Laporan Utama | Oktober-Desember 2019

Tiga Tahap Wana Lestari

Hutan sosial bisa sukses jika setiap komponen bekerja bersama. Juga kesadaran masyarakat akan fungsi hutan bagi hidup mereka. Cerita dari kelompok Wana Lestari di Lampung Barat.

Sanudin

Peneliti madya pada Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestri Ciamis, Jawa Barat

KETIKA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penghargaan kepada Kelompok Tani Hutan Wana Lestari Sejahtera Lampung Barat pada Februari 2019, ingatan saya melayang ke masa 2015. Pada tahun itu saya meneliti KTH ini untuk studi doktoral. Tak heran Wana Lestari mendapat penghargaan satu dari sembilan kelompok tani perhutanan sosial.

Masyarakat di sana telah lama berinteraksi dengan kawasan hutan lindung 45 B Bukit Rigis dengan memanfaatkan hutan lindung untuk menanam kopi robusta dan hasil hutan lainnya secara ilegal. Dinas Kehutanan setempat lalu mensosialisasi izin pengelolaan hutan dengan skema hutan kemasyarakatan.

Kelompok tani ini mendapat izin mengelola hutan lindung Bukit Rigis pada 2007 seluas 267,76 hektare yang terdiri dari blok perlindungan seluas 87,12 hektare dan blok budidaya 173,64 hektare. Blok areal perlindungan meliputi hutan primer, hutan sekunder, dan daerah kritis/puncak pematang dan sumber mata air, sementara areal budidaya berupa areal garapan hutan kemasyarakatan (HKm) dan belukar. Areal garapan HKm terletak pada ketinggian 700-830 meter dari permukaan laut, dengan kelembaban udara 80-90%, suhu 18-27°C dan curah hujan 2.500-3.000 milimeter per tahun dengan lama musim penghujan sembilan bulan dan musim kering tiga bulan.

Hutan primer yang ada di blok perlindungan areal garapan petani Wana Lestari seluas ± 87,12 hektare atau 35% dari luas total areal garapan. Beberapa jenis pohon yang ditemukan di blok tersebut adalah medang, surian, pasang, cemara, mengkudu, rotan, bambu betung, aren, anggrek, serta buah-buahan hutan lainnya. Sementara beberapa jenis binatang yang ada di sana, antara lain, seperti beruang madu, harimau, kukang, kijang, babi, landak, biawak, musang, lutung, kucing hutan, berbagai jenis ular dan burung.

Kelompok Tani Mitra Wana Lestari pada 2014 hanya beranggotakan 76 orang, setelah 13 tahun terbentuk. Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif yang dilakukan pada bulan April 2001 dengan bantuan teknis dari Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat dan LSM WATALA, luas areal HKm yang sudah digarap seluas 152,54 hektare.

KTH ini juga telah membuat beberapa kesepakatan bersama pada September 2001 terkait hak dan kewajiban dalam pengelolaan HKm seperti kewajiban untuk menanam jumlah pohon sebanyak 400 batang per hektare, tidak memindahtangankan areal garapannya kepada siapa pun, memberikan sumbangan sukarela kepada kelompok dan sebagainya.   

Pola tanam yang dikembangkan di sini adalah multistrata tajuk di mana tanaman tajuk pendek didominasi oleh kopi (robusta), sementara tajuk sedang dan tajuk tinggi dengan jenis MPTs seperti alpukat, nangka, dadap, dan petai. KTH juga secara bersama-bersama membuat pembibitan tanaman yang memudahkan anggotanya mendapatkan bibit secara gratis untuk menanam atau menyulam areal garapannya agar kewajiban menanam minimal 400 batang per hektare pohon dapat terpenuhi.  Beberapa jenis tanaman/pohon yang ada di pembibitan seperti cabai, kopi, sengon, cempaka, suren, alpukat, nangka, lamtoro, dan dadap. 

Praktik pemindahtanganan lahan garapan HKm meskipun sudah dilarang, namun masih sering terjadi. Beberapa alasan yang mendasari terjadinya pemindahtanganan lahan garapan antara lain adanya desakan kebutuhan ekonomi (anak sekolah, hajatan), uangnya digunakan untuk memindahtangankan lahan garapan yang lebih dekat dengan tempat tinggal petani, membeli lahan marga (lahan milik), dan untuk keperluan lainnya.

Pelan-pelan, setelah kelompok tani pertama berhasil mengembangkan kopi tanpa dikejar polisi hutan, petani lain terdorong bergabung. Terlihat ada tiga tahap dalam kemajuan perhutanan sosial Wana Lestari: penyadaran, pemberian kapasitas, dan pemberdayaan.

Pada tahap penyadaran, masyarakat diberi pemahaman bahwa hutan lindung harus dijaga kelestariannya. Masyarakat setuju karena keberadaan hutan juga menguntungkan mereka yang membutuhkan naungan untuk kebun kopi. Mereka berpatroli mencegah pembalakan liar dan pembakaran lahan. Para petani juga mengonservasi tanah dan air dengan membuat terasering dan penanaman rumput. Tahap penyadaran melalui sosialisasi, penyuluhan, dan pendampingan dari Dinas Kehutanan Kabupaten/Provinsi, ICRAF, Universitas Brawijaya, dan WATALA.

Pada tahap pemberian kapasitas, universitas dan lembaga swadaya mendampingi mereka mengelola organisasi, menyusun aturan main kelompok, membangun kebersamaan. Wana Lestari dan Bina Wana Lestari di Kecamatan Sumberjaya Lampung Barat termasuk dua lokasi yang acap dijadikan areal penelitian dari beberapa lembaga penelitian seperti ICRAF, CIFOR dan perguruan tinggi seperti dengan topik yang beragam mulai dari aspek sosial ekonomi lingkungan, jasa lingkungan, dan daerah aliran sungai. Mereka meneliti sekaligus menjadi pendamping.

Petani Mitra Wana Lestari secara langsung maupun tidak langsung mendapat manfaat dari keberadaan lembaga-lembaga tersebut selama berinteraksi maupun dalam memanfaatkan hasil penelitiannya. Dari hasil interaksi tersebut, lembaga-lembaga tersebut tergerak untuk melakukan pendampingan dan memfasilitasi kelompok petani mulai dari sosialisasi sampai mendapatkan izin hutan kemasyarakatan, sehingga secara perlahan terjadi peningkatan kapasitas baik secara perorangan/ kelompok karena ada transfer ilmu, pengetahuan dan teknologi. 

Para petani juga sering terlibat dalam Forum DAS Way Besai dan Way Seputih, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Lampung, Wadah Rembug Tani Hutan (Waremtahu) Kecamatan Sumberjaya dan Way Tenong, Kader Pengaman Hutan Register 45 B Bukit Rigis. Mereka juga terlibat dan mengikuti beberapa pelatihan seperti pembibitan tanaman kayu-kayuan dan tanaman buah, pemetaan partisipatif, pelatihan manajemen kelompok, dan sebagainya baik yang diadakan oleh LSM WATALA, ICRAF, Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan lembaga lainnya. Beberapa orang petani sering dipercaya oleh instansi terkait sebagai fasilitator dan narasumber dalam berbagai pelatihan/pendidikan terkait pengelolaan hutan kemasyarakatan.

Dampak dari berbagai proses pemberian kapasitas tersebut terlihat pada kemampuan petani dalam implementasi pengelolaan hutan kemasyarakatan di lapangan sesuai dengan peraturan.  Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi terlihat mudah karena para petani acap mengikuti pelatihan/pendidikan yang diteruskan kepada anggota lain dalam pertemuan bulanan.

Dalam tahap pemberdayaan, para pendamping melibatkan para petani sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemasaran produk kopi dari hutan sosial mereka.

Dari pengalaman kelompok tani Mitra Wana Lestari, bisa disimpulkan bahwa sebuah hutan sosial akan berhasil jika semua komponen terlibat: petani yang sadar, pemerintah pusat dan daerah yang tekun memberikan sosialisasi, hingga perguruan tinggi, lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi petani dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat melalui pendampingan dan transfer ilmu pengetahuan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.