Laporan Utama | Januari-Maret 2020

Pemanasan Global di Kaki Everest

Kenaikan suhu udara akibat pemanasan global membuat hamparan es di Himalaya menyusut. Batu-batu sebesar gunung menghangat akibat suhu naik rata-rata 0,09 derajat Celsius hingga 0,12 derajat Celsius per tahun di wilayah Khumbu dan Langtang. Gletser di ketinggian 5.000-6.000 meter dari permukaan laut menyusut dua kali luas Jakarta Pusat per tahun.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

KEMBALI menjadi pemandu turis mendaki gunung-gunung Himalaya, Domi Lama Sherpa merasakan suhu di Everest Base Camp tak sedingin dulu. Di awal-awal ia menekuni pekerjaan ini, setelah berhenti bekerja sebagai koki di sebuah restoran di Malaysia pada 2016, laki-laki 26 tahun ini masih merasakan suhu menancap hingga sumsum. “Saya kira akibat perubahan iklim,” katanya.

Domi sebetulnya tak terlalu akrab dengan istilah ini. Ia hanya mendengarnya dari para tetamu yang bolak-balik naik ke Everest—gunung tertinggi di dunia yang berada di Nepal, sebagian India, dan Tiongkok. Domi menjadi sherpa dengan bekerja di sebuah perusahaan pendakian yang berkantor pusat di Kathmandu, ibu kota Nepal. Pergaulan itu yang membuat ia paham Everest yang menjadi tumpuan hidupnya tengah merana akibat iklim yang berubah.

“Gletser masih bisa kita lihat di EBC,” katanya. “Tapi suhu makin hangat dari tahun ke tahun.”

Everest Base Camp adalah titik terakhir yang bisa dicapai oleh pendaki amatir. Tingginya 5.346 meter dari permukaan laut. Saya mencapainya pada 15 November 2019 pukul 16.30, bersama empat orang Indonesia lain. Perlu delapan hari berjalan kaki untuk sampai di sini dari Lukla, desa terakhir yang bisa dicapai dengan pesawat dari Kathmandu. Lukla berada di ketinggian 2.800 meter—setara Surya Kencana di Gunung Gede, Jawa Barat.

Dari sini jalan kaki selama tiga jam menuju Phakding, lalu tinggal semalam sebelum melanjutkan perjalanan sembilan jam ke Namche Bazar di ketinggian 3.500 meter. Di “ibu kota” para sherpa ini, kita perlu aklimatisasi sehingga harus menginap dua malam. Aklimatisasi adalah istilah umum di kalangan para pendaki sebagai proses penyesuaian tubuh dengan ketinggian dan oksigen tipis dengan cara naik-turun bukit ke ketinggian 3.810 meter.

Domi Lama Sherpa (Foto: Himalayan Magic Treks)

Saya berjalan selama tiga jam ke Hotel View Point di puncak itu, lalu turun ke Desa Khumjung, perkampungan para sherpa di ketinggian 3.700 meter. Aklimatisasi ini perlu karena setelah Namche Bazar saya melanjutkan perjalanan ke Tengboche di ketinggian 4.100 meter, menginap semalam, lalu naik 500 meter ke Dingboche selama delapan jam dengan trek panjang yang turun hingga hampir dasar sungai lalu naik curam di ujung.

Tanpa aklimatisasi, biasanya tubuh gagal beradaptasi dengan ketinggian. Akibatnya adalah kelelahan yang akut, sakit kepala berat, bahkan berhalusinasi. Namanya accute mountain sickness. AMS menyerang siapa saja, pendaki dengan otot liat atau mereka yang bertubuh penuh lemak. AMS juga sangat terpengaruh oleh psikologi. Jika kita jeri dengan tanjakan curam, dingin yang mencekam, AMS biasanya menyerang dengan mudah.

Di Dingboche, air sudah membeku. Suhu pada sore ketika saya sampai ke penginapan di hotel Khumbu turun -5 derajat Celsius. Seperti di Namche, saya menginap dua malam karena harus aklimatisasi ke bukit di belakang hotel yang menjulang 5.100 meter. Beberapa pendaki memilih aklimatisasi ke Chukung Ri, bukit setinggi 5.500 meter.

Sungai gletser di Himalaya di wilayah Dingboche.

Setelah Dingboche tak ada lagi aklimatisasi karena perjalanan tinggal dua pos atau dua hari lagi, yakni Lobuche dan Gorakshep. Setiap pos ditempuh dengan jalan kaki selama 8-9 jam, dengan jarak kira-kira 13-15 kilometer. Dari Gorakshep, dari penginapan terakhir, kita mesti jalan kaki tiga jam lagi untuk sampai ke Everest Base Camp. Total perjalanan selama delapan hari itu menempuh 130 kilometer.

Seperti kata Domi, di Everest Base Camp, pada November ketika musim panas hampir berakhir dan Himalaya bersiap menyambut musim dingin, masih terlihat gundukan-gundukan es yang merungkup batu-batu. Dari atas bukit, gundukan-gundukan itu seperti tenda-tenda putih, mirip di padang Arafah saat musim haji. Para pendaki yang sudah memiliki sertifikat dan izin memanjat ke tebing-tebingnya biasanya membuka tenda di sini sebelum naik ke ketinggian 6.000.

Masih ada delapan pos untuk bisa sampai ke pucuk Everest di ketinggian 8.810 meter. Di jalur selatan ini, pendaki akan melewati “The Death Zone” di ketinggian 7.000 sebelum mencapai Hillary Step, celah yang dipakai Sir Edmund Hillary, pendaki asal Selandia Baru, ketika memanjat ke sana pada 29 Mei 1953. Hari itu dicatat dalam sejarah sebagai hari ketika untuk pertama kalinya manusia bisa mencapai puncak tertinggi di planet ini. Hillary, meninggal pada 2008 di usia 89, naik bersama Tenzing Norgay—sherpa yang menemaninya menaklukkan pucuk itu.

Karena permukaan tanah dan jalur tertutup es, hanya pendaki ahli yang boleh naik ke puncak. Selain harus melengkapi diri dengan sepatu bersol krampon untuk memecahkan gletser, memanjat juga sudah memakai tali dan kapak es, bahkan tangga untuk melewati jurang dan celah dalam di antara dua tebing, atau memanjat tebing tegak. Menurut Himalaya Database, setidaknya 3.000 orang telah naik ke puncak itu setelah 1953. Sebanyak 500 orang di antaranya tewas terjatuh ke dalam jurang, kedinginan, atau terkubur reruntuhan es ketika badai.

Para pendaki melewati tebing terjal di Monjo. Sekitar 500 pendaki per hari datang ke Everest Base Camp.

Saya bertemu Domi di jalur setelah Tengboche menuju Dingboche pada hari ke-5. Domi sedang memandu seorang pendaki Prancis yang hendak naik ke ketinggian 6.500. Ketika kami bertemu lagi di Lukla setelah ia turun, Domi menunjukkan pendakiannya yang menakjubkan lewat foto-foto di telepon selulernya.

Domi nyerocos menceritakan pendakian itu tanpa sedikit pun terlihat lelah. Padahal tas dan celananya masih berdebu karena baru turun dari Namche Bazar menempuh jalan kaki 8 jam. Tamu Prancisnya yang terlihat ngos-ngosan dengan wajah kuyu.

Suku sherpa memang terkenal sebagai suku terkuat di Nepal. Bermigrasi lima abad lalu dari Tibet ke Khumjung, suku sherpa terbiasa hidup dalam oksigen tipis dan altitud yang kekurangan gravitasi. Sherpa bahkan kini jadi sebutan generik yang merujuk pada arti “pendaki pendamping”.

Penelitian Universitas Southampton, Inggris, pada 2018 menemukan bahwa mitokondria, sel dalam darah yang mendorong oksigen menjadi energi, suku sherpa bekerja lebih efektif ketimbang manusia dari suku lain di dunia. Maka Domi Lama tak terlihat capek sama sekali kendati baru turun dari ketinggian dengan suhu mematikan.

Ketika saya tiba di EBC, suhu menjelang petang itu turun ke 8 derajat Celsius di bawah titik beku. Di ketinggian yang dijangkau Domi, suhu drop minus 20. Di Gorakshep saja, desa terakhir di Himalaya, suhu turun 15 derajat di bawah titik beku ketika malam. Pengelola penginapan harus mencampur air bilas toilet dengan minyak agar air tak cepat jadi es.

Glester Himalaya mencari akibat pemanasan global.

Bagi Domi, suhu yang membuat mati rasa itu sudah menghangat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penelitian International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang mengamati suhu di sungai Khumbu sejak 1980 mengkonfirmasi apa yang dirasakan Domi.

Para peneliti gabungan pemerintah Nepal dan Norwegia itu mencatat suhu rata-rata di kaki Everest ini naik 0,09 derajat Celsius per tahun. Akibatnya, hamparan gletser di sini berkurang 24% per tahun antara 1977 hingga 2010 atau seluas 38 kilometer persegi. Luas gletser kian menyusut karena mencairnya es beku itu menjadi dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Luas gletser yang hilang kira-kira hampir sama dua kali luas Jakarta Pusat per tahun.

Pada 2010, ada sekitar 3.810 hamparan es di Himalaya. Gletser adalah sebutan untuk hamparan es seluas kira-kira 1 kilometer persegi. Menurut ICIMOD, di Everest sebanyak 90% gletser berada di ketinggian 4.500-6.500 meter, dengan 65% berada di ketinggian antara 5.000-6.000 meter. Di jalur selatan, ketinggian ini antara EBC dan Camp II, sepanjang gletser Khumbu dan Khumbu Icefall—jalur panjang tempat kuburan pendaki yang tewas akibat badai salju.

Kehilangan es di ketinggian Himalaya ini berdampak naiknya jumlah air di ribuan danau alami sehingga mengancam daerah hilir yang terlewati jutaan anak-anak sungai. Kesimpulan ini diambil tiga peneliti Universitas Postdam, Jerman, yang mempublikasikannya dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences yang terbit 14 Januari 2020. Tiga peneliti membuat 5 miliar simulasi terhadap danau-danau di Himalaya yang esnya mencair kian banyak.

Yak dan porter membawa barang menuju Gorakshep.

Akibat suhu naik, gletser yang mencair membuat volume air di danau tersebut bertambah dan meruntuhkan moraine—sedimen yang terbawa es lalu mengendap dan menjadi dinding danau. Moraine ini menjadi rapuh ketika terdesak oleh air danau yang melimpas. Dalam perhitungan para peneliti Postdam, setidaknya ada 5.000 danau yang kondisinya tidak stabil akibat tak kuasa menampung volume air.

Benar kata Domi Sherpa. Semuanya akibat perubahan iklim, pemanasan global.

Penelitian-penelitian lain menguatkan bahwa krisis iklim paling nyata berpengaruh di dataran tinggi Himalaya. Sebagai lokasi penyuplai air untuk 25% populasi mahluk hidup di planet ini, Himalaya begitu riskan dan rentan. Apalagi, kesimpulan banyak penelitian itu menyebutkan bahwa gletser di Everest akan menghilang lebih cepat dalam dua dekade mendatang. Kelak Everest hanya tinggal batu-batu padas yang gersang.

Kegersangan itu sudah terasa sejak dari Thukla di ketinggian 4.500 meter. Lepas dari Memorial View Point—tempat ratusan nisan para pendaki yang tewas ketika hendak mencapai puncak Everest—jalur landai menghamparkan jalan gersang dengan batu-batu coklat. Tak ada lagi pohon kecuali rumput gurun yang menghitam. Hingga Lobuche sampai Gorakshep, pemandangan sama gersangnya. Apalagi di jalur menuju EBC.

Dua lembah dan dua bukit yang terlewati menuju ke sana hanya berupa reruntuhan batu. Membentang, luas, panjang, tak berujung. Sekeliling hanya batu-batu sebesar gedung DPR, lembah yang dalam, tanah yang berdebu. Puncak-puncak gunung bertudung salju putih, menjulang, jauh, tak terjangkau. Manusia hanya noktah dalam gergasi alam yang maha besar ini.

Dikdan Kulung (kiri) bersama penduduk lain di Himalaya berlatar puncak Everest.

Para pendaki berjalan pelan, meniti batu satu-per-satu, mengatur napas, dan psikologi yang mengkeret menghadapi semesta ini. Menurut catatan Himalaya Base Trekking, turis yang mendaki Everest lewat Lukla sebanyak 500 orang per hari ketika musim puncak September-November. Sementara pendaki yang naik hingga puncak juga kian bertambah dari tahun ke tahun.

Orang menjadikan Everest sebagai prestise. Mereka berlomba menjadi yang pertama: swafoto pertama di puncak, menikah pertama di puncak, kembar pertama yang berhasil naik ke puncak, dan seterusnya. Pada 2019, Kementerian Pariwisata Nepal menerbitkan 770 izin pendakian ke pucuk Everest.

Sejak Everest dibuka untuk turis umum pada 1993, peminat yang naik ke sana memang meruyak. Dalam buku Into Thin Air, wartawan majalah Outside Jon Krakauer, menulis bahwa tragedi pendakian 1996 memakan korban jiwa karena “kemacetan” di puncak Everest. Ada delapan orang tewas akibat badai salju dan beberapa terjebak di dalamnya. Menurut Jon, yang berada dalam kelimun badai itu, saking banyaknya pendaki yang hendak naik ke puncak, mereka harus antre dan bergantian memanjat sehingga tak bisa menghindari badai karena waktu turun jadi molor.

Patung Tenzing Norgay, sherpa pertama yang berhasil naik ke puncak Everest pada 29 Mei 1953, di Namche Bazar.

Di Everest ada istilah “macet Himalaya” yang merujuk pada bertumpuknya pendaki di jalan yang sempit, baik di puncak maupun di jalur menuju ke sana. Di bawah Everest, macet mengacu pada menumpuknya pendaki di jalan sempit karena berpapasan dengan yak atau pendaki lain dari arah berlawanan. Jalan-jalan pendakian selebar 1-2 meter kadang tak cukup menampung pendaki yang meruyak.

Everest bukan lagi tempat tertutup yang misterius, seperti diceritakan Tenzing Norgay dalam buku Conquering Everest (2011). Terutama sejak ia dan Hillary mengguncang dunia yang tegang karena negara-negara besar sedang berebut pengaruh dalam “Perang Dingin”. Everest kian terbuka setelah bandar udara Lukla dibangun pada 1964.

Para sherpa yang mendapatkan pendidikan di sekolah yang dibangun Hillary di Khumjung mengembangkan bisnis pendakian, guide, restoran, hingga penginapan di desa-desa sepanjang jalur Everest. Juga rumah sakit di desa itu yang membuat kecelakaan pendakian bisa dihitung dan diantisipasi sejak awal.

“Invasi” manusia ke Everest ini menimbulkan masalah serius. Di satu sisi ia menghidupkan ekonomi masyarakat di dataran tinggi Himalaya. Jika dari 500 turis sehari itu 80 persen adalah pendaki amatir yang menghabiskan Rp 20 juta selama 10 hari, ada Rp 1 miliar uang sehari yang berputar dalam bisnis turisme Nepal. Sementara pemerintah Nepal mendapatkan Rp 46,2 miliar setoran dari pungutan izin mendaki ke puncak. Pendaki profesional biasanya menghabiskan Rp 85 juta per orang selama 1-2 bulan.

Kota Namche Bazar yang acap disebut Ibu Kota Para Sherpa dan menjadi gerbang kedua menuju puncak Everest dari jalur selatan.

Di sisi lain, serbuan manusia itu membuat sampah menggunung. Jika setiap pendaki membawa rata-rata 17,8 kilogram sampah ke dataran tinggi ini, ada 3.300 ton runtah dalam setahun. Apalagi sampah yang dibawa pendaki berupa plastik, tabung oksigen, dan sampah lain yang tak bisa diurai alam. Belum lagi sampah hotel dan kafe sepanjang jalur pendakian. Turisme Everest menyediakan dilema antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Sampah-sampah itu menjadi bagian dari penyebab perubahan iklim. Dampak paling terasa dari  sana adalah ketersediaan air. Tsering Pasang Sherpa, pemilik hotel Everest Inn di Gorakshep, mengatakan air kian sulit didapatkan di sekitar hotel. Ia harus mempekerjakan tiga orang khusus mengangkut air dari Khalapatar dan gunung-gunung yang jauh. Untuk mendapatkan satu galon air bersih 35 liter, pekerja Everest Inn harus berjalan sekitar dua jam. “Sehari kami menghabiskan 1.500-2.000 liter air,” kata Pasang.

Seorang pendaki di Everest Base Camp yang gersang di bulan November 2019.

Di Namche Bazar air juga makin sulit. The Guardian melaporkan pada 2018 telah dibangun pipa sepanjang 11 kilometer untuk mengalirkan air dari gunung ke hotel-hotel untuk memenuhi kebutuhan air di kafe dan penginapan. Para petani yang diwawancarai koran asal Inggris ini mengeluhkan kesulitan air untuk tanaman mereka yang berkurang dan tercemar tinja manusia.

Pencemaran adalah problem lain di Everest. Sampah yang menggunung itu tak didaur ulang, tapi hanya ditimbun di dalam tanah sehingga bisa mencemari air. Para NGO dari seluruh dunia memang datang ke sana untuk mengajari masyarakat memanen air hujan. Tapi kelangkaan air tanah adalah musibah lain di Everest akibat turisme yang naik.

Penelitian ICIMOD pada 2015 menghitung pada 2100 gletser di Everest tinggal 1 persen. Jika itu terjadi, apabila kita gagal mencegah suhu bumi naik akibat pelepasan emisi pada 2050 karena pelbagai sebab pemanasan global, 2 miliar manusia di Asia akan kelaparan, kekurangan air, dan dunia mungkin sepanas neraka...

Foto-foto oleh Bagja Hidayat.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain