Untuk bumi yang lestari

Laporan Utama|Oktober-Desember 2019

Jadi Petani Asyik Lagi

Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

BAGI Iwan, menjadi petani tak lagi gengsi. Ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah percetakan di Bandung, dua jam dari kampungnya di Kadungora, Garut, pada 2016 dan mantap kembali ke kebun di kaki gunung Mandalawangi. Laki-laki 29 tahun itu meneruskan jejak ayahnya yang bertanam kopi sejak 2009.

Dari tabungannya bekerja di percetakan selama tujuh tahun, ia membuka lahan 250 tombak atau sekitar 3.500 meter persegi dengan menanam kopi. Waktu itu, ayahnya sudah tergabung dalam Paguyuban Tani Sunda Hejo yang fokus menggarap kopi di lahan-lahan Perhutani di bukit-bukit dan gunung sekitar kampungnya. “Semua saya kerjakan sendiri, dari babat, buat lubang, sampai menanam,” kata ayah satu anak yang masih 4 tahun ini.

Keinginan pulang kampung datang begitu saja, terutama ketika ia acap sakit pernapasan. Bekerja di percetakan, kendati mendapat gaji rutin Rp 2,5 juta sebulan—diberikan tiap pekan—Iwan merasa hidupnya jadi rutin. Pendapatan yang pasti itu tak membuatnya hidup genah, terutama setelah menikah dan punya bayi.

Ketika suatu kali pulang ia lihat ayah dan tetangganya yang tekun merawat kopi, Iwan mantap tak kembali ke Bandung. Ia mantap menanam kopi, mendaftar menjadi anggota paguyuban yang telah mendapat Surat Keputusan Perhutanan Sosial dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia buka lahan dengan alat-alat pertanian bergantian dengan ayahnya. Ayahnya pula yang meminta Iwan menggarap lahan tambahan 200 tombak.

Kini Iwan mengolah kopi di lahan 650 tombak. Sudah dua kali panen untuk lahan pertama karena kopi baru bisa dipanen pada usia 1,5 sampai 3 tahun. Panen pertama ia mendapat 1,2 ton yang dijual ke Koperasi Klasik Beans milik Paguyuban sebesar Rp 9.000 per kilogram cherry merah. Panen kedua naik jadi 2 ton. “Tiap panen rasanya mendapat bonus,” kata dia.

Panen kopi terjadi sepanjang April-Juli tiap tahun. Di luar waktu panen, Iwan mengurus kebunnya dengan menyiangi atau memberi pupuk. Jika musim panen sayur ia nyambi jadi ojek pengantar sayur dari kebun ke pasar. “Penghasilan memang tak menentu, tapi rasanya lebih tenang,” kata lulusan SD ini. Ia buru-buru menambahkan, “Kalau ditanya lebih senang mana bekerja di percetakan atau petani, lebih senang sekarang.”

Di Kadungora, anak-anak muda seperti Iwan lumayan banyak. Ada Soni Wahyudin yang juga bertani kopi. Laki-laki 31 tahun ini menggarap dua hektare lahan di dekat pucuk gunung setinggi 1.600 meter dari permukaan laut. Ia jadi petani sejak lulus SMA. Setelah ke sana-kemari mencari pekerjaan, ia pulang kampung menggarap lahan ayahnya.

Sebelum bertanam kopi, Soni mengolah lahan Perhutani itu dengan tembakau dan sayuran. Tapi sejak longsor karena gunung jadi monokultur dan menewaskan sedikitnya 23 orang, Soni dan penduduk kampung beralih ke kopi—terutama setelah dikompori Hamzah Ali Fauzi, aktivis lingkungan yang cemas lahan Mandalawangi terus tergerus akibat tak ada lagi pohon sebagai penyangganya.

Soni bercerita, menggarap lahan Perhutani dulu harus kucing-kucingan dengan petugas patroli. Mereka tergolong perambah yang ilegal masuk kawasan hutan lindung ini. Tembakau dan sayuran adalah pilihan masyarakat di sekitar Mandalawangi karena ada beberapa orang kota Jakarta atau Bandung datang ke sana membeli lahan petani untuk dijadikan sayuran. Penduduk lokal mengikuti tren itu.

Masalahnya, sayur petani selalu anjlok karena harga di tengkulak selalu berpihak pada pekebun besar, orang-orang kota yang menanam sayur dengan lahan luas. Belum lagi ancaman ekologi karena gunung jadi gersang. Longsor-longsor kecil setelah longsor besar pada 2003 masih terjadi dan membuat cemas masyarakat di sana. Akhirnya, mereka setuju dengan tawaran Hamzah.

Syahdan, Hamzah ini gigih menganjurkan petani beralih dari sayur ke kopi sejak 1997. Kopi yang belum tren ketika itu membuat petani mencurigainya sebagai “utusan investor” yang hendak merebut mata pencarian mereka. Hamzah bercerita ia pernah dikalungi parang karena terus menerus menganjurkan petani beralih ke kopi.

Alasan menganjurkan kopi sederhana saja. Bagi Hamzah, laki-laki 42 tahun jebolan Teknik Industri Universitas Winayamukti ini, kopi itu ramah terhadap lingkungan karena tumbuh memerlukan naungan. Maka jika petani beralih menanam kopi mereka juga harus menanam pohon berkayu sebagai peneduh kopi agar bisa berbuah. Toh, segala teori itu tak membuat petani tertarik mengikuti anjurannya.

Pemikiran itu berubah ketika penduduk kesulitan mendapatkan mata air. Air menghilang karena tak ada lagi pohon di Mandalawangi. Para petani setuju menanam kopi. Hamzah mengajarinya cara menanam dan mendapatkan bibit. Masalahnya, ketika para petani panen, mereka bingung menjualnya. Mereka mendatangi Hamzah menuntut pertanggung jawaban.

Terdesak oleh tuntutan itu, Hamzah memutar otak. Dari banyak kolega pecinta alamnya, Hamzah terhubung ke pembeli kopi di Amerika, seorang pemilik kafe. Setelah mendapatkan sampel kopi arabika Mandalawangi, pemilik kafe itu setuju membeli kopi Hamzah. “Jadi penjualan kopi pertama Sunda Hejo itu melalui ekspor tahun 2011,” katanya. Ia mengirim 600 kilogram green beans.

Hamzah Fauzi, di persemaian kopi Sunda Hejo di Garut, Jawa Barat.

Rupanya, kopi Mandalawangi disukai penghidu kopi Amerika. Panen berikutnya, ekspor naik jadi 1,8 ton. Pasarnya pun meluas. Hamzah sudah mengirim kopi ke Italia dan Prancis. Kini ia mengekspor arabika 78 ton dan robusta 25 ton. “Sekarang makin dikurangi karena permintaan lokal terus naik,” katanya.

Ada sekitar 4.000 petani yang berhimpun dalam Paguyuban Sunda Hejo. Petani seperti Soni Wahyudin menghasilkan kopi 3,5 ton dari dua hektare lahan. Jika harga kopi di Koperasi Klasik Beans Rp 9.000, penghasilan Soni Rp 31,5 juta setahun. Ia harus menyisihkan 20 persen untuk Perhutani. Bersih penghasilannya kira-kira Rp 25 juta. Jika dibagi 12 bulan maka tiap bulan ia mendapat Rp 2 juta hanya dari kopi. Dengan satu istri dan satu anak, pendapatan per kapita Soni sebesar Rp 690 ribu—lewat dari garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik sebesar Rp 480 ribu per kapita per bulan.

Seperti Iwan, waktu di luar panen kopi, Soni mengurus kopi dengan menyiangi dan memupuknya. Kadang ia membantu tetangganya menyiangi. Di Sunda Hejo para petani bergotong royong mengerjakan lahan untuk menekan ongkos buruh. Mereka saling membantu mengangkut pupuk dari sisa penggilingan kopi di Koperasi atau membantu memetik cherry.

Para petani kini sedang mengembangkan tanaman sela lain di antara kopi, seperti vanili dan buah-buahan. Jika musim berbuah, seperti alpukat, Soni menjualnya ke pasar sebagai ganjal kebutuhan sehari-hari keluarganya. Hasil panen kopi dan buah-buahan itu ia tabung di koperasi dan bank yang sewaktu-waktu diperlukan jika ada kebutuhan mendesak.

Dengan cerita Iwan dan Soni seperti itu, menjadi petani jadi asyik lagi. Hamzah kini sedang mengembangkan sekolah barista agar anak-anak para petani bisa memberikan nilai tambah pada produk orang tua mereka. Di kafenya di Kadungora, tiap sore sepulang sekolah anak-anak muda dilatih menghidu kopi dan meraciknya.

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

Bagikan

Komentar

Artikel Lain