Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 14 Juni 2022

Perdagangan Telur Penyu Tak Kunjung Reda

Petugas BKSDA Sumatera Selatan menggagalkan penyelundupan dan perdagangan telur penyu. Ancaman kepunahan penyu datang dari segala penjuru.

KAPAL nelayan itu baru saja merapat di pelabuhan Pulau Bangka, pada saat subuh, Rabu pekan lalu. Belum sempat para awaknya menurunkan barang bawaan, sejumlah polisi air dan udara bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan menyergap dan memeriksa muatan kapal itu.

Para petugas menemukan 2.287 butir telur penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dalam kapal itu. Dari interogasi awak kapal, petugas mendapat informasi ribuan telur itu hendak diselundupkan dari Pulau Gelasa, pulau kecil di timur pulau Bangka, untuk diperdagangkan ke luar pulau.

Menurut Ujang Wisnu Barata, Kepala BKSDA Sumatera Selatan, permintaannya telur penyu cukup tinggi. "Biasanya untuk obat kuat,” kata Ujang ketika dihubungi pada Senin sore.

Petugas BKSDA mendapatkan informasi penyelundupan telur penyu sejak akhir tahun lalu. Para petugas pun menelisik para pelakunya dan modus penyelundupan memakai kapal. Kasus penyelundupan pekan lalu kini ditangani polisi, sementara petugas BKSDA melanjutkan penelusuran untuk menemukan rantai perdagangan telur penyu dari Bangka Belitung ini.

Seorang pelaku telah menjadi tersangka. Petugas BKSDA dan polisi memakai pasal 21 dan 40 Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ancaman hukuman dua pasal ini lima tahun bui dan denda Rp 100 juta. Para ahli lingkungan sudah lama meminta pemerintah merevisi sanksi pidana ini dengan memasukkan konsep strict liability karena perburuan satwa liar mengancam lingkungan secara serius.

Apalagi, semua spesies penyu yang ada di bumi terancam punah. Secara alamiah, hanya sedikit penyu yang bertahan hidup hingga dewasa. Telur mereka kerap diincar biawak, tikus, atau spesies pemangsa lainnya. Telur-telur penyu juga terancam gagal menetas jika terjadi banjir di pantai atau hujan deras. Ketika menetas, dan bayi penyu merangkak di pasir menuju lautan, elang dan camar siap memburu mereka. Bahkan ketika sampai di air pun, tukik-tukik kecil ini sering dimangsa ikan-ikan yang lebih besar. Dengan hidupnya yang rentan itu, penyu kian tertekan dengan perburuan dan perdagangan telur penyu secara gelap.

Kini ancaman hidup penyu juga datang dari pemanasan global. Jenis kelamin penyu ditentukan oleh pasir pantai tempat mereka menetaskan telur. Jika suhu lebih panas dari yang seharusnya, seluruh telur yang menetas akan menghasilkan penyu berkelamin betina. Kenaikan muka air laut juga bisa mengakibatkan hilangnya habitat penyu. Penyu bayi yang menjadi dewasa akan kembali ke tempat kelahiran mereka untuk menetaskan telur yang dikandungnya.

Aktivitas manusia seperti penangkapan penyu untuk mengambil karaas, terlindas kapal, atau penyelundupan telur memperbesar ancaman kepunahan spesies yang bertahan sejak akhir zaman Jura atau sekitar 145-208 juta tahun yang lalu ini. Seekor penyu sisik dewasa biasa menghasilkan 50-200 butir telur. Tapi dari ribuan telur yang ada di pantai, hanya belasan saja yang bisa mencapai usia dewasa.

Penyu sisik saat ini berstatus kritis (critically endangered). Populasinya di Samudra Pasifik turun 95% dan 78% di Samudra Hindia. Di Indonesia, penyu ini sangat mudah ditemukan di perairan Bangka dan Belitung.

Penyu sisik mudah dikenali dari bentuk kepalanya yang memanjang. Rahangnya juga cukup besar dan memiliki mulut yang meruncing seperti paruh burung. Mulut yang meruncing ini memudahkan mereka untuk menangkap ikan-ikan kecil yang hidup di terumbu karang.

Ujang Wisnu Barata menjelaskan bahwa perairan Kepulauan Bangka dan Belitung merupakan wilayah jelajah penyu sisik. Pantai-pantai berpasirnya kerap menjadi tempat penyu sisik bertelur. Kadang-kadang penyu belimbing (Dermochelys coriacea) juga bertelur di sini tapi tidak sesering penyu sisik. Sebab, area migrasi penyu belimbing lebih jauh ketimbang penyu sisik.

Menurut Ujang, upaya konservasi oleh BKSDA Sumatera Selatan fokus ke jenis penyu sisik dengan mengedukasi masyarakat di Kepulauan Bangka dan Belitung tentang pentingnya penyu bagi ekosistem laut. Penyu merupakan pelindung ekosistem laut. Hewan yang memakan pucuk lamun ini bisa membersihkan sedimen sehingga habitat lamun dan terumbu karang tetap terjaga.

Penyu juga mengkonsumsi berbagai jenis spons laut yang dapat mengontrol komposisi dan distribusi organisme tersebut. Ledakan spons laut karena kehabisan pemangsanya menjadi ancaman terumbu karang. Terumbu karang adalah rumah bagi pelbagai jenis ikan. “Kami juga rutin menggelar patroli untuk mencegah perburuan penyu,” kata Ujang.

Sebanyak 2.287 butir telur penyu sisik yang diselundupkan itu saat ini telah dibawa dan dikuburkan di pasir pantai kawasan hutan lindung Bangka Island Outdoor, Sungailiat, Kabupaten Bangka. Telur-telur ini akan ditetaskan secara alami.  Saat ini sejumlah petugas BKSDA Sumatera Selatan berjaga di pantai itu untuk memastikan tukik yang menetas aman mencapai laut.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain