Untuk bumi yang lestari

Laporan Utama|Juli-September 2019

Insaf yang Hampir Terlambat

Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

SETELAH lebih dari satu dekade, skema restorasi ekosistem “masih mencari bentuk” sebagai cara baru mengelola hutan secara lestari, terutama di hutan produksi. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Hendroyono menyebutnya sebagai masa depan pengelolaan hutan yang berbasis ekosistem.

Hutan tak akan lagi ....

Klik Login jika Anda pernah membeli artikel ini.
Dukung kami dengan menjadi Pelanggan melalui tombol Daftar dan Deposit.
 
 
 

Anggota dewan redaksi, konsultan kehutanan dan lingkungan.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain