djoko Damono tentang hujan yang salah musim. Tentang ketabahan kasih sayang, juga pertanda pemanasan global.

  • Anthropause: Saat Manusia Jeda Menginvasi Alam

    Pandemi virus corona covid-19 mendorong anthropause: manusia jeda menginvasi alam. Jeda yang harus dibuat rutin agar ekosistem punya waktu memulihkan diri.

  • Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.

  • Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Solusi Mencegah Siklus Pandemi: Memuliakan Kehati

    Jika memeluk manusia kini bisa menularkan penyakit, memeluk pohon justru menghilangkan penyakit. Pentingnya memuliakan kehati (keragaman hayati) untuk mencegah siklus pandemi.

  • RUU Cipta Kerja: Peluang Korupsi dan Ketergantungan pada Investasi Asing

    John Locke mengatakan, “Di mana tidak ada hukum di situ tidak ada kebebasan”. Penyusun omnibus law RUU Cipta Kerja berbuat sebaliknya: hukum untuk mengekang masyarakat dan memberi kebebasan kepada investasi asing.

  • Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Otokritik untuk Para Ilmuwan

    Hegemoni kekuasaan akan memanipulasi ilmu pengetahuan dalam menelurkan kebijakan publik yang merusak lingkungan. Otokritik untuk para ilmuwan dan perguruan tinggi.

  • Mengapa Saya Mencintai Pohon?

    Kita acap abai oleh hal-hal sederhana yang menopang hidup kita. Misalnya, fungsi pohon yang menyediakan udara dan keindahan suara burung.

  • Etika Sains dan Politik Dalam Kebijakan Publik

    Ada tarik-menarik kepentingan dalam pembuatan kebijakan publik. Bagaimana ilmu etika menyelesaikannya?

  • Mengapa Bongku Petani Riau Dihukum?

    Hakim Pengadilan Bengkalis di Riau memakai tinjauan positivistik ketika menghukum Bongku bin Jelondan yang mengambil pohon akasia di lahan adat yang berada di konsesi perusahaan. Pasal yang menghukumnya ditolak hakim lain di Soppeng.

  • Kisah Kaum Tsamud yang Tak Mau Berbagi

    Al Quran menceritakan kisah kaum Tsamud yang dihukum akibat tak mau berbagi air dengan unta. Daerah subur itu kering akibat manusia tak peduli dengan mahluk lain.

  • Paradoks Kebijakan Publik

    Ada banyak paradoks dalam rencana kebijakan pemerintah dengan implementasinya di lapangan. Ada gagasan Kampus Merdeka tapi mahasiswa dan dosen yang menggelar diskusi di kampus malah diteror.

  • Pembahasan Hutan dalam Al Quran

    Tak banyak kata hutan dalam Al Quran. Hewan dan tanaman lebih banyak diceritakan dalam pemanfaatan oleh manusia, bukan bagian dari kosmologi yang sejajar.

  • Petani versus Negara + Korporat

    Tafsir hukum di Indonesia selalu menempatkan petani dan masyarakat adat dalam pengertian perambahan hutan negara dalam posisi yang lemah, meski aturannya imparsial.

  • Akankah Virus Corona Mengubah Cara Beragama Kita?

    Virus corona telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita beribadah dalam agama.

  • Mengapa Kita Membuat Aturan Lalu Melanggarnya?

    Banyak aturan banyak juga pelanggaran. Mengapa kita tak kapok membuat aturan untuk dilanggar?

  • Bagaimana Rasulullah Memanfaatkan Air

    Islam dan Rasulullah menempatkan adab memanfaatkan air sebagai sesuatu yang tinggi. Ia tak boleh jadi milik pribadi.

  • Runtuhnya Pendidikan Kita di Tangan Omnibus Law

    Dalam omnibus law RUU Cipta Kerja, masa depan pendidikan kehilangan falsafah. Pendidikan hanya dianggap komoditas, bukan fondasi budaya bangsa.

  • Arti Puasa adalah Mengistirahatkan Bumi

    Puasa tak hanya diwajibkan untuk umat Islam, tapi umat-umat sebelumnya. Makna puasa yang lebih jauh adalah mengistirahatkan bumi selain memberi jeda kepada tubuh kita.

  • Dilema Etis dalam Kebijakan Publik

    Keputusan politis acap dihadapkan pada dilema: keadaan yang hanya menyediakan dua pilihan baik atau dua pilihan buruk. Pandemi virus corona contohnya nyata dilema. Bagaimana cara mengatasinya?

  • Penghapusan SVLK: Dampak dan Risikonya Bagi Industri Kayu Indonesia

    Uni Eropa menyurati pemerintah meminta penjelasan soal peraturan penghapusan SVLK dalam perdagangan kayu. Bisa berujung boikot.

  • Sedikit Puasa Banyak Sampahnya

    Produksi sampah tiap Ramadan selalu naik. Saatnya menahan nafsu untuk mengistirahatkan bumi.

  • 5 Inovasi Perguruan Tinggi Saat Pandemi

    Saat pandemi virus corona Covid-19 seperti sekarang, kampus dituntut berinovasi, baik di dalam perguruan tinggi maupun inovasi riset yang bermanfaat bagi orang banyak.

  • Hari Bumi di Tengah Pandemi

    Refleksi Hari Bumi: setelah peringatan pertama pada 22 April 1970, emisi malah naik, hewan liar makin merana, bumi memanas.

  • Peluang Korupsi dari Penghapusan SVLK

    Industri selalu ingin monopoli dengan melemahkan kekuatan politik dan institusi negara. Penghapusan SVLK dalam industri kayu bisa jadi model membuat peluang korupsi.

  • Kopi: Minuman Sufi yang Terancam Pemanasan Global

    Kopi adalah minuman para sufi untuk menemani dzikir hingga larut malam. Pada 2080 diperkirakan tak akan ada lagi kopi yang tumbuh karena pemanasan global.

  • Virus Corona dan Hilangnya Keanekaragaman Hayati

    Hilangnya keanekaragaman hayati tak pernah dianggap sebagai kerugian negara sehingga tak masuk dalam kebijakan politik. Virus corona mesti jadi peringatan kita membuat rumus ekonomi.

  • Mengapa Tuhan Menciptakan Virus Corona?

    Virus, termasuk virus corona, dan mahluk renik sudah ada sebelum manusia ada. Bagaimana kita memperlakukan mereka?

  • Politik dan Birokrasi vs Ilmu Pengetahuan

    Kepentingan politik atau ilmu pengetahuan: mana yang akan menang dalam menentukan nasib kita? Hasil penelitiannya mengejutkan.

  • Dunia Setelah Virus Corona

    Virus-virus baru muncul seiring kenaikan emisi karbon akibat pembakaran energi fosil setelah Revolusi Industri. Dunia setelah virus corona akan bertambah pekat.

  • Perubahan Iklim Dalam Al-Quran

    Al-Quran sudah mengingatkan bahaya perubahan iklim dan pemanasan global. Virus corona Covid-19 menghentikan aktivitas manusia yang membuat alam kembali pulih.

  • Belajar dari Inisiatif-Inisiatif Lokal

    Para pemuda di di Komunitas Wana Paksi Kulonprogo menyelamatkan burung dari kejaran bedil para pemburu. Inisiatif bertemu dengan kepedulian dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

  • Awas! Korupsi di Masa Krisis Corona

    Sejarah membuktikan, di masa krisis, korupsi cenderung meningkat akibat kekacauan karena institusi negara yang lemah dan kepercayaan publik jatuh ke titik rendah. Coruvirus.

  • Earth Hour, Waktunya Mensyukuri Bumi

    Di dalam Al-Quran, kata bumi disebut sampai 444 kali dengan konotasi yang positif. Earth Hour momen kita mensyukuri bumi dan memberinya hak sejenak bernapas lebih lapang.

  • Benarkah Virus Corona Bukan Senjata Biologis?

    Ada debat di kalangan peneliti virus tentang kemungkinan virus corona sebagai senjata biologis. Sejauh mana klaim ini benar dan separah apa penyangkalannya?

  • Konservasi untuk Alam dan Masyarakat

    Konservasi berkeadilan tak hanya mengutamakan aspek ekologi, tapi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitarnya. Pencapaian kita adalah mewariskan alam yang utuh kepada generasi mendatang.

  • Seandainya Pemanasan Global Digolongkan Pandemi

    Dunia mengenal pandemi akibat wabah sehingga dunia bersatu melawan virus dan penyakit. Mengapa perubahan iklim dan pemanasan global tak dianggap serupa?

  • Virus Corona: Buah Kita Merusak Bumi

    Virus, termasuk corona, menginfeksi manusia karena hewan yang menjadi inangnya kehilangan habitat. Gaya hidup manusia harus berubah.

  • Cara Rasulullah Menangkal Wabah

    Virus corona bukan tentara Allah karena ia buah dari perubahan alam. Menghadapi wabah, Rasullullah sempat menganjurkan lockdwon dan para ilmuwan muslim memakai logika sains.

  • Bisakah Kita Mewariskan Keindahan Alam?

    Pertanyaan yang menuntut kita segera mengubah gaya hidup yang boros energi, mewah, mahal, dan tak bertanggung jawab kepada alam. Sumber daya adalah kekayaan yang terbatas.

  • Mereka yang Harus Kita Bela dalam Pembangunan

    Aturan dan cara kerja birokrasi, yang ditopang oleh kesimpulan ahli, acap tutup mata pada masalah pokok munculnya kemiskinan: hak dan akses terhadap sumber daya alam. Merekalah yang harus kita bela dalam pembangunan ekonomi.

  • Minimalisme: Konsep Baru Menjaga Lingkungan

    Dalam agama Islam, minimalisme disebut zuhud. Hidup secukupnya tak hanya memberi kebahagiaan, tapi juga menjaga lingkungan.

  • Omnibus Law Sudah Berjalan di Industri Kehutanan

    Kesalahan utama pemerintah dalam menyusun omnibus law adalah menganggap bahwa melonggarkan berbagai peraturan akan meningkatkan investasi. Padahal, ia menuntut prasyarat—yang luput disediakan sebelum membuat peraturan omnibus.

  • Arah Omnibus Law: Amendemen Konstitusi?

    Paket RUU omnibus law merupakan batu loncatan dan dalih yang sangat baik, tetapi kurang elegan, menuju amendemen konstitusi kelima. Peserta aksi #GejayanMemanggil perlu tahu ini.

  • Benarkah Kiamat Akan Datang?

    Rasulullah SAW tidak mengajarkan kita sibuk menebak-nebak hari kiamat, sudah dekat atau masih jauh. Beliau mengajarkan kita untuk sibuk mencegah terjadinya anomali alam.

  • Bahaya RUU Cipta Kerja

    Bahaya RUU Cipta Kerja karena ia tak menjangkau masalah pokok dalam bisnis Indonesia: korupsi dan paradoks polusi yang menciptakan transaksi gelap antara negara dengan swasta. Masih ada kesempatan memperbaikinya di DPR.

  • Kesadaran Beragama dan Sedekah Lingkungan

    Naiknya kesadaran beragama semestinya diikuti dengan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan. Konsep sedekah lingkungan adalah meringankan orang lain yang menderita akibat kerusakan alam.

  • Strategi Konservasi di Era Digital

    Di era digital, perlu strategi komunikasi agar konservasi menjadi literasi publik. Saatnya dua arah.

  • Absennya Gagasan Kelestarian dalam Omnibus Law

    Keberlanjutan, kelestarian, sustainability adalah mantra baru dalam pembangunan. Apakah omnibus law mencerminkan faktor-faktor pendukungnya?

  • Kesalahan-kesalahan Berpikir dan Problem Etis RUU Cipta Kerja

    Selain mengandung banyak kesalahan berpikir, Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja, omnibus law untuk mendongrak investasi, juga mangandung banyak problem etis berupa konflik kepentingan.

  • Hukum Memelihara Burung

    Bolehkah memelihara dan menangkarkan burung? Keadaan bumi dulu dan sekarang sudah lain.

  • Dokter Rosa dan Keluarga Besar Konservasi

    Konservasi membutuhkan kolaborasi dan nilai-nilai sebuah keluarga besar. Bahkan satwa liar harus dianggap bagian dari keluarga.

  • 10 Ancaman Omnibus Law Terhadap Lingkungan

    Setidaknya ada 10 hal yang menjadi proteksi lingkungan dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dihapus di omnibus law RUU Cipta Kerja. Bisa tak terkontrol.

  • Seriuskah Pemerintah Melindungi Gambut?

    Dua kebijakan tentang gambut dan HTI pada 2019 mereduksi fungsi lindung ekosistem gambut. Tak sedikit gambut yang berada dalam areal konsesi.

  • Konsep Islam Mengatur Hubungan Manusia dan Tumbuhan

    Meski manusia dinyatakan sebagai mahluk paling mulia, tak berarti membuatnya superior dibanding alam, hewan, dan tumbuhan.

  • Kampus Merdeka Nadiem Makarim. Untuk Apa?

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menggagas “merdeka belajar: kampus merdeka”. Apa itu?

  • Virus Corona dan Semangat Meneruskan Hoaks

    Ada empat faktor yang membuat seseorang bersemangat meneruskan hoaks atau hoax atau kabar palsu. Di sekitar penyebaran virus corona bayak hoax dan mitos karena rujukannya tak jelas.

  • Mengapa Tak Banyak Ustaz Berceramah Soal Lingkungan?

    Tak banyak ustaz atau penceramah agama menyinggung soal pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ada begitu banyak ayat yang melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi, merusak laut dan daratan, atau berbuat kerusakan di ladang-ladang pertanian.

  • Bahaya Menutup Informasi

    Pemerintah membatasi publik mengakses informasi tertentu, terutama soal omnibus law. Gejala otoritarianisme?

  • KLHK-WWF Putus: Awan Mendung Konservasi

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Yayasan World Wide Fund (WWF) for Nature Indonesia perlu membuka pintu rekonsiliasi. Konservasi terlalu mahal untuk tak melibatkan banyak pihak.

  • Quo Vadis LSM Indonesia

    LSM di Indonesia hadir untuk menguatkan peran publik dalam mengontrol kebijakan negara dan turut serta dalam pembangunan. Masihkah seperti itu?

  • Perubahan Iklim dalam Omnibus Law

    Omnibus law bisa makin menegasikan lingkungan dan ekonomi, kemiskinan dan perubahan iklim. Padahal, Indonesia paling rentan terhadap dampak perubahan iklim akibat kemajuan teknologi dan aktivitas korporasi.

  • Politik Bencana vs Bencana Politik di Indonesia

    Bencana selalu terkait dengan kebijakan. Jepang yang alamnya rentan dan pusat bencana mengembangkan politik bencana sejak dari universitas.

  • Jalan Baru Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan

    Orasi ilmiah Rektor IPB Arif Satria pada 11 Januari 2020. Menawarkan jalan baru pembangunan ekonomi yang mengedepankan aspek lingkungan: melalui modernisasi ekologi dan ekologi politik.

  • 2030 Jakarta Tenggelam: Bagaimana Mencegahnya?

    Tahun 2030 diperkirakan Jakarta tenggelam karena banjir yang naik 180%. Bukan penataan sungai yang jadi penyebabnya, tapi penurunan muka tanah di utara

  • Dosa dan Nasib Planet Kita

    Jika semua negara mencapai target yang mereka tetapkan menurunkan suhu bumi 2 derajat Celsius di bawah level pra industrialisasi, suhu bumi akan tetap naik lebih dari itu. Mengerikan.

  • Omnibus Law: Bikin Warga Negara Jadi Linglung

    Para ahli dan aktivis kehilangan kata-kata kunci ketika membahas omnibus law. Serba sedikit informasi membuat mereka jadi linglung.

  • Investasi atau Lingkungan Hidup: Mana Lebih Penting?

    Proteksi lingkungan atau investasi, acap dibenturkan seolah keduanya bertentangan. pembaruan undang-undang, termasuk melalui omnibus law, untuk memecahkan persoalan investasi dan lingkungan memerlukan pergeseran paradigma.

  • 7 Buku Terbaik 2019 yang Saya Baca

    Ada banyak buku bagus dan penting selama 2019. Ini beberapa yang saya baca.

  • Latin qui custodiet ipsos custodes?

    Dari dua pertemuan para guru besar universitas di IPB Bogor dan UGM Yogyakarta. Kritik dan kecemasan mereka untuk pelbagai korupsi institusional yang makin menggurita.

  • Membaca Perubahan-Perubahan Besar

    Perubahan besar di dunia kehutanan dimulai pada 2015. Kita menyebutnya disrupsi.

  • Apabila Amdal Dihapus

    Seberapa bahaya jika Amdal atau dokumen analisis dampak mengenai lingkungan dihapus terhadap kualitas lingkungan dalam sebuah pembangunan? Benarkah ia menghambat investasi?

  • Senja di Kaimana

    Menikmati senja di Kaimana, Papua Barat, sambil memikirkan relasi pusat dan daerah yang tak kunjung mulus. Pejabat lokal perlu pendamping untuk menerjemahkan program dan kebijakan pemerintah pusat.

  • Perintah Jokowi dalam Kebijakan Kehutanan

    Pengambilan keputusan di dalam kebijakan-kebijakan publik, hampir selalu dipengaruhi oleh tiga unsur utama, yaitu cara berpikir (paradigma), kepentingan dan nilai-nilai yang dipakai untuk menentukan paradigma itu, serta jaringan yang mendukung kepentingan itu.

  • Manusia Unggul Penjaga Lingkungan

    Ada tiga ciri manusia unggul konservasi. Mereka yang antusias mereguk pengalaman baru melalui kerja ikhlas menjaga lingkungan.

  • Potensi Konflik Kepentingan Kabinet Jokowi

    Problem etik dalam kebijakan publik membuat tak efektifnya kebijakan di lapangan. Ada anak buah yang menolak melaksanakan pakta integritas karena tahu perintah melaksanakannya datang dari orang yang ia tahu korupsi juga.

  • 10 Cara Baru Mengelola Kawasan Konservasi

    Kerja sama dan melibatkan masyarakat adalah jangkar utama cara baru mengelola kawasan hutan dan konservasi dewasa ini dan masa mendatang.

  • Tantangan Kabinet Baru Jokowi-Maruf Amin

    Kabinet baru Presiden Jokowi mesti mengutamakan perlindungan terhadap air. Jika ia tumpas, kita semua yang terkena imbas.

  • Selamat Bekerja, Presiden Jokowi

    Presiden Jokowi seyogianya menerjemahkan visi pembangunan ekonomi dengan memproteksi hutan dan lingkungan. Pelibatan masyarakat lokal harus jadi poin penting.

  • Jalan Damai Mengelola Hutan

    Tanpa pelibatan masyarakat setempat, sudah dapat dipastikan bahwa berbagai persoalan di hutan konservasi tidak dapat diselesaikan dengan tuntas.

  • Peran Buzzer dalam Kerusakan Hutan

    Sebuah solusi menjadi seolah-olah benar ketika kebijakan dan kegiatan berdasarkan konteks atau kondisi lapangan yang kita pikirkan, bukan masalah dari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Sudah saatnya kita mengusir buzzer di pikiran kita, karena seharusnya lebih mudah daripada mengenyahkan buzzer di luar sana.

  • Ilmu Kehutanan Ketinggalan Zaman?

    Harus kita akui ilmu kehutanan gagal membuat hutan kita lestari. Perlu paradigma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

  • Eulogi untuk KPK

    Eulogi untuk KPK, ketika akses terhadap sumber daya alam dibuka bersamaan dengan datangnya investor. Negara menyerahkan nasib rakyat kepada investor, sehingga selamanya hanya sebagai buruh.

  • Jebakan Institusional dalam Birokrasi Kita

    Ada beberapa pemimpin daerah yang berhasil keluar dari jebakan institusional yang mengurat-akar dalam birokrasi mereka. Prinsipnya melayani masyarakat.

  • Peran Ekonomi-Politik dalam Kutukan Sumber Daya Alam

    Ada korelasi terbalik antara keberlimpahan hutan sebagai kekayaan negara dengan ketidakadilan yang mendorong kekayaan warga negara. Korelasi terbalik ini semacam kutukan sumber daya alam.

  • Transformasi Politik Kehutanan di Jawa

    Proses sosial-politik di desa-desa sekitar hutan kawasan Perhutani memicu transformasi pendekatan pengelolaan hutan di Pulau Jawa.

  • 10 Etika Rimbawan

    Jika para rimbawan mampu melaksanakan beberapa etika saja dari kesepuluh etika ini, akan terjadi perubahan sikap mental yang mendasar di tingkat pengambil kebijakan dan juga berdampak nyata di masyarakat.

  • Neo-patrimonialisme dalam Birokrasi Kehutanan Indonesia

    Ekonomi-politik menumbuhkan neo-patrimonalisme dalam birokrasi kehutanan. Mereka yang menentukan pengelolaan hutan adalah mereka yang punya koneksi hingga kekuasaannya melampaui pemegang posisi formal di sebuah institusi.

  • Pangkal Soal Kerusakan Lingkungan

    Pangkal soal kerusakan lingkungan bisa sejak dalam prinsip berpikir, sebelum soal jauhnya jarak sosial antara pengambil keputusan dengan objek yang diputuskan.

  • Akar Masalah Sektor Kehutanan

    Ada lingkaran setan antara aturan dan perilaku pembuat keputusan yang saling mengunci yang membuat problem sektor kehutanan tak selesai bertahun-tahun. Perlu terobosan dalam regulasi dan inovasi dalam mengeksekusinya.

  • Terbit untuk Jadi Sejarah

    Majalah ini diterbitkan dengan semangat yang sederhana: menyebarkan informasi tentang hutan dan lingkungan dengan bahasa yang mudah dicerna. Rupanya tidak mudah.