Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 06 Januari 2026

2025: Deforestasi Turun, Bencana Iklim Naik

Secara angka, deforestasi turun. Namun, proyek pembangunan dan ekstraksi sumber daya alam merambah hutan alam.

Hutan hujan tropis (foto: unsplash.com/David Clode)

TAHUN 2025 menunjukkan dinamika kontras di hutan tropis dunia. Di satu sisi, kerusakan hutan terus berlanjut. Degradasi dan kebakaran hutan masih terjadi. Proyek ekstraksi skala besar terus berjalan. Namun, berita baiknya, laju deforestasi mulai melambat, walau masih jauh dari target Zero Deforestation 2030.

Indonesia mencatat capaian positif dengan laju deforestasi yang turun 11% dibanding 2023, sebuah tren yang baik dibanding negara tropis lain. Indonesia lebih siap siaga dalam hal deteksi dini dan koordinasi pemadaman kebakaran hutan meski dihantam El Nino pada 2023.

Di saat sama, kerentanan Indonesia terhadap kebakaran tetap tinggi. Ratusan ribu hektare lahan gambut terbakar, sebagian besar ada di dalam konsesi industri di lahan gambut yang sudah dikeringkan.

Kerentanan hutan Indonesia makin diperparah di akhir tahun. Siklon Senyar, badai langka yang terbentuk di Selat Malaka, memicu banjir bandang dan tanah longsor di sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Setelah bencana, pemerintah Indonesia mengakui bahwa tata kelola hutan yang buruk memperparah dampak bencana tersebut. Sementara, sebagian orang menilai bahwa konversi lahan untuk pertambangan, hutan tanaman industri, dan perkebunan kelapa sawit sebagai pendorong utama dari rusaknya hutan Sumatera. Situasi ini mempertegas, bahwa deforestasi tak hanya berdampak soal emisi dan hilangnya keanekaragaman hayati, tapi juga soal keselamatan manusia.

Berita baiknya, pemerintah Indonesia menegaskan kembali ambisinya menjadikan hutan sebagai penyerap karbon bersih dan berjanji mengakui 1,4 juta hektare hutan adat pada akhir dekade ini.

Hutan yang dibabat untuk menjadi perkebunan (foto Yayasan Pusaka Bentala Rakyat)

Pengakuan hutan adat masih tertinggal dibanding klaim wilayah adat yang sudah dipetakan. Di Papua dan bagian utara Kalimantan, proyek food estate, bendungan, dan kawasan industri merambah masuk ke hutan hujan primer memicu konflik lahan. Atau di Raja Ampat, pulau-pulau di sekitarnya dirambah oleh pertambangan nikel.

Dinamika juga terjadi di Hutan Amazon. Data menunjukkan penurunan angka penebangan hutan sebesar 11%. Angka tersebut jadi yang paling rendah dalam sebelas tahun terakhir.

Namun, kondisi kekeringan parah di 2024 telah memberi tekanan ekologis yang luas. Kebakaran menyumbang sekitar 60% dari kehilangan hutan primer di Amazon, Brazil. Untuk pertama kalinya, emisi dari kebakaran lebih tinggi dibanding emisi deforestasi. Hal ini menunjukkan, Hutan Amazon dalam kondisi rentan akibat akumulasi kerusakan selama puluhan tahun.

Di hutan hujan cekungan Kongo, deforestasi terus naik. Di 2024, kehilangan hutan primer mencapai rekor tertinggi. Penebangan hutan mulai merambah ke tempat-tempat yang belum pernah terjamah.

Secara angka, laju deforestasi hutan hujan menurun. Namun, komitmen dan aksi nyata dari negara-negara dunia untuk memulihkan hutan hujan perlu ditingkatkan.

Di sisi lain, pasar karbon yang diharapkan jadi pendorong menjaga hutan terlihat lesu. Setelah beberapa tahun tumbuh pesat, aktivitas pasar karbon melambat. Fokus mulai bergeser dan kembali ke pertanyaan mendasar: apakah kredit karbon benar-benar memberi manfaat iklim?

Walhasil, pembelian kredit karbon jadi lebih selektif. Kredit karbon yang dijual harus benar-benar dipantau secara transparan, pengambilan data yang ketat dan sesuai kaidah, serta terverifikasi secara teliti. Alhasil, kredit karbon yang dijual memang benar-benar kredibel dan memberi manfaat iklim.

Pada akhir 2025, dunia masih terus menyuarakan narasi perlindungan. Ambisi zero-deforestation masih disuarakan. Walau kemajuan memang nyata, namun tidak merata, dan kesenjangan antara janji kebijakan dengan kondisi aktual di lapangan tetaplah lebar. Pada saat yang sama proyek infrastruktur, ekstraksi, dan energi terus merambah ke bentang alam hutan. 

Ikuti percakapan tentang deforestasi di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Topik :

Bagikan

Komentar



Artikel Lain