Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 05 Januari 2026

Populasi Penyu Hijau Membaik

Status IUCN penyu hijau membaik dari yang terancam punah (vulnerable) menjadi risiko rendah (least concern).

penyu hijau (foto: unsplash.com/Sercan Jenskin)

TAHUN 2025 bisa dibilang sebagai tahun yang penuh tantangan. Suhu bumi yang memanas memicu pelbagai bencana alam di berbagai belahan dunia. Di tengah tantangan tersebut, beberapa kabar baik juga muncul. Salah satunya adalah membaiknya kondisi populasi penyu hijau (Chelonia mydas).

Penyu hijau, yang ditemukan di seluruh samudra di dunia, kini tengah pulih setelah puluhan tahun populasinya menurun. Menurut penilaian terbaru dari IUCN Red List, spesies ini telah “turun status”, dari yang sebelumnya “terancam” (endangered) menjadi “risiko rendah” (least concern).

Penyu hijau adalah spesies terbesar kedua dari tujuh spesies penyu laut dan memiliki distribusi geografis yang sangat luas. Mereka bersarang di lebih dari 80 negara dan menghuni perairan pesisir beriklim sedang hingga tropis di sekitar 140 negara.

Dulu, populasi penyu hijau diburu untuk dibuat sup penyu, telurnya diambil sebagai hidangan mewah, dan cangkangnya sebagai hiasan. Menurut IUCN, di sepanjang akhir abad ke-20, populasinya turun 48-67%. Walhasil, di tahun 1980-an, penyu hijau terdaftar sebagai spesies endangered.

Berkat upaya konservasi global selama hampir lima dekade, populasi penyu hijau naik sekitar 28% sejak tahun 1970-an. Berbagai upaya konservasi dilakukan, mulai dari melindungi telur dan melepaskan anak penyu di pantai, mengurangi bycatch, hingga perlindungan hukum yang melarang perdagangan dan penangkapan penyu hijau.

Indonesia menjadi area kunci keberlangsungan penyu hijau. Karena banyaknya jumlah pulau, garis pantai yang luas, padang lamun, dan terumbu karang, Indonesia menyediakan tempat bersarang dan mencari makan yang penting bagi penyu hijau. Indonesia merupakan rumah bagi penangkaran penyu hijau terbesar yang tercatat di Asia Tenggara, yaitu di Kepulauan Berau, Kalimantan Timur.

Meski begitu, penilaian terbaru juga memperingatkan bahwa populasi penyu hijau saat ini masih jauh di bawah angka historisnya. Naiknya populasi penyu hijau tak terjadi secara merata di semua tempat.

Di Samudra Hindia Utara, penyu hijau masih dikategorikan sebagai “rentan punah” (vulnerable). Di Pasifik Selatan bagian tengah, spesies ini masih dikategorikan sebagai “terancam punah” (endangered). Sementara di Atlantik Utara, ia terdaftar sebagai “risiko rendah” (least concern).

Hingga hari ini, penyu hijau masih menghadapi ancaman serius. Mulai dari penangkapan ilegal, penangkapan tak sengaja (bycatch), hingga kerusakan pantai dan area pemijahan akibat pengembangan area pesisir yang tak berkelanjutan. Belum lagi dampak dari perubahan iklim yang sedikit lebih akan menambah tekanan pada populasi penyu hijau.

Selain itu, keanekaragaman hayati global masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan. IUCN menemukan 61% spesies burung berkurang populasinya—meningkat dari 44% pada tahun 2016. Dari 11.185 spesies burung yang dinilai, 11,5% di antaranya terancam, terutama akibat deforestasi dan degradasi habitat.

Beberapa spesies juga mengalami perubahan status, menjadi lebih dekat dengan kepunahan. Khususnya bagi spesies yang ada di Arktik, seperti anjing laut Arktik, yang semakin terancam. Sebab di Arktik, pemanasan global empat kali lebih cepat dibanding bagian dunia lainnya.

Ikuti percakapan tentang keanekaragaman hayati di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Bagikan

Komentar



Artikel Lain