Laporan Utama | Juli-September 2019

Tenggiling di Ekosistem Riau

Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

Ganjar Cahyadi

Kurator Museum Zoologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung

DI Provinsi Riau, ada lima unit manajemen restorasi ekosistem, yang dikelola di bawah program Restorasi Ekosistem Riau (RER). RER merupakan program yang dicanangkan pada 2013 oleh APRIL Group—sebuah perusahaan, bubur kertas dan kertas terkemuka yang menyediakan US$ 100 juta untuk mendukung restorasi ekosistem, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengembangan masyarakat di wilayah itu.

Bersama Fauna Flora International (FFI), RER menyurvei keanekaragaman hayati pada 2015-2018. Survei awal dan pemantauan keanekaragaman hayati seperti tumbuhan, mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan sudah dilakukan di tiga dari lima area konsesi RER: PT Gemilang Cipta Nusantara seluas 20.265 hektare, PT Sinar Mutiara Nusantara seluas 32.830 hektare, dan PT The Best One Unitimber seluas 39.412 hektare yang semuanya berlokasi di Semenanjung Kampar. Hingga kini, RER telah mengumpulkan data dasar keanekaragaman hayati yang terdapat dalam lebih dari 60% total area pemulihannya, sekitar 92.507 hektare.

Kondisi hutan gambut sekunder akibat perambahan hutan pada masa lalu membuat survei di area ini sangat menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Beberapa lahan terbuka membuat sinar matahari dan penguapan air gambut membuat suhu di area tersebut naik. Selain itu, gambut dengan tumpukkan serasah rapuh, membuat mobilitas menjadi lambat.

Saat kemarau, badan sungai berwarna coklat. Saat hujan, badan sungai terutama dengan area riparian terbuka, menjadi danau. Air tersebut tidak menutup kemungkinan juga akan membanjiri hutan di sekitarnya. Sehingga terkadang perjalanan menyusuri hutan untuk menuju pada titik tertentu harus dilakukan dengan berjalan di dalam air tersebut.

Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini. Bahkan, ekosistem gambut memiliki keanekaragaman acap diremehkan karena kondisi alamnya tidak mendukung banyak spesies untuk hidup (seperti pH air yang asam dan kurangnya mikrohabitat).

Survei pada Desember 2018 itu menemukan ada 759 spesies tumbuhan dan hewan. Ekosistem Riau menjadi habitat bagi setidaknya 55 spesies terancam, termasuk pohon spesialis hutan gambut seperti meranti bakau (Shorea platycarpa), dan resak paya (Vatica teysmanniana), serta mamalia seperti tenggiling (Manis javanica) dan harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Semua hewan itu sudah masuk kelompok yang rentan akan kepunahan akibat perburuan, deforestasi, degradasi, hingga perdagangan liar.

Ekosistem Riau juga menjadi rumah bagi pohon dan hewan endemis Sumatera seperti resak paya (Vatica teysmanniana) dan kongkang kecil (Chalcorana parvaccola). Ada juga burung cabak kolong (Caprimulgus concretus), burung puyuh hitam (Melanoperdix nigra), dan katak rawa (Pulchrana rawa), selain amfibi dan reptil yang menarik dikaji secara taksonomi dan ekologi.

Survei di kawasan restorasi ini penting sebagai basis penilaian keberhasilannya. Restorasi akan dianggap sukses jika spesies pada ekosistem tersebut telah mendekati kondisi asli sebelum rusak.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.