Laporan Utama | April-Juni 2019

Menengok Mastaka Citarum

Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

Dewi Rahayu Purwa Ningrum

Alumni Fakultas Kehutanan IPB

HANYA perlu waktu 15 menit dengan joging untuk mengelilingi danau Cisanti—hulu sungai Citarum di Kecamatan Kertasari, Bandung, yang membentang membelah Jawa Barat sepanjang 269 kilometer ke utara hingga Muara Gembong di Bekasi. Panjang keliling sisi danau seluas lima hektare ini tiga kilometer, dengan joging trek yang resik dengan pagar dan hijau vetiver.

Di bawah pohon Tarum (Indigofera tinctoria), mata air Citarum menggelegak. Ada tujuh mata air yang memasok air ke situ Cisanti. Selain mata air Citarum ada mata air Cikahuripan, Cikolebres, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti. Dipandu Prajurit Satu Asep Sopian, saya dan rombongan redaksi Forest Digest mengunjungi mata air itu pada 20 April 2019 subuh di bawah suhu 12 derajat.

Kami tiba di Cisanti tengah malam. Setelah menaruh tas di wisma, kami menuju situ melalui jalan konblok selebar satu meter. Bulan separuh menggantung di langit, menyembul di sela daun-daun eukaliptus yang menjulang. Langit cerah sehabis hujan yang sebentar. “Kita stargazing, yuk,” kata Irma Hutabarat, mantan penyiar televisi yang kini mengabdikan diri untuk perbaikan Citarum.

Tak ada bintang di langit yang menyembulkan bulan. Jalan agak gelap tapi rapi. Dari cahaya lampu senter yang dibawa Prajurit Asep, air danau berkilauan di bawah kaki Gunung Wayang yang menjulang. Ia membawa kami ke mata air pertama, mata air Cikahuripan. “Mohon membuka alas kaki,” kata Asep ketika kami tiba di pintu masuk petilasan.

Cihakuripan berada di area makam yang dipercaya menyimpan jasad Dipati Ukur. Bupati Priangan ini menyepi ke Cisanti ketika diuber pasukan Sultan Agung Mataram karena gagal memberontak kepada VOC di Batavia pada 1628. Bupati dengan nama asli Wangsanata itu menjadikan Cisanti sebagai area persembunyian hingga ia tertangkap pasukan Mataram.

Pintu masuk situ Cisanti, hulu sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Bandung, Jawa Barat (Foto: Firli A. Dikdayatama)

Cerita lain datang dari Atep, juru kunci mata air Kahuripan. Menurut laki-laki 40 tahun itu, selain Dipati Ukur, di bawah mata air itu terdapat petilasan Prabu Siliwangi, Raja Sunda Galuh yang memerintah pada 1482-1521. “Menurut cerita para orang tua mata air ini tempat mandinya Prabu Siliwangi,” kata Atep.

Dalam sorot lampu senter, pusat mata air tempat Prabu Siliwangi mandi itu menggelegak menyemburkan air murni dari balik pasir dan batu padas, tembus ke dasarnya yang putih. Ikan besar dan kecil berenang di sekitarnya yang menyerbu kaki siapa saja yang menyentuh dasar mata air itu.

Tujuh mata air di Cisanti berada di sekeliling danau. Hanya Citarum, Cisanti, dan Cikahuripan yang berada dalam satu lokasi, hanya terpisah dua meter, persis berada di bawah pohon Tarum yang akar-akarnya menjuntai, kokoh, dan tertanam jauh ke dalam air yang seperti sudah ada sejak sebelum Masehi.

Di antara mata air Citarum dan Cikahuripan tergeletak batang pohon Tarum yang sudah menjadi fosil, mengeras dan menghitam seperti batu. Menurut Irma Hutabarat, para peneliti yang menelaah karbon pohon itu memperkirakan usianya kira-kira dua abad.

Jalur joging di sekeliling Situ Cisanti, hulu sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Bandung, Jawa Barat (Foto: Firli A. DIkdayatama)

Situ Cisanti berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut. Orang Bandung menyebutnya “mastaka Citarum” atau “kepala Citarum” atau “hulu Citarum”. Terletak di Desa Tarumajaya, danau Cisanti kira-kira 60 kilometer dari pusat kota Bandung. Untuk mencapainya bisa melewati Ciparay. Masuk ke perkebunan masyarakat yang berkabut dengan jalan yang berkelok-kelok, pintu masuk Cisanti rimbun oleh eukaliptus.

Ada pos yang dijaga tentara di antara deretan warung dan musala. Setiap pengunjung yang ingin masuk ke area danau membayar tiket Rp 5.000 per orang. Di hari libur itu, Cisanti penuh oleh rombongan turis yang memakai bus atau mobil keluarga dan sepeda motor, juga rombongan anak-anak sekolah dasar yang sedang belajar pengenalan pohon.

Di pintu gerbang Cisanti itu, sejak dikunjungi Presiden Joko Widodo pada Februari 2018, dibangun satu aula, dua wisma, toilet, dan jalan inspeksi ke arah situ yang disemprot air untuk membersihkan serasah dan daun yang gugur tadi malam. Sejak kedatangan Jokowi itu pula, menurut Asep Sopian, setiap hari ia dan satu peleton tentara bekerja mengangkut eceng gondok dan mengangkat sampah dari dasar danau di kedalaman 4 meter.

Kilometer 0 Citarum atau situ Cisanti di Desa Tarumajaya, Bandung, Jawa Barat (Foto: Firli A. Dikdayatama)

Asep bercerita para tentara yang ditugaskan di Cisanti menemukan segala jenis sampah di dasar danau. Selain plastik dan serasah, di dasar danau juga banyak ditemukan kaos dan celana dalam. Pakaian itu berasal dari peziarah makam Dipati Ukur dan petilasan Prabu Siliwangi. Masyarakat sekitar percaya bahwa Dipati Ukur dikubur dekat pohon Tarum di atas mata air Kahuripan.

Jika mandi dan berendam di sana sepanjang malam, seperti yang dipraktikkan Prabu Siliwangi, keberuntungan hidup akan mampir. Setelah beres, mereka harus buang sial dengan melucuti pakaian dan melemparkannya ke tengah danau. Karuan saja, ritual masyarakat yang berlangsung bertahun-tahun itu membuat situ penuh dengan sampah.

Mata air juga jadi keruh dan tak karuan. Belum lagi sampah yang dilempar para pemancing dan pengunjung. Para pemancing datang ke Cisanti lalu membuka tenda karena menginap berhari-hari sambil menunggu mata pancing disambar ikan danau. Sampah bekas makanan hingga kasur yang mereka bawa dibuang ke tengah danau sebelum pulang. “Waktu dibersihkan pertama kali, sampah apa saja ada,” kata Asep.

Kini terlarang memancing di Cisanti, kendati tiga tentara yang patroli dan berjaga acap kecolongan oleh pemancing yang menyelusup malam-malam lewat hutan. Yang pasti, tak ada lagi peziarah yang buang celana dalam. Para pengunjung hanya datang ke mata air, mandi sebentar, lalu foto-foto di pinggir danaunya atau berpose di tulisan raksasa “Kilometer 0 Citarum”.

Ada juga perahu yang bisa disewa mengelilingi danau Cisanti. Bagi yang tak suka ketiganya bisa hanya duduk-duduk di bangku-bangku sepanjang jalur joging sambil melihat ikan besar dan kecil berenang di Cisanti. Selain ikan asli Cisanti, saat pengerukan sampah sudah selesai, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menaburkan benih ikan di danau ini. Ikan pelbagai jenis itu kini sudah besar dan acap muncul ke permukaan.

Para tentara memasangkan peringatan-peringatan dan falsafah di tiap pohon dalam bahasa Sunda, Indonesia, dan Inggris. Umumnya mengingatkan soal pentingnya pohon, bahaya pemanasan global, dan pentingnya menanam pohon dan merawat alam. Pagar yang membatasi danau dan daratan dicat biru, kuning, dan merah.

Tentara berpatorli di situ Cisanti, hulu sungai Citarum, di Desa Tarumajaya, Bandung, Jawa Barat (Foto: Firli A. Dikdayatama)

Asep menyarankan agar datang ke Cisanti pagi-pagi, sebelum matahari terbit karena ikan akan naik dan kabut melayang-layang di atas permukaan air. Udaranya juga masih segar di pagi hari. Setelah itu joging keliling danau yang resik. Cukup setengah jam bisa dua kali mengelilingi situ paling terkenal setelah Bagendit di Jawa Barat ini.

Cisanti tak hanya terkenal di dalam negeri, tapi juga sedunia setelah semua media menjuluki Citarum sebagai sungai terkotor di kolong langit. Cisanti sebagai sumber airnya ikut terbawa-bawa dengan julukan itu. Kini Cisanti dinobatkan sebagai destinasi baru di hulu Citarum.

Foto utama: Rifky/Yayasan Rekam Nusantara

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain