Laporan Utama | Oktober-Desember 2019

Rona Kuning di Jalan Nanjing

Cina menerapkan perhutanan sosial sejak Revolusi 1949. Perencanaannya detail.

Nanang Zulkarnaen

Mahasiswa Program Ecological Geography di Nanjing Normal University (NNU), Nanjing Tiongkok

TAHUN 1990 seorang India bernama Dr. Narayan G. Hegde menuliskan cerita perjalanannya ke Tiongkok dalam sebuah buku, Rural development and social forestry Lessons from China. Pada 1988, Presiden BAIF Development Research Foundation itu telah menjelajahi daratan Cina bagian barat sejauh 3.500 kilometer. Kota penting yang ia lalui adalah Beijing, menyusur Yanzhou, Yangzhou, Yixing, dan berakhir di Hangzhou. “Secara geografi, China dekat dengan India tapi mayoritas penduduk di dua negara tersebut tidak terlalu saling kenal,” kata Hegde.

Baginya negara berpopulasi besar dan terluas ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Kanada ini sangat unik. Di sana Hegde mempelajari pembangunan perdesaan dan perhutanan sosial. “Cina sudah memperlihatkan jalan, jalan yang layak diikuti negara berkembang,” katanya.

Dibanding India, kata Hedge, Cina lebih hebat dalam produksi pertanian dan pertumbuhan ekonomi. Kuncinya adalah tingginya hasil pertanian dan bagusnya pengelolaan sumber daya alam. Bahkan kata Hegde, pendapatan per kapita penduduk desa lebih baik dari warga kota karena ada pembatasan urbanisasi.

Semuanya bermula dari revolusi dan reformasi 1949 oleh Mao Tse Tung yang mendorong sejajarnya pria-wanita dalam komunitas pertanian. Juga program turba yang mewajibkan pegawai pemerintah tinggal di desa untuk membantu memecahkan persoalan desa dengan pendekatan yang tepat dan teknologi yang cocok.

Reformasi kebijakan pertanian tahun 1979 juga mendorong kebijakan terbuka dalam pengelolaan sumber daya oleh individu. Dengan kebijakan ini, rakyat bekerja lebih keras. Sejak pertanian menjadi tulang punggung pendapatan dan pekerjaan, pemerintah juga mengenalkan industri kecil untuk rakyat. Di desa, 10% tanahnya untuk pengembangan industri.

Partai komunis menunjuk seorang pengelola di desa yang mengurus administrasi desa dan menghubungkan rakyat dengan partai. Beberapa jenis industri yang populer antara lain pengolahan makanan, peternakan, produksi pakan ternak, pengolahan kayu.

Pelajaran penting yang dilihat Hegde adalah fenomena turunnya para ilmuwan pertanian ke desa. Mereka bekerja beberapa saat di desa untuk menemukan solusi yang cocok dalam mengatasi persoalan-persoalan perdesaan. Cina yakin ilmuwan  pertanian dan kehutanan dapat membantu persoalan pengelolaan sumber daya alam. Di Indonesia, sabbatical leave pernah ditiru dengan mendorong para dosen turun ke perdesaan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi.

Hal menonjol lainnya adalah melibatkan anak sekolah. Pemerintah Cina meliburkan kelas selama satu dua minggu saat musim tanam. Inilah cara melibatkan siswa untuk menanam pohon sejak dini, untuk program penghijauan. Di tahun 2000-an Indonesia pernah memperkenalkan program kecil menanam dewasa memanen (KMDM) tapi tidak sampai mengeluarkan kebijakan libur sekolah untuk aksi tanam pohon.

Cina menerapkan “ecological farming” untuk maksud dua hal: mendaur ulang sampah pertanian dan meningkatkan produktivitas pertanian. Sementara multipurpose water management system diterapkan untuk meningkatkan produksi pertanian dan mengontrol banjir.

Dalam hal perhutanan sosial, ada tiga istilah yang disebut Hedge dalam bukunya: penghijauan, agroforestrik dan penanaman kakija. Semuanya diawali dengan riset. ”Penelitian dan pengembangan kehutanan menjadi prioritas utama di China,” kata Hegde.

Polanya tiga tingkat: nasional, provinsi dan kabupaten. Pada 1958 berdiri Chinese Academy of Forestry (CAF) sebagai koordinator kegiatan penelitian. Diikuti dengan pendirian lembaga sejenis di level bawahnya. Pada tingkat nasional, program riset dasar dan terapan dilakukan universitas dan organisasi penelitian kehutanan. Sementara provinsi hanya mengembangkannya dan kabupaten hanya untuk penyuluhannya.

Tutupan lahan Cina pada 1949 hanya 8,6% dan pengenalan serangkaian kebijakan sejak 1978 telah menggerakkan sekitar 800 juta petani untuk membangun hutan dan telah menaikkan tutupannya menjadi 12% di 1981. Banyak tujuan sosial dari penghijauan yang mereka kembangkan, dua di antaranya adalah pengembangan ekonomi di daerah pegunungan dan pemenuhan kebutuhan kayu tahunan sebanyak 50 juta meter kubik.

Partisipasi masyarakat dalam penghijauan sukses karena bertumpu pada tiga hal. Pertama, perubahan kebijakan. Setelah reformasi tahun 1979, petani menikmati pendapatan dari penanaman pohon. Kedua, pelatihan dan demonstrasi. Dua yang disebut terakhir dilakukan secara intensif meliputi model dan teknik yang variatif yang dilaksanakan oleh CAF bekerja sama dengan biro kehutanan di perdesaan. Bibit dari induk yang baik dari berbagai spesies pohon banyak diperkenalkan dan distribusikan ke petani. Ketiga pengaturan pemasaran. Jaringan pasar yang bagus dibuat sebagian besar melalui koperasi untuk mendapatkan produk dari petani dengan harga yang menguntungkan.

Pada 1950 “shelterbelts” mulai gencar dibangun pemerintah China. Polanya dengan agroforestri dan itu menyebar ke semua wilayah. Akibatnya, Hegde melaporkan, pola agroforestri dapat menutupi 40% lahan pertanian. Keberhasilannya tidak lepas dari penanaman spesies terpilih yang direkomendasikan CAF. Tak lupa, dengan pelatihan petugas teknis tingkat desa untuk efektivitas program.

Cerita sukses Cina dalam penanaman kakija bukan isapan jempol. Sejak medio 2015 hingga kini saya menyaksikannya di Kota Nanjing. Ginkgo biloba, tanaman pinggiran jalan, dengan warna daunnya yang menguning di musim gugur, jadi ciri khas jalan di sana. Memperindah suasana Distrik Gulou di bula November hingga awal Desember. Sebelum akhirnya ia gugurkan daun indahnya di lantai jalan.

Hutan kemasyarakatan telah berhasil mengangkat derita desa Kabupaten Huoshan Provinsi Anhui dengan kontur pegunungan dari jurang kemiskinan. Seperti diceritakan Hegde, kesuksesan itu karena Cina menerapkan perhutanan sosial secara inklusif. Hedge melaporkan bahwa perhutanan sosial berproses sejak bibit hingga panen. Mulai tahap penelitian hingga penerapan teknologi yang paling cocok dengan menimbang areal geografi yang beragam, bahkan jalanan kota dan desa.

Peran masyarakat, menurut Hedge, menjadi faktor pendorong yang penting dalam cerita sukses perhutanan sosial di Cina.

Nanjing, Agustus 2019

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.