Laporan Utama | Juli-September 2018

Belajar Kepada Dosen Belanda

Mereka mahasiswa angkatan minus 15 hingga minus 1, sebelum IPB berdiri. Sudah ada plonco untuk pembinaan korps.

Kurnia Sofyan

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB

CERITA ini merupakan catatan dari masa lalu para alumni yang pernah mengenyam pendidikan dan  pengalaman menggeluti bidang pertanian dan kehutanan. Hal ini sejalan dengan perubahan yang terjadi dalam sejarah berdirinya lembaga pendidikan yang sekarang kita kenal sebagai Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kita banggakan ini. 

Pada tahun 1940, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian dengan nama Landbouw Hogeschool dan Richting Bosbouwkunde di Bogor. Selanjutnya pada 31 Oktober 1941 berubah menjadi Landbouw kunde Faculteit. Waktu iu dosennya semua dari Belanda. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) lembaga pendidikan ini sempat ditutup dan dibuka  kembali pada tahun 1947 dengan nama Faculteit Van Landbouwetenschap yang memiliki dua jurusan yaitu Jurusan Pertanian dan Jurusan Kehutanan.  

Pada tahun 1950, Faculteit Van Landbouwetenschap dirubah menjadi Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dengan tiga jurusan yaitu Jurusan Sosial Ekonomi, Jurusan Pengetahuan Alam dan Jurusan Kehutanan sampai tahun 1962. Mulai 1963 IPB terbentuk sebagai universitas yang mandiri dan lepas dari Universitas Indonesia.

Menurut data yang dikumpulkan Tim Penyusun Sejarah Fakultas Kehutanan IPB (Ervizal A.M. Zuhud dkk, 2013), profil mahasiswa yang lulus pada periode awal terbentuknya Fakultas Kehutanan adalah alumni periode 1948 dan 1949 sebanyak sepuluh orang dan pada periode 1950-1962 sebanyak 202 orang atau total sebanyak  212 orang lulusan.  Adapun alumni yang pertama adalah Ir. Mursaid Kromosudarmo (1951/1954). Dari sekian lulusan Fakultas Kehutanan saat itu, lulusan wanita pertama yaitu Ir. Roekmowati Sastromidjojo (1951/1957) diikuti Ir. Ade Damayanti Noor (1957/1963). Pada saat itu jumlah mahasiswa putri pada setiap angkatan antara 1-2 orang saja, selebihnya adalah mahasiswa putra.

Para alumni Fakultas Kehutanan IPB ini setelah lulus, mereka bekerja di berbagai bidang  dan sebagian besar dikegiatan Kehutanan  (Direktorat Jenderal Kehutanan), sebagian di Fakultas Kehutanan IPB sebagai dosen, dan sebagian lainnya di swasta. Apalagi pada saat itu, mulai muncul era kebangkitan pengusahaan hutan secara besar-besaran dan membuka lapangan pekerjaan di sektor Kehutanan. Menghadapi tantangan itu, dengan semangat dan idealisme yag dibentuk dibangku kuliahnya, mereka terjun dan berkiprah diberbagai sektor kehutanan. 

Alumni angkatan -1s/d-15 banyak yang berhasil dalam kariernya bahkan ikut membangun Kehutanan Indonesia. Kini banyak di antaranya yang sudah wafat atau dalam keadaan sakit antara lain Bapak Ir. Sadikin Djajapertjunda,M.Sc yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.  Namun semangatnya masih mengagumkan, bahkan pesan beliau “Jagalah hutan kita dan tulislah serta ceritakan berbagai hal tentang hutan Indonesia ke generasi yang akan datang menjadi tugas generasi muda.  Sehingga kebersinambungan antar generasi tak akan terputus dan hilang begitu saja karena angkatan per angkatan akan muncul mengemban tugas yang tidak pernah usai.

Di bidang pendidikan, angkatan -1 s/d – 15 berperan cukup signifikan, mulai dari pembentukan jurusan dari Fakultas Pertanian menjadi Fakultas Kehutanan yang mandiri, menyusun kurikulum yang tepat bagi mahasiswa, melengkapi peralatan, laboratorium dan lapangan praktek dari kondisi yang terbatas, peralatan yang tertinggal oleh kemajuan  teknologi harus mendidik calon-calon Rimbawan yang handal. Syukur Alhamdulillah dosen-dosen muda, generasi angkatan “plus” telah berhasil meneruskan perjuangan seniornya.

Pada awal-awal Fakultas Kehutanan IPB,  dosen-dosen yang mengajar adalah lulusan sendiri dibantu dosen-dosen dari luar negeri, yaitu dari Belanda, seperti Prof. Stenf, Prof. Gartner, Prof. Juta, Prof. Versteeges, Prof. Verkuyl, Prof. Beckin dan Diplom  Ing.Hollerworger. Dekan pada saat itu adalah Prof. Verkuyl dan kemudian diganti dosen-dosen dari Kentucky Contract Team, Amerika Serikat, antara lain: Prof. Swan, Prof. Snedegar dan Prof. Leisen.

Sementara dosen-dosen muda dikirim ke Amerika dan Kanada untuk mengambil Master dan Doktor. Dekan pertama adalah Ir. Kuswanda Widjajakusumah,MF (1963-1965), Ir. Rubini Atmawidjaja,M.Sc. (1966), Ir. Rahardjo S. Suparto (1996-1967), Ir. Rudy C. Tarumingkeng (1968-1969) yang selanjutnya dipegang oleh dekan-dekan generasi muda seperti Prof. Sadan Widarmana, Prof. Herman Haeruman Js. dll. 

Pada masa bersamaan salah satu alumni dari Kehutanan IPB, yaitu Prof. Ir. Soedarwono Hardjosoediro, menjadi Dekan Pertama Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta (1965).

Selain itu Fakultas Kehutanan IPB membina Universitas-Universitas lain atas permintaan Pemerintah untuk mengirim dosen-dosen senior menjadi Rektor di Universitas-universitas seperti :

  1. Prof. Rudy C. Tarumingkeng- Rektor Universitas Cendrawasih di Jayapura (1978-1982)
  2. Prof. Rubini Atmawidjaja – Rektor Universitas Cendrawasih di Jayapura (1986-1990)
  3. Prof. Soetrisno Hadi- Rektor Universitas Mulawarman (1980-1984)
  4. Prof. Darwis S. Gani- Rektor Universitas Sahid (1998-2002)

    Yang lainnya sebagai Dirjen, staf ahli dan tugas negara lainnya.

Inilah salah satu peran-peran yang membanggakan, karena alumni senior-senior Fakultas kita ini telah berhasil membawa nama baik Fakultas Kehutanan dan juga bagi  IPB sendiri.

Pada kesempatan ini, disampaikan cukilan masa lalu sebagai pembanding bagi angkatan- angkatan berikutnya.

Kebersamaan dan kebanggaan
Pembinaan korps rimbawan saat itu dilakukan melalui tahapan pembinaan “perpeloncoan” mulai dari tingkat IPB dan dilanjutkan di tingkat Fakultas. Saat itu mahasiswa kenal antar Fakultas dan inter Fakultas. Di tingkat fakultas, waktu itu dilakukan dalam bentuk gemblengan “camping” di hutan-hutan Jawa tengah dan Jawa Barat.

Masing-masing angkatan memiliki nama angkatan dan “bendera angkatan”.  Bendera inilah yang jadi rebutan antar angkatan. Nama-nama kebanggan tiap angkatan ternyata lucu dan penuh arti seperti Marabunta (-1), Tjokli (-2), Bagudung (-3). Masing-masing berusaha mencuri dan menyembunyikan bendera tersebut dari pemiliknya sehingga pada acara api unggun yang kehilangan akan kalang kabut. Tradisi lainnya, angkatan yang baru masuk wajib membantu di dapur, menyiapkan hidangan bagi seluruh peserta kemping yaitu senior (rakawira dan rakaputri) dan anggota angkatan lainnya. Apabila pagi-pagi terlambat bangun untuk apel ada hukuman sudah menanti antara lain naik pohon dan berkokok bagaikan ayam jantan membangunkan kita dan permainan lainnya.

Hal yang tidak pernah lepas dari ingatan kita setelah lulus kuliah, tidak ada dendam atau musuh, justru pertemanan sejati yang terbangun antar mereka. Bahkan sampai saat ini pun sering muncul dalam mimpi. Patut direnungkan apakah corpsgeast ini dapat bertahan sampai kapan dan perlu dibangun. Salah satu cara adalah yang sekarang kita lakukan: HAPKA dan silaturahim antar angkatan. Wahana untuk membangun keguyuban dan kebersamaan walaupun ada perbedaan- perbedaan antar kita.

Kesan selama kuliah, antara lain kekaguman pada guru/dosen yang mengajar kita Bapak/Ibu Dosen saat itu penuh dengan dedikasi dan paham dengan karakter mahasiswanya.  Mungkin karena waktu itu jumlah mahasiswa sedikit.

Salah satu yang tak pernah terlupakan, salah satu dosen  (alm. Ir. Mursaid Kromosudarmo) menjadi vaforit kami. Beliau kalau masuk ruang kuliah hanya membawa tempat rokok (karena beliau termasuk perokok berat dan belum ada larangan). Sambil sesekali menghisap rokok, beliau menjelaskan kuliahnya, menulis di papan tulis pakai kapur dan tidak pernah membawa buku teks atau catatan apa pun 

Mahasiswa diharuskan menulis pada buku kuliah. Dan yang mengagumkannya adalah apabila buku catatan kita dicek dengan dengan buku catatan kakak kelas, isi tulisan persis seperti yang dikuliahkan beliau kepada kita. 

Lain lagi dosen yang satu ini. Apabila akan ujian, mahasiswa disuruh ke rumah beliau. Kami dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disiapkan, baru beliau menguji kita. Ujian dilakukan dengan bertanya soal kuliah. Yang ditanya mahasiswa yang biasa duduk paling ujung, kalau tidak dapat menjawab diteruskan kepada yang sebelahnya, terus sampai ke ujung terakhir kegiatan sampai soalnya habis. Tentunya yang duduk paling terakhir itu paling bagus nilai ujiannya karena dia sudah lebih siap. Apabila ada ujian lagi, mahasiswa berebut duduk untuk tidak kena paling awal. Bapak dosen tidak pernah mengubah posisi! Wah, susah.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.