RAWA gambut tropis adalah penyimpan karbon paling efisien. Ia mampu menyimpan dua kali lebih banyak karbon dibanding hutan biasa. Masalahnya, keberadaan gambut terus terancam oleh konversi lahan menjadi perkebunan atau pertanian.
Seperti namanya, gambut adalah rawa yang secara alamiah harus senantiasa basah dan lembab. Karena itu gambut tidak cocok untuk pertanian. Manusia lalu membuat kanal atau parit untuk mengeringkan lahan gambut agar layak ditanami. Dalam hal emisi, keberadaan kanal tak berpengaruh. Namun, studi terbaru mengungkap hal sebaliknya.
Berdasarkan studi di Scientific Reports pada 2025, Kuno Kasak, seorang profesor teknologi lingkungan di Universitas Tartu, Estonia, menemukan bahwa kanal di perkebunan kelapa sawit adalah penyumbang emisi metana yang signifikan.
Metana dari kanal tersebut menyumbang 10% dari total gas rumah kaca per hektare. Padahal, keberadaan kanal tersebut hanya mencakup tak lebih dari 4% luas total perkebunan.
Metana merupakan salah satu gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Walaupun menghilang lebih cepat di atmosfer dibanding CO2, metana jauh lebih berbahaya. Metana 20 kali lebih efektif memerangkap panas dibanding CO2. Selain itu, metana juga bertanggung jawab atas sepertiga dari kenaikan suhu global sejak Revolusi Industri.
Dalam penelitian itu, tim mengukur konsentrasi CO2, metana, dan dinitrogen oksida (NO2) di beberapa titik pada dua perkebunan sawit di lahan gambut Sarawak, Malaysia. Mereka juga menggunakan foto drone untuk menghitung luas area yang tertutup air.
Para peneliti mengamati bahwa pergerakan, atau fluks, karbon masuk dan keluar dari lahan gambut sangat rumit dan sulit diukur. Hal ini karena pelepasan dan penyerapan karbon bergantung pada faktor-faktor seperti suhu, kimia air, dan seberapa banyak bahan organik yang tersedia.
Namun, para peneliti melihat ada dua jenis fluks metana dari kanal. Pertama, aliran fluks difusif, yakni aliran metana yang stabil dan terus-menerus ke atmosfer. Aliran metana tersebut lebih mudah diprediksi dan dimodelkan. Kedua, fluks ebulitif, aliran pelepasan emisi metana dalam bentuk gelembung yang tiba-tiba. Jenis ini lebih bervariasi dan sulit dimodelkan.
Temuan ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa ada "kebocoran" karbon selama ini kita abaikan. Ini juga menjadi pengingat ada harga yang begitu besar begitu lahan gambut dikeringkan dan dikonversi.
Gambut terdiri dari lapisan padat bahan organik yang menumpuk selama berabad-abad. Lahan gambut yang berada dalam kondisi alami mampu menyimpan lebih dari 550 miliar ton karbon. Indonesia memiliki lahan gambut seluas 13,43 juta hektare, dengan estimasi simpanan karbon hingga 57,4 miliar ton, hampir setara produksi emisi seluruh dunia setahun.
Kini, hampir separuh lahan gambut Indonesia telah mengalami degradasi dan sebagian besar berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. Emisi lahan gambut yang terdegradasi dua kali lebih besar dibandingkan lahan gambut yang masih utuh, diperkirakan sebanyak 1,9 miliar ton setara CO2 per tahun.
Pemerintah telah berkomitmen merestorasi lebih dari 2 juta hektare lahan gambut sejak 10 tahun lalu. Masalahnya, restorasi gambut tak hanya soal penanaman pohon kembali, juga bagaimana menjaga air tetap berada dalam gambut.
Menjaga lahan gambut tetap alami bukan hanya soal mencegah kebakaran atau kehilangan keanekaragaman hayati. Tapi juga memastikan bahwa "gudang karbon" di bawah kaki kita tak berubah menjadi bom waktu yang menghancurkan masa depan iklim Bumi.
BERSAMA MELESTARIKAN BUMI
Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.
Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.
Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.
Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB
Topik :