Laporan Utama | Januari-Maret 2019

Perubahan Iklim di Sekitar Kita

Pemanasan suhu bumi secara global mengubah arah angin dan curah hujan. Sudah terjadi pada hidup kita sehari-hari.

Danu Djanurseto

Bekerja di Perhutani KPH Bogor

PERUBAHAN iklim bisa terjadi akibat adanya peningkatan gas rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca merupakan akibat dari semakin banyaknya gas yang dibuang ke lapisan atmosfer bumi, lalu menyerap panas dari matahari atau radiasi, kemudian memantulkannya kembali ke bumi. Manusia punya kontribusi besar dalam perubahan iklim. Kebakaran hutan, pembakaran sampah, pelepasan gas metana dari sampah, pemakaian bahan bakar fosil, pemakaian batu bara, pemakaian gas freon untuk pendingin ruangan, dll. 

Secara umum, perubahan iklim telah melanda bumi jika, setidaknya terlihat hal-hal seperti ini.

Perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi

Akhir-akhir ini curah hujan yang sangat tinggi dan tidak menentu dengan jangka waktu yang lebih lama, terkadang kekeringan dan banjir bisa bersamaan datangnya.

Perubahan pola angin

Pola angin yang mendadak dapat meningkatkan intensitas badai tropis dan gelombang pasang. Hal inilah yang menyebabkan angin Janda di Sumatera ataupun angin Topan Sandi di Amerika Serikat.

Kenaikan temperatur permukaan air laut

Suhu air laut pantai utara provinsi Banten hingga Jawa Tengah naik hingga 0,004 – 04 derajat Celsius setiap tahun, mengakibatkan karang memutih (coral bleaching), migrasi ikan pelagis (ikan yang ada di permukaan air), penyebaran penyakit yang cepat.

Bertambahnya jenis organisme penyebab penyakit dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat

Virus-virus baru akan bermunculan, seperti virus flu burung.

Kenaikan paras muka air laut

Akibat yang terlihat adalah genangan “Rob” di daratan rendah, seperti yang terjadi di Jakarta, selain itu abrasi dan sedimentasi, dan tenggelamnya pulau-pulau kecil.

Salah satu yang bisa mencegah pemanasan bumi adalah menghijaukan kembali tempat tinggal kita ini. Hutan dan tanah di bawahnya menyimpan karbon lebih dari satu triliun ton. Jumlah ini dua kali jumlah karbon yang ada di atmosfer atau setara dengan berat sekitar 2,000 kali berat total dari 7 miliar manusia yang hidup di dunia, dengan perkiraan berat rata-rata 70 kilogram per orang.

Ketika hutan mengalami peningkatan kepadatan maupun luas, hutan akan berperan sebagai “penyerap karbon”, karena mereka mengambil karbon yang ada di atmosfer dan menyimpannya. Sebaliknya, juga bisa menjadi “sumber emisi” dan penyebab perubahan iklim, jika semua hutan ditebangi, diubah peruntukannya dan terbakar. Karbon dioksida yang sudah mereka simpan itu akan dilepaskan ke atmosfer lalu memantulkan panasnya ke bumi kembali.

20190422093039.png

Mempertahankan hutan secara utuh akan mengurangi emisi karbon dioksida di atmosfer dan memperlambat efek perubahan iklim. Stok karbon dalam biomasa hutan berkurang 0.5 Gt tiap tahunnya selama periode 2005–2010 karena berkurangnya luasan hutan. Salah satunya karena deforestasi (FAO, 2010). Deforestasi di berbagai belahan dunia memberikan kontribusi 12-17% emisi karbon dioksida setiap tahun. Sehingga, jika kita kehilangan hutan, kita tidak hanya akan kehilangan fungsi penyerapan, tetapi juga karbon yang telah disimpan di dalam tanah dan tumbuhan dilepaskan ke atmosfer lagi, yang memperparah perubahan iklim.

Hutan lebih dirasakan fungsinya dalam mengatasi perubahan iklim dari pada sekadar menyerap gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Hutan berperan menjaga tutupan awan, memantulkan sinar matahari kembali keluar dari atmosfer, mendorong transformasi dari air menjadi uap dan meningkatkan kelembaban di atmosfer, yang akan mendinginkan udara. Selain itu, melalui penyediaan fungsi-fungsi lingkungan yang berbeda dan memenuhi kebutuhan hidup, hutan juga membantu dalam melakukan strategi penyesuaian mata pencaharian manusia yang diakibatkan perubahan iklim.

Ada tiga tipe ancaman perubahan iklim terhadap lingkungan yang mendapat perhatian dalam jurnal Global Environmental Change. Pertama, bersifat pribadi di mana timbul kecemasan bahwa perubahan iklim dapat berdampak pada keselamatan diri, misalnya, tingginya polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan paru-paru. Lalu, ancaman altruistis atau yang berkaitan dengan kemanusiaan dan generasi penerus. Terakhir, ancaman biosfer atau yang mengancam kepada alam termasuk tumbuhan dan hewan. Perubahan iklim telah menunjukkan dampak kesehatan fisik dan mental seperti angin topan.

Dari dulu iklim selalu menentukan cara hidup kita. Saat iklim berubah, manusia juga beradaptasi. Adaptasi adalah proses belajar. Kita semua perlu memperbaiki strategi adaptasi. Kita harus mengurangi gas-gas rumah kaca, dan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Kita harus mulai dari sekarang bersama-sama. Libatkan pembuat kebijakan, tingkatkan pemahaman tentang perubahan iklim, ciptakan kesadaran dalam masyarakat untuk adaptasi. Lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan daripada menanggung dampak perubahan iklim tanpa perlindungan apa pun.

Bumi yang semakin panas berdampak pada mencairnya lapisan es di wilayah kutub. Hal ini akan mengakibatkan pertambahan massa air di lautan termasuk wilayah Indonesia, sehingga tinggi muka air laut akan meningkat. Dampak dari peristiwa ini adalah banyak wilayah pantai yang mengalami kebanjiran, erosi, dan hilangnya daratan di pulau–pulau kecil, serta masuknya air laut ke wilayah air tawar, dan menunjukkan bahwa selama ini telah terjadi peningkatan tinggi muka air laut sebesar 1–2 meter dalam kurun waktu sekitar 100 tahun terakhir.

20190422093139.jpg

Jika kondisi ini terus berlanjut maka negara kita yang memiliki sekitar 13.600 pulau akan mengalami dampak yang cukup serius. Masyarakat dan nelayan yang berdomisili di sekitar garis pantai akan semakin terdesak, bahkan kemungkinan kehilangan tempat tinggal.

Sedangkan, diprediksi cuaca ekstrem akan semakin terjadi. Contohnya kekeringan, puting beliung, banjir, dan longsor. Peristiwa semacam ini dapat menghancurkan rumah dan kehidupan manusia termasuk merusak infrastruktur, jalur komunikasi, dan lebih parahnya dapat menghambat pembangunan nasional. Kemudian, beberapa spesies yang tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang akan sulit untuk bertahan di habitatnya. Oleh karena itu tidak jarang banyak binatang dan tanaman yang mati karena tidak bisa beradaptasi dengan habitatnya.

Proyeksi iklim tak dapat memperkirakan masa depan secara pasti, karena sebagian itu tergantung dari cara bagaimana kita hidup dan memperlakukan alam. Namun, dari semua itu, apakah kita hanya bergantung pada kepastian untuk bertindak? Tidak. Kita sering mengambil tindakan berdasarkan pengalaman dan fakta, tanpa mengetahui kepastian yang akan terjadi di masa depan. Meskipun kita tidak tahu yang akan terjadi pada iklim, kita cukup tahu bagaimana kita akan bertindak.

Kita harus mampu memperhatikan dampak perubahan iklim sekarang dan masa depan, dalam strategi pembangunan, dalam perencanaan. Mulai sekarang kita mesti menimbang segala tindakan di masa depan dengan menghitung efek pada pemanasan global. Dalam tata kota, dalam perencanaan pembangunan, dalam eksekusi program, semua harus mengacu apakah aktivitas itu akan menimbulkan efek bahkan memperburuk cuaca dan kondisi bumi kita.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain