Laporan Utama | April-Juni 2019

Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

Hikmat Ramdan

Dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung

UNDANG-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air mendefinisikan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satuan wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah, yang batasnya di darat merupakan pemisah topografis dan batasnya di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Jika kita cermati, DAS ternyata mirip tubuh manusia, sehingga bentuk tubuh manusia bisa disebut sebagai prototipe bentang alam DAS ideal. Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah. Masing-masing bagian memiliki masing-masing fungsi ideal yang berbeda satu dengan lainnya.

Hulu DAS secara ideal merupakan wilayah yang secara alami lebih berperan untuk perlindungan bagi bagian hilirnya. Begitu juga dengan bagian atas tubuh manusia yaitu kepala yang wajib dilindungi walaupun tidak sama produktifnya dengan tangan, lambung, jantung, paru-paru yang berada di tengah. Andaikan kepala kita sakit, organ tubuh lain yang di bawahnya pun akan tidak nyaman beraktivitas.

Bagaimana tangan nyaman menulis atau menyetir jika gigi di kepala sakit? Begitu juga dengan bagian bawah atau hilir sungai sebagai tempat buangan. Jika tubuh kita mengeluarkan muntah (kotoran) dari mulut apakah tubuh kita kondisi normal? Kotoran yang seharusnya dikeluarkan di bagian bawah (hilir) tapi keluar di bagian atas t menunjukkan tubuh sakit. Jadi jika sejak hulu aliran sungainya tercemar, bisa dipastikan sungai tidak sehat.

Dengan kemiripan struktur dan fungsi antara DAS dan tubuh manusia, tubuh manusia merupakan prototipe DAS ideal seperti filosofi a watershed is like our body. Hal utama yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah kegiatan-kegiatan ekonomi, sosial dan pembangunan harus memperhatikan kemampuan dan kesesuaian wilayah hulu, tengah dan hilir sebuah sungai.

Kegiatan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian wilayah DAS akan memicu kerusakan di dalamnya. Jika hulu Citarum terdapat ibukota provinsi, pusat ekonomi, perdagangan, dan industri, apakah sungainya normal? Bukankah hampir semua ibu kota provinsi di Indonesia berada di hilir? Penempatan wilayah yang tidak sesuai dengan karakteristik DAS sama saja menghancurkan ekosistem sungai itu.

Modal alamiah daerah aliran sungai (Ilustrasi: Hikmat Ramdan)

DAS merupakan mega sistem yang terdiri dari berbagai ekosistem. Manusia butuh ekosistem karena kita makhluk ekologis. Sebagai makhluk ekologis, manusia membutuhkan jasa ekosistem yang disediakannya. Bahkan jasa ekosistem yang dibutuhkan manusia dan disediakan ekosistem ada yang vital dan tidak bisa disubstitusi oleh barang lainnya, seperti air.

Dari mana air itu disediakan? Adakah air sintetik untuk menggantikan air yang disediakan ekosistem? Air tersedia secara alami melalui proses siklus hidrologi yang melibatkan ekosistem alami. Jika ekosistem DAS rusak, kuantitas, kualitas dan kontinuitas air akan terganggu. DAS dengan baik adalah modal alamiah (natural capitals) sebuah ekosistem. Jika modal berkurang, rusak, atau hilang, usaha apa pun akan rugi atau ambruk.

Indikator hidrologi DAS berupa kejadian banjir (too much), kekeringan (too little) dan tercemar (too dirty) bisa menjadi sinyal telah terjadinya degradasi ekosistem sungai yang harus kita pahami. Menghancurkan ekosistem sesungguhnya upaya menghilangkan peradaban masyarakat dalam sebuah ekosistem sungai.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.