Laporan Utama | April-Juni 2019

Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dewi Rahayu Purwa Ningrum

Alumni Fakultas Kehutanan IPB

SUNGAI Citarum yang mengalir sepanjang 269 kilometer dari Gunung Wayang di Bandung hingga bermuara di Laut Jawa di Bekasi adalah sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat. Hampir separuh penduduk provinsi ini hampir 50 juta menggantungkan hidup kepada sungai ini: untuk pertanian, untuk pangan, bahkan untuk hidup sehari-hari.

Tapi sungai ini kini merana akibat degradasi lahan, sampah, hingga limbah pabrik yang dibuang langsung ke badannya. Media asing menjulukinya sebagai sungai terkotor di kolong langit. Sejak akhir 2017, lewat program Citarum Harum—yang diresmikan mulai Februari 2018—pembersihan besar-besar Citarum dimulai secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.

Presiden Joko Widodo membentuk Satuan Tugas Citarum Harum yang mengoneksikan seluruh instansi yang terkait Citarum: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Jawa Barat, hingga Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi. Program yang akan berlangsung tujuh tahun ini sudah menunjukkan hasilnya: Citarum mulai bersih, setidaknya di hulu sungai di situ Cisanti, tempat bermukim tujuh mata air sumber sungai Citarum.

Di titik nol kilometer Citarum itu kini dijaga tentara dan menjadi objek wisata baru di sekitar Gunung Wayang. Penanaman besar-besaran di sekitar gunung ini terus digeber dengan menggenjot agroforestri dengan mengkombinasikan tanaman keras dan tanaman semusim oleh penduduk di sekitarnya. “Bagi saya belum ada cerita sukses, masih banyak yang harus diperbaiki,” kata Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL)Citarum-Ciliwung Taruna Jaya.

Lembaga ini berada di bawah Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tugasnya menjaga dua sungai di Jawa Barat dan Jakarta itu agar menjadi penjaga keseimbangan alam. Apa saja hasil setahun Citarum Harum? Berikut ini penuturannya kepada Forest Digest pada pertengahan Mei 2019 di ruang kerjanya di Bogor.

Bagaimana bentuk keterlibatan BPDASHL dalam normalisasi Citarum?

Kami bertugas meningkatan pengelolaan dan kelembagaan DAS agar fungsi dan daya dukungnya meningkat dalam menyediakan air bagi kehidupan. Kami merehabilitasi hutan dan lahan di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan, memberdayakan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi dan menjadi fasilitator pelaksanaan kegiatan yang terkait kelestarian lingkungan.

Bagaimana dengan program Citarum Harum?

Ini program terintegrasi untuk “gotong royong” para pihak dalam pelestarian Citarum. Soalnya, problem utama Citarum bukan soal tanaman di hulu tapi problem sosial. Salah satu program kami adalah konservasi tanah dan air. Salah satu caranya sosialisasi kepada petani. Sebenarnya masyarakat paham dan tahu akibatnya bila mengelola tanah secara salah, namun ada aspek ekonomi yang lebih berpengaruh. Ini problemnya. Sementara soal limbah dan sampah itu masalah gaya hidup. Kita tahu gaya hidup belum menjadi kesadaran di masyarakat kita. Jika kami larang masyarakat tak buang sampah ke sungai, belum ada manajemen sampah, sehingga sanksi belum bisa ditegakkan. Aspek kerusakan lingkungan belum menjadi ranah pidana.

Jadi apa prinsip normalisasi Citarum?

Pengelolaan air itu memiliki tiga prinsip, yang disebut THR (tahan, hambat, dan resap). Tiga prinsip ini belum optimal karena searah dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan. Prinsip THR tidak akan tercapai bila hutan dan lahan tidak lestari.

Citarum Harum ini program spesial?

Semua sungai spesial karena menopang kehidupan dan merupakan sumber air. Citarum adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat yang memasok air ke beberapa kota besar sehingga kelestariannya menjadi hal urgen.

Sampah menjadi problem utama yang ditangani Citarum Harum?

Ya, karena rehabilitasi hutan dan lahan sudah dilakukan lama sekali, bahkan sejak sebelum ada lembaga ini.

Apa hambatan Citarum Harum?

Dalam kawasan hutan ada Perum Perhutani dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Penanganannya koordinasi karena kewenangan pengelolaan dalam kawasan hutan ada di bawah Badan Pelaksana DAS. Di luar kawasan adalah aspek ekonomi masyarakat yang belum bisa diakomodasi oleh hasil kegiatan rehabilitasi lahan karena nilai ekonomi pertanian satu musim seperti ketang lebih menguntungkan dari pada merehabilitasi lahan. Pemakaian pestisida membuat tanaman hutan cepat mati. Menaman kentang juga lebih mudah.

Apa solusinya?

Bergotong royong. Semua pihak, baik masyarakat hingga pemerintah pusat, mencarikan alternatif sumber pendapatan lain agar beralih dari tanaman semusim.

Sudah berhasil?

Saya merasa belum ada sucsess story. Saya merasa masih banyak hal yang harus diperbaiki. Bagi kami, ada atau tak ada Citarum Harum memang sudah tugas kami menjaga keseimbangan daerah aliran sungai agar tercipta keseimbangan alam.

Apa yang harus diperbaiki?

Ada kelembagaan mandiri yang dibentuk masyarakat, asosiasi perusahaan, dan sebagainya, atas kesadaran pribadi dan kebutuhan bersama untuk kelestarian DAS bukan dari paksaan keputusan atau intervensi oleh pemerintah. Citarum harus menjadi tempat wisata agar masyarakat turut menjaganya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain