Laporan Utama | Januari-Maret 2020

Jejak Karbon di Everest

Kedatangan pendaki ke Everest dan naiknya penghuni sepanjang jalur ke sana membuat jumlah karbon di Himalaya naik.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

GUNUNG Everest ditetapkan sebagai titik tertinggi di planet bumi. Acuannya hasil perhitungan Sir George Everest, Surveyor Jenderal Inggris di India, pada 1840. Berkat jasanya itu, namanya dipakai sebagai nama internasional gunung ini. Sementara orang-orang di sekitarnya punya nama berbeda-beda: Sagarmatha (Dahi Langit) oleh orang Nepal, Deodungha (Gunung Suci) dalam bahasa India, penduduk Tibet menamainya Chomonglungma (Tuhan Ibu), dan orang Cina dengan Zhumulangma.

Everest mengukur ketinggian gunung ini memakai rumus trigonometri, dengan dua sudut piramida lalu menarik garis ke permukaan laut. Everest lalu menetapkan puncak gunung itu 29.000 kaki atau 8.839 meter. Namun, secara resmi ketinggian Everest adalah 29.029 kaki.

Menurut laporan majalah Live Science, 29 kaki di belakang itu hanya tambahan saja agar “perhitungan ketinggian Everest lebih meyakinkan”. Sejak itu puncak Everest terus diukur oleh para ahli pelbagai bangsa memakai peralatan modern sesuai zaman. Hasilnya tak jauh dari pengukuran Everest, baik lebih rendah atau lebih tinggi. Gempa bumi dan tumbukan lempeng India serta Asia membuat Everest bertambah tinggi 1 sentimeter per tahun.

Setidaknya 3.000 orang telah sampai ke puncak Everest sejak Sir Edmund Hillary, pendaki Selandia Baru, memulainya pada 29 Mei 1953. Pendaki yang tak profesional datang ke Himalaya hanya sampai Everest Base Camp di ketinggian 5.364 meter.

Jika satu orang pendaki menghasilkan 1,9 ton karbon selama naik dan turun dari EBC melalui Lukla, ada 950 ton karbon sehari yang beredar di Himalaya, jika berdasarkan kunjungan melalui bandara Lukla sebanyak 500 turis sehari. Emisi sebanyak itu setara memakai listrik untuk menyalakan televisi selama 38 tahun.

Sumber: Himalaya Base Trekking, CO2myclimate.org, TNC, CarbonCommentary.com

Rute ke Everest Base Camp di Himalaya, Nepal, dan perkiraan jejak karbon tiap pendaki (kotak merah).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain