Laporan Utama | April-Juni 2019

Solusi untuk Citarum

Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.

Adjat Sudradjat

Rimbawan senior dan pegiat Bogor Go Green

TAHUN 2018 masyarakat Jawa Barat terhenyak oleh pernyataan Bank Dunia bahwa sungai Citarum adalah sungai terkotor di dunia. Racun yang ada di Citarum 1.000 kali lipat dari batas aman air minum di Amerika Serikat. Padahal air Citarum digunakan oleh 30 juta orang di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung untuk irigasi, mencuci, bahkan minum.

"Gelar" itu tentu membuat kita malu, tak terkecuali Presiden Joko Widodo. Jakarta tempat semua kedutaan besar negara, pelaku dan pusat bisnis mancanegara. Jika air krannya berasal dari sungai terkotor di dunia, lantas bagaimana?

Akhirnya Presiden menerbitkan Peraturan Nomor 15/2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Tujuannya menyelamatkan Citarum dan mencuci namanya yang kotor. Gubernur Jawa Barat memimpin Satuan Tugas Citarum yang melibatkan semua organisasi yang bersinggungan dengan sungai ini.

Tiga masalah

Menurut Deputi Menteri Koordinator Kemaritiman Safri Baharudin dalam sebuah seminar bertajuk A Call for Comprehensive Water Strategy in The Citarum Watershed di Jakarta pada 6 Februari 2018, Citarum memiliki kriteria sungai terkotor di dunia karena, pertama, setidaknya terdapat 1.900 industri sepanjang DAS Citarum dengan limbah cair sekitar 340.000 ton per hari.

Kedua, di bagian hulu terjadi alih fungsi lahan hutan lindung secara masif untuk pertanian. Hal tersebut memicu terjadinya erosi dan sedimentasi. Setidaknya ada 80.000 hektare lahan dengan kategori kritis dan sangat kritis yang perlu segera dihijaukan kembali.

Ketiga, Citarum juga tercemar limbah domestik masyarakat, mulai dari sampah rumah tangga hingga kotoran manusia. Jumlah sampah rumah tangga sebanyak 20.462 ton per hari, 71% di antaranya tidak terangkut sampai ke tempat pembuangan akhir. Sebanyak 35,5 ton per hari kotoran manusia dan 56 ton per hari kotoran hewan atau ternak juga dibuang langsung ke Citarum.

Solusi menyelesaikan sampah versi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil adalah memasang insenerator di 50 titik. Insenerator ini, menurutnya, bukan permanen. Sementara sampah di dalam sungai dikeruk. Ini seperti obat penahan sakit kepala. Karena problem utamanya adalah “Siapa para pembuang limbah dan sampah itu?”

Lain lagi solusi pemerintah pusat. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengeluarkan resep penyehatan Citarum melalui penertiban limbah dan keramba. Untuk menyetop limbah, Luhut tengah mengkaji untuk merelokasi beberapa pabrik di sekitar Citarum. Menurut dia, jumlahnya 3.400 pabrik. Solusi relokasi industri mudah didengar, tetapi sangat sulit dilaksanakan. Sementara itu untuk keramba, Luhut mengatakan ada hampir 100.000 keramba di sungai Citarum.

Pemerintah pusat masih berbicara terbatas solusi teknis tentang limbah industri dan keramba. Sebab belum menyentuh masalah dasar yakni tentang ”perilaku masyarakat” yang ada di sepanjang Citarum yang setiap hari membuang limbah ke sungai dan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak.

Saya ingin menambah beberapa fakta yang amat penting: (1) Citarum merupakan sungai terpanjang (269 km) dan terbesar di Jawa Barat yang selalu berinteraksi nyata dengan berbagai sektor. (2) Citarum telah bersedekah kepada berbagai sektor (khususnya sektor hilir): (a) pemasok sumber daya air untuk pembangkit listrik di tiga waduk besar yang menghasilkan listrik interkoneksi Jawa-Bali; (b) sumber air bagi irigasi areal persawahan seluas ± 300.000 hektare di lumbung pangan Jawa Barat (bahkan nasional);  (c) sumber air baku PDAM 10 kabupaten/kota di Jawa Barat dan Ibukota, Jakarta; (d) Sumber air bagi kawasan industri Jawa Barat, terutama di kawasan Bandung Raya, Kerawang dan Bekasi; (e) DAS Citarum berinteraksi dengan 14 juta jiwa, dan setiap tahun terus bertambah.

Menurut Dr. Anang Sudarna, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, penyebab “Citarum sakit parah” adalah perilaku manusia yang keliru seperti: (a) alih fungsi lahan (penggunaan hutan, kebun dan kawasan lindung non hutan) yang sembrono, (b) membuang limbah kotoran hewan (umumnya sapi perah), (c) budidaya pertanian dan perikanan tidak ramah lingkungan, (d) Pembuangan limbah domestik, termasuk MCK di Citarum. (d) membuang limbah industri tanpa diolah, dan (e) hukum lingkungan tak berdaya.

Saya pernah bertanya kapada Dr Anang, “Seberapa parah sakit Citarum”? Jawabnya, “Kanker stadium IV”

Saya sering berbicara bahwa “sungai adalah cerminan budaya dan martabat sebuah masyarakat”. Semakin keruh dan kotor airnya menunjukkan kebudayaan masyarakat semakin rendah. Masyarakat kita “belum” menyadari ini. Pada musim hujan kita sering melihat di sungai Ciliwung berwarna hitam kelam, menjijikkan, mengkhawatirkan, dan menyedihkan. Namun secara umum masyarakatnya tak perduli. Mengapa demikian? Karena pemahaman masyarakat adalah Ciliwung sebagai “benda mati” dan sungai berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah.

Alam dan seisi penghuninya untuk skala lokal atau kecil biasa disebut sebuah ekosistem. Penghuninya saling berinteraksi. DAS Citarum selamanya memberikan sedekah, memberi manfaat kepada makhluk lain termasuk manusia. Meski ia disakiti dengan pohonnya ditebang, sungainya ditebas, airnya dikotori dengan limbah, dia istiqomah mengalirkan air. Hulu Citarum tetap memberikan energi ke hilir.

Sebaliknya, sektor hilir hampir tak terdengar memberikan energi baliknya ke hulu. Malah merusaknya. Ada ketidakadilan di Citarum. Yang adil bila seluruh industri memerlukan air berkontribusi menyehatkan Citarum. Perhotelan yang mutlak perlu air bersih juga wajib ada aksi penyelamatan Citarum. PDAM jangan hanya ambil bahan baku airnya lalu disebar ke masyarakat, tapi apa yang dapat diberikan kepada Citarum. Ini baru adil. Hulu memberi ke hilir dan hilir menjaga serta melestarikan hulu.

Coba berandai-andai, satu industri skala besar menanam 5 hektare pohon di hulu Citarum per tahun. Menurut Dadang Hendaris, tim pakar yang juga mantan Kepala Perhutani Jawa Barat dan Banten, tiap tahun dari kelompok industri akan tertanam pohon 5 x 1.900 hektare per tahun. Jika lima tahun akan tertanam mendekati angka 50.000 hektare pohon baru. Belum kalau hotel-hotel besar dan para usahawan real estate memberikan energinya untuk hal yang sama. Dalam waktu lima tahun DAS Citarum akan terlindungi. Muaranya Citarum akan semakin sehat. Airnya semakin bersih. Pendangkalan terkurangi.

Masyarakat yang menerima manfaat dari sedekahnya Citarum sangat besar. Angka BPLHD Jabar menyebutkan tak kurang dari 14 juta orang. Saya yakin penerima manfaat itu dominan muslim. Jika asumsinya bahwa muslim sangat mendengar dan menaati tokoh agama, sebaiknya MUI Jabar mengeluarkan fatwa larangan mengotori Citarum. Dengungkan di mesjid terus menerus. Membuat kotor dan tetap kotor jauh dari keimanan seorang muslim.

Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum dan sungai lainnya. Dalam waktu satu tahun saja para ustad yang berhotbah terus menerus tentang kebersihan sungai di masjid-mesjid, gejala conditioning classical akan terpatri di alam pikiran tiap orang tentang kewajiban menjaga lingkungan.

Citarum Trust Fund (CTF)

Saya yakin banyak pihak punya dana untuk memperbaiki Citarum. Banyak pihak yang berniat berpartisipasi dalam penyelamatan Citarum. Banyak yang mumpuni menyembuhkan Citarum. Masalahnya, ke mana dana harus disalurkan?

Saya anjurkan ada semacamCTF. Dana ini ditampung oleh sebuah wadah yang dibentuk secara demokratis, transparan, akuntabel, dan berintegritas. Pemerintah Jawa Barat mesti menginisiasi terbentuknya CTF. Setelah itu bentuk Citarum Center. Di situ ada manajemen pengelola, tim peneliti segala aspek, tim informasi, penyuluh, penegakan hukum lingkungan, monitoring dan evaluasi, tim penghargaan dan kerja sama luar negeri.

Fungsi lain dari Citarum Center sebagai wadah komunikasi para pihak membahas bagaimana penyelamatan Citarum. Wadah penelaahan aspek fisik, sosial, sosek dan hukum, lingkungan. Dari mana dananya? Salah satu sumber yang bisa dimanfaatkan adalah ruislag (tukar guling) Kantor BPLHD Jabar yang saat ini sudah kurang memadai.

Selain itu bisa juga hibah dari donor. Dari pengalaman saya, ada banyak negara yang menaruh perhatian kepada lingkungan. Dengan kapasitas sebuah provinsi seperti Jabar lengkap dengan perguruan tinggi yang berkelas dunia, negara donor seperti Inggris, Jerman, Prancis, Kanada dan UNDP bahkan Bank Dunia akan tertarik memberikan hibah tidak mengikat.

Bogor, 18 Mei 2019

Foto: Rifky/Yayasan Rekam Nusantara

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.