Laporan Utama | April-Juni 2019

Nyi Santi dari Bumi Pohaci

Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

Siti Sadida Hafsah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

ADA julukan baru untuk Irma Hutabarat, penyiar acara televisi yang kondang tahun 2000-an yang belakangan terjun ke dunia lembaga swadaya masyarakat: Nyi Santi. Julukan ini disematkan penduduk di sekitar situ Cisanti, hulu sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Penduduk menjulukinya Nyi Santi karena sepekan sekali Irma datang ke sana untuk membersihkan situ yang tertimbun sampah dan eceng gondok. Selain membersihkannya, Irma menanam vetiver (Chrysopogon zizanioides), rumput sejenis padi-padian asal India yang berfungsi menahan erosi, sekaligus melindungi palawija dari hama dan gulma. Sekali datang, Irma menginap 2-3 malam dengan membawa rombongan komunitas peduli Citarum. “Jadinya hampir tiap hari di sana,” kata perempuan 56 tahun itu.

Apa yang dilakukan Irma terasa sia-sia. Pada 2015 itu, ia harus menghadapi pemancing dan peziarah petilasan Prabu Siliwangi dan makam Dipati Ukur yang menginap dan membuang sampah ke tengah danau. Mereka berendam di tiga mata air Cisanti semalaman lalu membuang pakaian ke tengah situ sebagai simbol buang sial.

Tiap kali Irma Hutabarat datang ke sana, sampah plastik dan styrofoam berserakan di pinggirnya, bekas tenda para pemancing dan peziarah. Sampai akhirnya Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi dijabat Letnan Jenderal Doni Monardo pada November 2017. Kepada temannya itu, Irma menceritakan kondisi Cisanti dan Citarum yang dijuluki “sungai terkotor di muka bumi” oleh media internasional.

Kepada Doni, Irma mengatakan untuk memperbaiki Citarum harus dimulai dari hulunya. Tanpa memperbaiki hulu, kata dia, Citarum akan terus kotor karena sumber airnya tercemar. Doni setuju. Ia memerintahkan anak buahnya datang ke Cisanti untuk mengeduk sampah dan mengangkat eceng gondok. Inisiatifnya itu kemudian ditabalkan menjadi program nasional oleh Presiden Joko Widodo dengan membentuk Satuan Tugas Citarum Harum pada Februari 2018.

Berkat prajurit TNI, Cisanti jadi bersih. Sempadannya ditata lebih resik. Irma makin bersemangat datang ke sana untuk menanam vetiver. Ia memang identik dengan tanaman ini. Irma melanglang Indonesia mendatangi sungai-sungai yang rusak di Jawa, Papua, dan Sumatera untuk mengenalkan tanaman ini.

Irma Hutabarat (Foto: R. Eko Tjahjono)

Di Indonesia vetiver sesungguhnya bukan tanaman baru. Kita menyebutnya “akar wangi”, bahan dasar minyak gosok dan pelbagai ramuan untuk obat. “Kalau disebut akar wangi nanti vetiver dicabut karena dimanfaatkan akarnya,” kata Irma. “Padahal vetiver tak boleh dicabut karena akarnya itu yang berfungsi menjaga lingkungan.”

Maka Irma lebih senang menyebutnya “vetiver”, nama dari bahasa Tamil yang berarti “rumput kasar”. Vetiver bisa tumbuh di segala macam tanah tropis yang cenderung kering hingga tingginya mencapai 150 meter. Pucuk bunganya ungu seperti gandum karena ia memang satu marga dengan sorgum, padi, dan serai.

Syahdan, perkenalan Irma dengan vetiver terjadi pada 2010, ketika Kevin Ibrahim—anak keduanya—hendak berbisnis ikan lele selepas lulus dari Binus University. Rupanya membuat kolam lele di Cinere, Jakarta Selatan, terlalu mahal untuk bisnis anak baru lulus kuliah. Irma menyarankan agar kolam lebih ramah lingkungan tanpa harus menemboknya. Saran itu datang dari koleganya di Bali, David J. Both, aktivis lingkungan yang memimpin Yayasan Ekoturin.

David menyarankan Kevin memakai vetiver sebagai pelindung kolam. Kevin menurut. Tapi bisnis itu tak terus karena ia dan teman-temannya tergoda bisnis lain. Mereka meninggalkan lele. Irma yang mendengar anak dan teman-temannya tak jadi berbisnis lele, lalu menengok kolam tersebut. Vetiver di pinggir kolam itu tumbuh subur. “Dan airnya jadi jernih banget,” kata Irma.

Akar vetiver: sekeras baja (Foto: R. Eko Tjahjono)

Ia lalu mengontak David untuk bertanya fenomena itu. Kepada Irma, David menjelaskan bahwa akar vetiver memang berfungsi menjernihkan air selain menguatkan tanahnya. Sebab akar vetiver menyerap segala racun yang dibawa air sungai. Itu pula alasan David memakai vetiver dalam East Bali Poverty Project di Karangasem. Ia ingin mengentaskan kemiskinan masyarakat di sana dengan cara menyuburkan tanah pertanian memakai vetiver.

Irma semakin takjub. Malang melintang di dunia aktivis dan lembaga swadaya hingga ikut melahirkan Komisi Pemberantasan Korupsi, nalurinya muncul bahwa vetiver bisa menjadi penyelamat lingkungan terutama di sungai-sungai yang tercemar. Menurut Irma, vetiver cocok untuk Indonesia karena murah, adaptif dengan segala jenis tanah, dan sudah dikenal seluruh masyarakat. Penelusurannya tentang tanaman ini membuat ia menemukan The Vetiver Network International.

Organisasi ini didirikan pada 1994 dan dipimpin Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (1927-2016) yang menyukai ilmu botani. Bank Dunia memang mempromosikan tanaman ini ke dunia berkembang di negara tropis sejak 1990. Thailand yang paling sregep merespons. Hasilnya, mereka berhasil merevolusi pertaniannya berkat vetiver. Akarnya yang 1/6 kali setara kawat baja dan menghasilkan molum bisa menawar racun dalam tanah yang membunuh tanaman.

Vetiver telah menjadi rumput pelindung bagi tanaman pokok pertanian di sekitarnya. Raja Thailand memerintahkan kepada rakyatnya agar menanam vetiver di setiap 10 tanaman jagung. “Di Thailand, vetiver dipelajari khusus di universitas dan banyak dosen yang menjadi profesor karena vetiver, “ kata Irma.

Pada 2014, TVNI mengadakan konferensi internasional tentang tanaman ini di Manila, Filipina. Tak pikir dua kali, Irma mendaftar sebagai peserta. Dengan ongkos sendiri ia terbang ke sana mengikuti seminar dan bertemu para ahli dan praktisi vetiver dari seluruh dunia selama dua hari. Pulang dari sana ia semakin yakin vetiver bisa menyelamatkan lingkungan dan mencegah bencana.

Citarum adalah wilayah yang ia datangi setelah belajar banyak hal soal vetiver, hidrologi, hingga ekologi. Agar tak harus bolak-balik Bandung-Kemang, rumah tinggalnya bersama suami dan empat anaknya di Jakarta Selatan, Irma membeli 800 meter persegi lahan di Jalan Inspeksi Citarum di Desa Sangkanhurip.

Ia mendirikan rumah panggung 30 meter persegi yang atap dan lantainya berbahan baku daun vetiver menghadap sungai Citarum yang lebar dan berair coklat. Irma memberi nama saung itu “Bumi Pohaci”—nama Sunda untuk Dewi Sri, dewi pertanian dan kesuburan. Di rumah ini Irma mempraktikkan hidup selaras alam: air Citarum disaring memakai akar vetiver untuk minum, tak ada detergen, sabun dan sampo memakai sereh, di halaman kosongnya ia tanami vetiver dan segala jenis tanaman buah dan sayur, juga kolam ikan.

Daun vetiver berserakan sebagai lantai Bumi Pohaci. Menurut Irma, vetiver juga bisa melindungi manusia dari ular. Hewan melata ini tak hidup di tanah yang ada tanaman ini. Untuk penerangan, Irma baru saja menanam panel surya sebagai sumber listrik. Ketika wawancara sedang berlangsung, tercium bau kabel terbakar. Irma buru-buru mematikan saklar listrik. Tapi bau hangus itu tetap tercium.

Irma keluar saung mencari arah bau. Rupanya aroma itu berasal dari tempat pembuangan sampah sementara 20 meter dari Bumi Pohaci. Terletak di pinggir Jalan Inspeksi Citarum, ada saung pembuangan sampah yang mengepulkan asap. Deden, seorang pemulung, tampak mengorek-orek sisa sampah, memilah, dan memasukkannya ke dalam karung.

“Kok dibakar? Ini bahaya. Bisa bengek semua orang di sini,” kata Irma.

Da atuh kumaha kalau tak dibakar? Mau dibuang ke mana sampah-sampah ini?” kata Deden.

“Siapa yang suruh membakar?”

“Pak RW.”

Irma geleng-geleng kepala. Di insinerator itu terlihat cap sebuah perusahaan sebagai tanda sumbangan lengkap dengan gerobak sampah. Sementara saung tempat pembakaran itu, menurut keterangan di sana, dibangun oleh mahasiswa dari sebuah universitas negeri yang KKN akhir tahun lalu. “Ini akibat orang datang cuma datang, bukan menyelesaikan persoalan sampah,” kata Irma.

Hari mulai gelap. Ketika asap sampah mulai menipis, air sungai Citarum yang mengalir pelan mulai naik. Air coklat itu kini berubah menjadi hitam. Plastik dan sampah cair mengapung di permukaannya. “Masih ada pabrik yang buang limbah ke Citarum,” kata Irma. “Terutama dari pejagalan dan pasar di hulu.”

Meski Citarum sepanjang 269 kilometer dibagi 23 sektor hingga Bekasi, yang tiap sektor dijaga tentara, pembuangan limbah ke Citarum masih sulit dicegah. Bumi Pohaci ada di sektor 1. Sebelum tentara masuk ke sana, kata Irma, bantarannya menjadi permukiman penduduk tak berdokumen. Mereka membangun saung dan tinggal di sana, dengan buang sampah ke sungai, dan tak kapok mesti acap terendam ketika sungai meluap.

Vetiver di Situ Cisanti yang ditanam Irma Hutabarat sepanjang 5 kilometer (Foto: Firli A. Dikdayatama)

Setelah tentara masuk, mereka pindah. Irma lalu menanami bantaran itu dengan vetiver. Sejak ada vetiver, air tak meluap meredam lahan pertanian di sebelahnya. Penduduk menanami pembatas jalan dan sungai itu dengan aneka palawija dan ubi-ubian. Berkat vetiver pula, tanah di sana menjadi subur karena racun pabrik yang dibawa air sungai tersaring terlebih dahulu oleh akarnya.

Menurut Irma, kualitas air di Sangkanhurip juga membaik. Kini tak ada lagi anak-anak yang sakit gatal. Ketika pertama kali datang ke desa itu, Irma terkejut karena mendapatkan anak yang punya borok di vaginanya. “Luar biasa, pencemaran Citarum sudah sampai masuk ke air penduduk,” katanya.

Total sejak 2014, Irma sudah menanam vetiver sepanjang 10 kilometer di bantaran Citarum. Tapi, agaknya, ia mesti harus bersabar lagi mengubah Citarum yang membuatnya jatuh cinta agar lebih terjaga. “Citarum itu ibarat terkena kanker,” katanya. “Tapi selama ini menyembuhkannya dengan mengoperasi hidung, diberi lipstik, supaya terlihat cantik.”

Irma mengatakan tak akan berhenti mengampanyekan menanam vetiver dan menyuarakan pentingnya menjaga Citarum sampai sungai ini benar-benar terbebas dari pencemaran. “I think this is my faith, cinta dan menyelamatkan lingkungan bagian dari ajaran agama kan?” katanya.

Bagi Irma, hidupnya mengejar dunia dan kesenangan sudah selesai. Anak-anaknya sudah hidup mandiri. Ia kini mengabdikan diri sepenuhnya untuk alam dan lingkungan, seperti Nyi Pohaci yang tak bosan-bosan menjaga alam dengan mengatur pangan untuk kelangsungan hidup umat manusia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.