Laporan Utama | Oktober-Desember 2019

Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

Eva Fauziyah

Peneliti madya pada Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestri Ciamis

DALAM perhutanan sosial, agroforestri menjadi model paling tepat karena punya banyak manfaat dan keuntungan. Dukungan aturannya pun ajek. Skema ini muncul sebagai salah satu pilihan penggunaan lahan yang menjanjikan untuk mengatasi permasalahan tekanan penduduk. 

Agroforestri didefinisikan sebagai sistem pengelolaan suatu unit/bentang lahan secara optimum, layak ekologi, ekonomi maupun sosial, dan diupayakan melalui pemanfaatan kombinasi pohon, tanaman semusim dan atau ternak yang ditanam secara serempak sehingga meningkatkan produktivitas tanaman dan hewan secara berkesinambungan. Agroforestri juga telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar mereka.  

Dilihat dari sisi sosial dan ekonomi, agroforestri baik pada lahan milik maupun kawasan hutan—selain dapat menjamin produksi pangan—juga menyediakan sumber alternatif pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat. Selain itu, diversifikasi produksi merupakan salah satu bentuk petani untuk menghindari risiko.

Dengan agroforestri petani bisa mendapatkan pendapatan jangka pendek dari tanaman pertanian, jangka menengah dari tanaman multipurpose tree and shrub, buah-buahan, maupun jangka panjang dari tanaman kayu/pohon.  Mayrowani dan Ashari (2011) menyatakan bahwa agroforestri juga bisa menjadi salah satu sarana yang efektif untuk pemerataan dan tahapan untuk mengatasi kemiskinan di lingkungan masyarakat desa hutan, yang bisa meningkatkan pendapatan dan produksi pangan. Di sisi lain, agroforestri juga mampu memulihkan fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.

Secara ringkas, banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan menjadikan agroforestri sebagai salah satu pola dalam perhutanan sosial yakni berproduksi sambil melakukan konservasi. Khusus untuk agroforestri pada kawasan hutan, juga bisa dimanfaatkan untuk merehabilitasi lahan kritis, pemanfaatan ruang pada lantai hutan, keseimbangan dan kesinambungan lingkungan dalam kawasan hutan, dan juga dapat berfungsi sebagai resolusi konflik dalam pengelolaan hutan. 

Keberhasilan penerapan pola agroforestri di kawasan hutan sudah banyak dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan seperti pada skema pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di Perhutani, pengelolaan hutan kemasyarakatan kopi di Lampung. 

Beberapa peneliti sudah merumuskan kontribusi agroforestri terhadap total pendapatan petani, seperti Sanudin (2017), Puspasari et al (2017), Aji et al. (2014) yang menyebutkan bahwa agroforestri pada HKm di Provinsi Lampung dengan jenis tanaman seperti kopi, lada, MPTs (nangka, alpukat), cempaka, memberikan kontribusi sebesar 44,24-74,38%, sementara pada kawasan Perhutani memberikan kontribusi sebesar 33,33% (Febryantini (2010). 

Selain itu, agroforestri dalam perhutanan sosial memberikan kontribusi bagi penyerapan tenaga kerja sebesar 2,8% di Provinsi Lampung (Sanudin, 2017) dan sebesar 33,33% di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat (Febryantini, 2010).

Meski terbukti paling cocok, ada beberapa masalah dalam menerapkan agroforestri: 1) keengganan petani menanam atau memelihara pohon dengan alasan mengganggu tanaman yang diusahakannya, 2) pemilihan jenis yang tidak disarankan karena dapat mengganggu pohon/kayu yang sudah ada sebelumnya seperti penanaman singkong, gembili di Perhutani, dan sebagainya. 

Secara umum, ada beberapa faktor yang mempengaruhi praktik: 1) faktor teknis seperti pemilihan jenis tanaman, pengaturan ruang tumbuh dan pemeliharaan, dan 2) faktor non teknis seperti skala usaha, pemasaran, model kelembagaan, dan pembiayaan dan dukungan kebijakan. 

Karena itu untuk mengurangi masalah itu sosialisasi hak dan kewajiban petani dan penerapan aturan sanksi melalui kelompok dan penguatan kelembagaan kelompok tani. Juga paket kebijakan yang tepat untuk mempopulerkan agroforestri yang meliputi aspek pemanenan, pengolahan, dan pemanfaatan pertanian tumbuh bawah, serta menjamin kredit dan perluasan layanan kepada petani.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.

  • Laporan Utama

    Gairah Baru dari Bulukumba

    Pemerintah membuat cara baru meluaskan realisasi perhutanan sosial. Menggandeng kabupaten dan generasi milenial melakukan pendampingan petani hutan.