Laporan Utama | Juli-September 2019

Hablumminalam di Kalimantan

Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

Razi Aulia Rahman

Anggota redaksi, bekerja di perusahaan konsultan kehutanan.

HAMPARAN gambut membentang sejauh mata mematut. Ekosistem ini terperangkap di antara dua sungai besar di Kalimantan Tengah, sungai Mentaya di barat dan sungai Katingan di timur.

Kanal-kanal yang lurus, yang jadi akses masuk ke kawasan gambut sepanjang 120 kilometer itu, jadi ramping dan terlihat menyempit di tepi cakrawala. Hutan gambut ini seperti berada dalam mangkok raksasa yang biru, hijau, putih, dan kabut Kalimantan yang ringan dan tipis pada pagi awal Juli 2019. Di ujung sana pohon-pohon meranti bercampur terentang dan parupuk berdiri kaku dalam sunyi.

Dari total luas lahan gambut 108.225 hektare di Kabupaten Katingan dan 49.620 hektar di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang dikelola PT Rimba Makmur Utama, ada sekitar 15.000 hektare wilayah terdegradasi berat yang kini mulai dihuni jenis pionir, seperti galam, malam-malam, dan punak.

PT Rimba Makmur mendapat konsesi untuk merestorasi ekosistem wilayah ini pada akhir 2013 dan 2016 untuk jangka waktu 60 tahun. Mereka mengajukan izin memulihkan kawasan bekas hak pengusahaan hutan beberapa. Perusahaan HPH sebelumnya berhenti operasi tahun 1990 yang dilanjutkan izinnya oleh perusahaan lain sampai awal 2000. Sempat kebakaran hebat pada 1997, kawasan ini terbuka oleh penjarahan dan pembalakan liar.

PT RMU didirikan dengan cita-cita besar mewujudkan pemulihan fungsi ekologis lahan gambut tropis sebagai kawasan penyerapan dan penyimpanan karbon sekaligus melindungi ekosistem hutan di dalamnya. Mereka memanfaatkan isu karbon yang menghangat akibat pemanasan global. “Skema bisnisnya memakai kredit karbon, dengan merek Katingan-Mentaya Project,” kata Manajer Umum PT Rimba Taryono Darusman kepada Forest Digest.

Perdagangan karbon adalah bisnis baru dalam pengelolaan hutan. Para pelaku industrinya acap menyebut bisnis ini sebagai “bisnis gaib” atau “barang langit” karena tak berwujud. Pembeli membayar kegiatan perusahaan seperti PT Rimba yang memelihara hutan untuk menyerap karbon. Harganya ditentukan kemampuan jenis pohon menyerap emisi per tahun.

Dalam kategori usaha di kehutanan, bisnis ini masuk dalam kategori usaha jasa lingkungan. Direktur Perencanaan PT Rimba Syamsul Budiman menjelaskan dalam standar perhitungan karbon sukarela, bisnis karbon akan berjalan jika perusahaan pengusul telah memiliki project Design Document (PDD) yang telah divalidasi lembaga standarisasi.

Untuk mendapat sertifikat karbon itu, proyeknya harus memenuhi kriteria MRV, yakni kegiatan mereduksi karbon itu harus bisa dimonitor, dilaporkan, dan diverifikasi lembaga yang kredibel. Selain itu proyeknya mesti punya nilai tambah sebagai bagian dari model bisnis. Misalnya, kualitas kawasan hutan tak akan berubah kendati PT Rimba Makmur berakhir masa konsesinya.

Untuk metode perhitungan karbon, PT Rimba memakai standar verified carbon standard (VCS) dan climate, community, and biodiversity (CCB Standards). Dua metode ini diakui para ahli sebagai metode paling kredibel menghitung tangkapan karbon saat ini. “Butuh tiga tahun mendapatkan sertifikatnya,” kata Syamsul.

Masalahnya, belum ada standar harga dalam perdagangan karbon. Dalam konferensi mencegah perubahan iklim, seperti di Katowice Polandia akhir tahun lalu, lembaga perubahan iklim PBB menentukan batasan harga karbon US$ 5-11 per ton CO2. Tapi praktiknya, seperti umumnya bisnis, pembeli selalu menawar lebih rendah dari patokan itu.

Gambut adalah penyimpan karbon terbaik dibanding tanaman lain. Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian memperkirakan ada sekitar 14,9 juta hektare lahan gambut di Indonesia pada 2011. Dari jumlah itu sekitar 25% atau 3,74 juta hektare dalam kondisi telantar akibat terdegradasi karena pengelolaan yang keliru: konversi lahan, pembakaran, hingga peruntukan yang salah.

Di Kalimantan, ada sekitar 4,7 juta hektare lahan gambut atau 32% dari total gambut di Indonesia—kedua terluas setelah Sumatera—atau 0,05% dari total wilayah pulau ini. Gambut seluas ini menurut Wetland Indonesia menyimpan setidaknya 11 Giga ton karbon. Dari total luas itu lahan gambut Kalimantan yang kritis dan sangat kritis mencapai 1,7 juta hektare. Memulihkan hutan gambut adalah sebuah kesempatan mencegah bumi memanas akibat emisi gas rumah kaca.

Di Kalimantan Tengah ada tiga perusahaan yang mendapat izin restorasi ekosistem dengan total luas 214.546 hektare. Selain di Katingan, PT Rimba Makmur punya konsesi di Kotawaringin Timur. Satu konsesi lagi dijalankan PT Rimba Raya Conservation, juga berbisnis karbon seraya menjaga orangutan di perbatasan Taman Nasional Tanjung Puting di Seruyan. Sementara PT Alam Sukses Lestari menjalankan restorasi di Barito Selatan. “Izinnya terbit antara tahun 2013 sampai 2016,” kata Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah Sri Suwanto.

Pengeboran di lahan gambut areal PT Rimba Makmur Utama di Kalimantan Tengah untuk mengukur biomasa, Juli 2017.

Sebagai pemegang izin restorasi, kewajiban perusahaan-perusahaan itu tidak berbeda dengan HPH. Pembedanya mereka tidak boleh menebang pohon sampai keseimbangan hayati kawasan konsesinya tercapai. Ukurannya akan ditentukan oleh pemerintah melalui evaluasi penilaian tiap tahun.

Kewajiban perusahaan restorasi antara lain menjaga dan melindungi kawasan, melakukan kemitraan dengan masyarakat desa di sekitar konsesi, penelitian dan pengembangan, pengembangan usaha nonkayu, serta menyetor iuran dan pajak. Ada kewajiban tambahan bagi perusahaan yang mengelola ekosistem gambut, yakni restorasi hidrologi di seluruh kawasan. “Konsesi kami hanya 157.875 hektare tapi pengawasannya mencakup 320.000 hektare karena masih dalam satu kesatuan hidrologis gambut,” kata Syamsul.

Luas gambut PT Rimba Makmur kira-kira 96% wilayah, 3% ekosistem kerangas, dan sisanya ari tawar. Manajer Pengelolaan Hutan Produksi Lestari PT RMU Ginanjar menjelaskan lebih dari 90% areal konsesi perusahaannya zona lindung. Selain karena tebalnya lebih tiga meter, kawasan ini menjadi lalu lintas orang utan, habitat tenggiling, dan burung rangkong, serta akses nelayan. Karena itu program RMU melibatkan masyarakat di 34 desa bersama-sama menjaga kawasan ini, selain program pemberdayaan.

Menurut Manajer Pengembangan Masyarakat RMU Yusef, dari 34 desa, perusahaannya sudah menjalin kesepakatan dengan masyarakat di 26 desa menjaga konsesi mereka. Di zona penyangga, misalnya, PT Rimba mendukung pertanian masyarakat tanpa membakar dan memakai zat kimia. “Agar masyarakat punya penghasilan kami membangun budidaya vanili, bambu, kacang mete, gula aren,” Hirason, Manajer Pengembangan Bisnis, menambahkan.

Kelapa di daerah permukiman kawasan gambut konsesi PT Rimba Makmur Utara di Kalimantan Tengah

Penduduk lokal juga memenuhi struktur staf RMU di Kotawaringin Timur maupun Katingan. Saat musim kemarau, semua bagian berfokus mengendalikan api karena gambut mudah terbakar oleh panas permukaan. Musuh terbesar gambut adalah api. Jika terbakar, bukan saja kawasannya yang hangus, tapi juga mengancam keragaman hayati di dalamnya.

Dari perhitungan sementara, menurut Manajer Perlindungan RMU Meyner Nusalowo, setidaknya ada 3.000 individu orang utan di konsesi RMU. Jumlah ini kira-kira 5% populasi orangutan Kalimantan. Dengan menjaga gambut tetap asri, tegakan hutan di dalamnya juga akan terjaga sebagai rumah 23 jenis satwa di konsesi RMU, selain pohon endemis Kalimantan seperti gemor, jelutung, dan ulin.

Alih-alih menebang kayu bernilai ekonomi tinggi itu, RMU terus menanam pohon-pohon endemis kawasan gambut itu. Karena fokus usahanya karbon, justru mereka harus punya sebanyak mungkin pohon di wilayah konsesi. Syamsul menyebut usaha restorasi semacam “habluminalam”, hubungan baik manusia dengan alam, selain habluminallah dan habluminanas. “Tahap penjualan karbon sekarang memasuki pemasaran,” kata dia. “Mudah-mudahan segera ada pembeli dan bertransaksi.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.

  • Kolom

    Pasar Karbon Perhutanan Sosial

    Perhutanan sosial memiliki peran strategis bagi keberlanjutan penghidupan masyarakat, pengelolaan hutan lestari, dan pencapaian target pengurangan emisi nasional.