SOWA Rigpa terancam punah. Ilmu penyembuhan tradisional Tibet yang telah digunakan selama lebih dari 2.500 tahun lamanya itu kekurangan tanaman herbal.
Metode penyembuhan Sowa Rigpa menggunakan pendekatan spiritual, diet, gaya hidup, dan tanaman herbal. Tanaman herbal yang biasa digunakan dalam pengobatan tersebut perlahan lenyap dimakan zaman.
Salah satunya kutki, Picrorhiza scrophulariiflora, untuk mengobati demam, batuk, dan masalah hati. Dulu, dalam sekali panen, para tabib bisa mendapat kutki seberat 40 kilogram. Kini, untuk mendapatkan 5 kilogram pun para tabib di Tiongkok sudah kesulitan mendapatkannya.
Berdasarkan tinjauan yang diterbitkan Frontiers in Pharmacology, dari 367 spesies tanaman obat yang diteliti selama dua dekade terakhir, habitat yang sesuai bagi 106 spesies telah berkurang. Sebanyak 94 spesies bergeser ke lokasi baru dan 33 spesies sisanya mulai punah.
Di Panama, para tabib kesulitan menemukan tanaman herbal untuk persalinan. Di Himalaya, para tabib harus mendaki lebih tinggi untuk menemukan tanaman obat yang dulu bisa mereka temukan di lembah bawah. Di Ghana, tanaman obat yang biasa mereka gunakan untuk pertolongan pertama ludes diterpa kekeringan.
Pola iklim yang berubah juga telah mengubah senyawa tanaman obat. Perubahan profil fitokimia, senyawa kimia yang dihasilkan tumbuhan, terjadi karena tanaman kepanasan, kekeringan, atau kekurangan kadar karbon dioksida.
Di Prancis dan Italia, lavender dan rosemary musnah akibat musim panas yang terik dan kering. Komponen kimianya berubah. Kadar linalool pada dua tanaman tersebut menurun. Sedangkan kadar kamper naik.
Pada pennyroyal (Mentha pulegium), tanaman herbal yang kaya akan antioksidan dan antiradang, kadar senyawa kimia obatnya berkurang akibat suhu tinggi. Sedangkan pada pohon zaitun (Olea europaea), beberapa senyawa kimia meningkat karena kekeringan, tapi yang lain berkurang.
Tanaman obat juga bergeser tempat. Mereka cenderung tumbuh di tempat yang lebih tinggi dan lebih dingin. Di wilayah Himalaya, tanaman obat berbunga lebih lambat atau lebih awal.
Krisis tanaman obat bukan hanya soal hilangnya spesies. Juga hilangnya pengetahuan masa lalu dan ikatan budaya antara masa lalu dengan masa depan.
Tanaman-tanaman obat telah dianggap lebih dari sekedar bahan dalam ramuan. Di beberapa budaya, tanaman obat menjadi bagian dalam jalinan spiritual dan budaya. Seperti di Ghana, beberapa nama kota dan nama belakang diambil dari nama pohon dan tanaman.
Obat-obatan modern yang muncul dalam 25 tahun terakhir, lebih dari 70% berasal dari senyawa alami. Di Indonesia, tanaman obat dan pengobatan herbal adalah bagian dari warisan budaya yang panjang. Indonesia dikaruniai lebih dari 30.000 jenis tanaman, 6.000 sampai 7.000 spesies belum diketahui memiliki khasiat medis.
Ikuti percakapan tentang tanaman obat di tautan ini
BERSAMA MELESTARIKAN BUMI
Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.
Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.
Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.
Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB
Topik :