Laporan Utama | April-Juni 2019

Perang Melawan Kerusakan Citarum

Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

Een Irawan Putra

Executive Director Rekam Nusantara Foundation-Indonesia Nature Film Society (INFIS)

SUDAH satu tahun perjalanan program Citarum Harum. Ada beberapa perubahan yang sudah bisa dilihat. Para komandan sektor yang diberi tanggung jawab menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di wilayahnya terus bekerja dengan berbagai tantangan.

Misalnya permasalahan di hulu Citarum. Dansektor 1 Pembibitan Letkol Inf. Choirul Anam yang sehari-harinya ada di Cisanti, hulu Citarum, harus mencari strategi menghadapi ribuan petani yang di sana. Mereka telah menggarap lahan yang seharusnya menjadi kawasan hutan dan resapan air. Perwira yang memulai karier militernya dari Tamtama ini bertangung jawab menghutankan kembali kawasan hulu Citarum di areal Perhutani dan PTPN seluas 8.000 ha.

Dari target sebanyak 125 juta bibit pohon yang harus disiapkan dan ditanam, ia dan timnya saat ini sudah menyiapkan 6 juta bibit pohon. Ada 3.000 petani yang harus ia dampingi dan diajak untuk bekerja sama menanam dan merawat pohon yang sudah ditanam. Selain itu, ia juga mencoba melepaskan petani dari cengkeraman cukong dan pemodal yang telah lama menguasai ratusan hektare hutan negara. Para petani diajak menanam dengan pola tumpang sari. Mereka juga masih diperbolehkan menanam sayur mayur dengan batasan waktu dan masa transisi.

Tantangan berbeda yang ada di bagian tengah Citarum. Seperti yang dihadapi oleh Kolonel Kav. Purwadi Dansektor 7. Perwira yang banyak menduduki berbagai posisi dan jabatan di BAIS TNI ini berjuang bersama timnya menata bantaran Citarum yang ada di Kabupaten Bandung. Ia harus menata bantaran Citarum sepanjang 13 kilometer yang di sana telah berdiri 257 bangunan dan 102 kios di Pasar Rancamanyar. Setiap tahun wilayah ini juga dilanda banjir. Namun, pelan-pelan ia mengubah tempat-tempat sampah liar dan bangunan kumuh yang mengokupasi bantaran Citarum menjadi sarana olah raga dan tempat bermain. Menanami dengan vetiver dan tanaman keras, membuat pos pemantau banjir, mengeruk sedimentasi serta membuat sarana pengelolaan-air-bersih.

Citarum yang terkenal menjadi penampung limbah pabrik juga menjadi tantangan berat bagi Kolonel Inf. Yusep Sudrajat Dansektor 21. Perwira yang pernah menjabat Komandan Komando Daerah Militer dan Danrem ini harus berhadapan dengan mereka. Diperlukan ketegasan dan tidak ada kompromi terhadap para pelaku industri atau pabrik yang masih membuang limbahnya ke anak-anak sungai Citarum yang ada di wilayah Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Sumedang, Banjaran, dan Soreang. Sudah 60-an saluran limbah pabrik ia cor karena pemiliknya tidak mau memperbaiki instalasi pengelolaan limbah. Tapi hampir semua saluran limbah cair tersebut telah ia buka ketika pemilik pabrik mau berubah. Memastikan air limbahnya bening dan di outletnya ada ikan mas koki yang hidup.

Inilah sekelumit perjuangan mereka. Tentunya apa yang telah dicapai selama satu tahun ini akan kecil sekali porsinya jika dibandingkan dengan keseluruhan persoalan yang ada di Citarum. Dari hulu hingga ke hilir.

Rusaknya DAS Citarum telah berdampak terhadap berbagai lini pada kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Bencana dan kerugian finansial akibat dari hilangnya hutan dan kawasan resapan air di hulu Citarum, timbunan sampah plastik di sepanjang sungai, limbah rumah tangga, hingga limbah industri  yang ada di sepanjang Citarum sudah dirasakan sejak puluhan tahun yang lalu.

Seorang prajurit Kodam Siliwangi sedang menjelaskan program pembersihan situ Cisanti kepada siswa sekolah yang sedang studi tur (Foto: Firli A. Dikdayatama)

Sedimentasi yang mencapai 4-7 juta meter kubik per tahun di Bendung Saguling, Bendung Cirata dan Bendung Jatiluhur menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Data dari PT Pembangkit Jawa-Bali, biaya yang dikeluarkan oleh PJB untuk perawatan Waduk Cirata selama tiga dekade sudah mencapai Rp 7 triliun. Biaya yang dibutuhkan untuk mengeruk dan menyelesaikan masalah sedimentasi di Waduk Cirata lebih murah dengan membuat waduk baru. Belum lagi kerugian akibat debit air yang berkurang dan ancaman percepatan korosi akibat air Citarum yang tercemar yang memperpendek usia waduk dan PLTA.

Ikan dari Waduk Cirata dan Saguling juga telah dilaporkan tercemar berat. Mengonsumsi ikan yang berasal dari waduk ini dalam waktu lama bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kandungan logam berat pada ikan ini disebabkan air di waduk tercemar. Dari 4 unsur logam berat yang diuji di air Waduk Cirata, tiga di antaranya melebihi ambang batas dalam Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 82 Tahun 2001. Untuk timbal (Pb), kandungannya di air 0,036 part per million (ppm), ambang batasnya 0,03 ppm. Krom (Cr) 0,045 ppm dari ambang batas 0,05 ppm. Kadmium (Cd) 0,032 ppm dari ambang batas 0,01 ppm. Merkuri (Hg) 0,011 ppm dari ambang batas 0,001 ppm. Pencemaran logam berat juga terjadi di Waduk Saguling. Waduk itu terhubung dengan Sungai Citarum. Air, endapan danau, dan ikan di waduk itu tercemar logam berat jenis Pb, Cd, Cr, dan Hg (Kompas, 29 Juni 2018).

Permasalahan utama yang sulit ditindak adalah pembuangan limbah oleh sejumlah pabrik nakal yang beroperasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mencatat, ada sekitar 2800 pabrik yang mendirikan bangunannya di area sempadan sungai Citarum. Buruknya pengelolaan ditambah minimnya kontrol, alhasil Sungai Citarum harus menanggung beban 280.000 ton limbah cair per hari. Belum lagi dengan ditambahnya 1.500 ton sampah domestik dari rumah tangga. 

Berdasarkan catatan Subdit IV/Tipiter Direktorat Reskrimsus Polda Jawa Barat, ada 31 limpahan kasus tindak pidana dari Satgas Citarum Harum dan 27 kasus tindak pidana temuan Tim Terpadu. Kasus yang terbanyak ditangani Polres Bandung yaitu 22 kasus. Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi adalah wilayah yang paling banyak ditemukan pelanggaran tindak pidana lingkungan hidup.

Melihat besar dan kompleksnya permasalahan yang ada di Citarum, dibutuhkan komitmen kuat dan berkelanjutan dari berbagai kementerian dan lembaga untuk mengawal dan menjalankan mandat Perpres Nomor 15 Tahun 2018 Tentang  Percepatan Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Apalagi dalam satu tahun ini telah terjadi dua kali pergantian Pangdam III Siliwangi dan Kapolda Jawa Barat. Perhatian dan ketertarikan atas isu lingkungan hidup dari mereka yang baru menjabat juga berbeda-beda. Begitu juga pendekatannya terhadap masyarakat yang berpendapatan rendah yang membuang sampah tapi tetap memperhatikan ekonomi mereka.

Program Citarum Harum sudah kadung memberi harapan besar kepada masyarakat di Jawa Barat. Harapan Citarum bisa kembali pulih dari status kritisnya. Apalagi Presiden Joko Widodo sudah turun langsung ke Citarum dan menyatakan bahwa ia komit untuk mengawal program ini selama tujuh tahun.

Nani Suryani, warga Desa Sangkanhurip kepada saya mengaku sudah merasakan perubahan bantaran Citarum yang ada di pemukimannya. Tempat yang dulunya kumuh telah menjadi taman bermain dan berkumpul warga. Nani dan para tetangganya secara sukarela pindah dari bantaran Citarum yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.

Dampak yang telah dirasakan oleh mereka sepatutnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat yang lainnya di sepanjang Citarum. Keterlibatan para perwira tinggi TNI dan prajuritnya akan membuat sejarah baru jika nantinya Citarum bisa diselamatkan. Itu kenapa ketika baru dilantik dan serah terima jabatan sebagai Pangdam III Siliwangi, pada awal tahun 2018, Mayjen TNI Doni Monardo tidak pernah ragu memerintahkan para prajurit Siliwangi untuk “perang” terhadap kerusakan Citarum. Nama baik TNI AD dipertaruhkan. Oleh karena itu harus dilakukan dengan baik untuk kepentingan negara dan untuk rakyat.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain