Laporan Utama | Juli-September 2019

Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

Asep Ayat

Pemerhati burung liar di Burung Indonesia

RESTORASI ekosistem menjadi upaya pemulihan kawasan hutan produksi yang rusak akibat pengelolaan yang berorientasi kayu hingga tercapai keseimbangan hayati. Untuk mengatur pola pengelolaan kawasan hutan produksi melalui restorasi ekosistem, Departemen Kehutanan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan SK.159/Menhut-II/2004 tentang Restorasi Ekosistem di kawasan Hutan Produksi yang kemudian diubah dengan P.61/Menhut-II/2008.

Terobosan baru ini memungkinkan restorasi hutan dalam kawasan hutan produksi. Pertama kali dalam sejarah kehutanan Indonesia, ada kebijakan yang memungkinkan hutan produksi tidak ditebang dalam jangka waktu tertentu. Melalui restorasi ekosistem, hutan alam produksi diharapkan akan berfungsi kembali sebagai penyeimbang ekosistem, baik biotik maupun abiotik.

Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 61/Menhut-II/2008, yang menyebutkan bahwa izin restorasi diberikan untuk membangun kawasan dalam hutan alam pada hutan produksi yang memiliki ekosistem penting sehingga dapat dipertahankan fungsi dan keterwakilannya melalui kegiatan pemeliharaan, perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan termasuk penanaman, pengayaan, penjarangan, penangkaran satwa, pelepasliaran flora dan fauna untuk mengembalikan unsur hayati (flora dan fauna) serta unsur non hayati (tanah, iklim dan topografi) pada suatu kawasan kepada jenis yang asli, sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya.

Izin restorasi merupakan bentuk pengusahaan hutan produksi yang erat kaitannya dengan aspek keanekaragaman hayati. Sejauh ini pengelolaan keanekaragaman hayati terfokus pada kawasan-kawasan konservasi pada umumnya. Pendekatan restorasi menjadikan keanekaragaman hayati sebagai prioritas. Penerapan pada tingkat lapangan kegiatan prioritas, khususnya pada penataan areal (lanscaping area) kawasan RE difokuskan pada kawasan lindung, kawasan pemanfaatan kayu dan HHBK serta kelola sosial.

Sejauh ini dalam berbagai pembahasan kebijakan usaha jasa lingkungan, keanekaragaman hayati dapat dimanfaatkan dalam konteks perlindungan keanekaragaman hayati. Aspek ini melekat pada seluruh tahapan restorasi, misalnya pada pada tataran teknik restorasi dan pengelolaan habitat, riset dan pengembangan, pemanfaatan sumberdaya hutan, bahkan sampai pada tataran konsep keseimbangan hayati.  Meskipun demikian, arah pengelolaan restorasi ekosistem semestinya tidak diarahkan kepada model pengelolaan dan pemanfaatan kawasan konservasi yang cenderung terbatas.

Lebih spesifik pada pengelolaan keanekaragaman satwa liar dalam pengelolaan hutan produksi khususnya pada kawasan restorasi diperlukan suatu perencanaan baik jangka pendek atau jangka panjang. Ketersediaan \ data terkait potensi kawasan menjadi baseline data yang komprehensif (populasi, genetik, distribusi dll). Baseline data tersebut harus dimonitoring dan dievaluasi secara berkala dengan tujuan mengetahui kondisi potensi yang ada.

Berdasarkan baseline data diharapkan menghasilkan sebuah rencana pengelolaan satwa liar melalui kegiatan restorasi di dalam areal IUPHHK-RE. Pengelolan tersebut diintegrasikan dengan pengelolaan dalam lanskap yang lebih luas melalui pendekatan koridor untuk menghubungkan kawasan-kawasan yang terfragmentasi.  Hal ini juga memerlukan training atau pelatihan khusus terkait pengelolaan satwa liar serta kolaborasi dengan pihak terkait untuk mewujukan pengelolaan berkelanjutan berbasiskan ekosistem melalui skema Restorasi Ekosistem.

Kawasan restorasi pada umumnya merupakan kawasan-kawasan hutan produksi yang telah terdegradasi. Komposisi habitat yang ada termasuk struktur habitat hutan sekunder berakibat menjadi habitat yang terfragmentasi. Fragmentasi habitat akan menyebabkan kehilangan satwa spesialis (interior species) yang mencakup didalamnya burung terestrial, mamalia kecil dan herpetofauna.

Selain itu berpengaruh pada satwa yang menpunyai wilayah jelajah (home range) lebih luas termasuk mamalia besar seperti gajah asia (Elephas maximus), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), orang utan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) dan tapir (Tapirus indicus).  Akibat fragentasi kawasan akan menimbulkan efek tepi (edge effect).  Kawasan tersebut akan dihuni oleh jenis tepi yang mempunyai risiko gangguan secara ekologi ataupun gangguan dari luar.

Kawasan-kawasan yang terdegradasi dan fragmentasi akan berdampak pada dinamika dan metapopulasi. Implikasi fragmentasi tersebut menyebabkan tiga proses penting yaitu kepunahan (extinction), migrasi (migration) dan kolonisasi (colonization). Kawasan yang terfagmentasi akan menimbulkan pemecahan sub-sub populasi dan mengurangi pergerakan (migrasi) satwa antar sub populasi sehingga meningkatkan risiko kepunahan. Pemisahan antar sub-sub populasi akan menurunkan peluang kolonisasi untuk regenerasi. Dalam hal ini, data identifikasi persebaran (distribusi) satwa sangat penting dalam mengetahui dinamika dan metapopulasi.

Meskipun ekosistem hutan di areal restorasi mengalami kerusakan, dari tingkatan ringan sampai berat, namun keberadaan jenis flora dan fauna yang ada merupakan aset yang sangat penting dalam upaya pemulihan ekosistem tersebut. Bahkan, ada beberapa satwa endemis dan merupakan kunci bagi pemulihan ekosistem hutan tersebut.

Salah satu hal yang menginspirasi Burung Indonesia melakukan upaya pelestarian ekosistem hutan alam produksi adalah sebuah studi di tahun 2000 yang menyatakan bahwa hutan dataran rendah Sumatera yang kaya akan keanekaragaman hayati akan segera habis jika tidak ada tindakan penyelamatan.

Bersama kemitraan global BirdLife Internasional, Burung Indonesia melakukan inisiatif pemulihan hutan dataran rendah Sumatera di Jambi dan Sumatera Selatan yang kemudian dikenal dengan nama Hutan Harapan. Selain itu, beberapa kawasan restorasi menjadikan satwa kunci sebagai icon bagi upaya restorasi ekosistem hutan, misalnya kawasan PT RHOI dan kawasan PT ABT dengan orang utan.

Yayang dan bayinya di di areal restorasi PT Rehabilitasi Habitat Orangutan Indonesia di Kutai Timur, Kalimantan Timur, 2019.

Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur yang dikelola oleh PT RHOI seluas 86.450 hektare telah teridentifikasi di awal kegiatannya sebanyak 294 jenis, terdiri dari 45 jenis mamalia, 221 jenis burung, 18 jenis amfibi dan 10 jenis reptil dengan berbagai tingkatan status konservasi (IUCN) dan perdagangannya (CITES). Pada areal tersebut juga telah teridentifikasi 395 jenis pohon, yang terdiri dari jenis pohon asli (endemi) sebanyak 21 jenis serta berbagai jenis status (langka dan dilindungi) dan peruntukan (nilai ekonomi, ekologi, medis).

Selama kurang dari 10 tahun, telah dilepasliarkan lebih dari 100 orang utan rehabilitan di areal kerja restorasi PT. RHOI. Selain kegiatan pelepasliaran orang utan, juga monitoring secara intensif terhadap orang utan tersebut. Hasil monitoring sangat penting untuk melihat dinamika yang ada dan yang berhubungan dengan suksesi atau pertumbuhan jenis pohon.

Kontributor: Aldrianto Priadjati

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.

  • Kolom

    Pasar Karbon Perhutanan Sosial

    Perhutanan sosial memiliki peran strategis bagi keberlanjutan penghidupan masyarakat, pengelolaan hutan lestari, dan pencapaian target pengurangan emisi nasional.