Laporan Utama | April-Juni 2020

Berdemo di Negeri Greta Thunberg

Pengalaman mengikuti demonstrasi iklim di Stockholm. Greta Thunberg jadi pahlawan di negerinya, yang rapi, yang peduli pada lingkungan.

Artika Rachmi Farmita

Wartawan. Mahasiswa S2 Media Management di KTH Royal Institute of Technology, Stockholm

IS there anyone who will join klimatstrejk next Friday?” suara Elina Eriksson tiba-tiba memecah keheningan. 

Kami sedang berada di kelas mata kuliah yang dia ampu, Sustainable Information and Communication Technology in Practice. Dia hanya memastikan, siapa saja yang akan absen pada tanggal 14 Februari 2020 itu, karena waktunya bersamaan dengan jadwal kuliah berikutnya.

“I just want to say it’s fine if you are absent. Because I’ve joined some climate strike before, so...it’s fine.”

Elina menjadi peserta demonstrasi krisis iklim terbesar dalam sejarah Swiss di Stockholm pada 20 September 2019 silam.

Saya baru sadar, selama tinggal di Stockholm belum pernah terpikir mengikuti demonstrasi bertema lingkungan yang acap digelar di ibu kota Swedia itu—tanah kelahiran Greta Thunberg, remaja yang kini jadi ikon gerakan mencegah pemanasan global. Maka tawaran Elina saya sambar dengan mencari detail agenda demonstrasi di Hari Kasih Sayang itu melalui media sosial Fridays for Future Stockholm, organisasi yang menjadi penggerak demonstrasi itu..

Saya ajak juga kawan-kawan program mentorship yang saya ikuti di Stockholm School of Entrepreneurship. Sayangnya tak ada respons. Lalu saya teringat seorang kawan Indonesia yang lain, Puspita, asal Manado. Kami kuliah di kampus dan departemen yang sama, Electrical Engineering and Computer Science, walau berbeda jurusan. Pada tahun pertama di jurusan Interactive Media Technology, ia pernah mengambil mata kuliah pilihan “Sustainability and Media Technology”. Pita setuju dengan ajakan saya.

Esoknya, kami menyusun rencana. Beruntung di Swedia, memilah sampah sudah jadi kewajiban sekaligus kebiasaan. Selain sampah basah makanan, sampah anorganik seperti plastik, kaleng logam, gelas kaca, gelas berwarna, dan kertas mesti dipisahkan sejak mula. Jadi, bahan dasar poster berupa karton berukuran besar kami dapatkan secara cuma-cuma dari bank sampah gedung apartemen.

Pada Kamis malam, Pita menginap di kamar kos saya untuk mengerjakan poster bersama. Pita memilih menggambar karakter Earth Chan, bumi dalam wujud manusia karena ia penggemar berat anime dan manga Jepang. Sedangkan saya membuat poster dalam bentuk hati besar berwarna hitam, layaknya Black Valentine. Rasanya deja vu sebab sebelum melanjutkan studi di Swedia, saya dan kawan-kawan gerakan kerohanian kampus di Surabaya menggelar kampanye aksi tolak Valentine di tahun 2015.

Jumat pagi kami masih mengikuti kuliah karena aksi akan dimulai pukul 13 di Mynttorget, sebuah taman dekat gedung parlemen—lokasi awal mula Greta berdemo yang fenomenal itu tahun 2018. Maka kami janjian bertemu di sekitar Sergels torg, semacam alun-alun di pusat kota, sebelum berjalan sekitar 600 meter menuju Mynttorget. Karena kami salat lebih dulu di kampus, kami baru tiba di Mynttorget pukul 13.20. Kami celingukan mencari rombongan orang-orang peserta aksi. Nihil. Pendemo sudah bergerak dari taman itu.

Tak berapa lama, kami lihat beberapa orang membawa poster. Dua remaja perempuan, satu bapak dengan dua anaknya. Kami saling bertanya soal rute demonstrasi.

Usai menembus kerumunan wisatawan di Gamla Stan (Old Town) dan menyusuri gang-gang kecil di sana, kami berhasil melihat ekor barisan hampir mencapai jembatan Södra Järnvägsbron.

Internationell solidaritet, vi har bara en planet!” teriak pemimpin demo. Artinya kira-kira “solidaritas internasional, kita hanya punya satu planet.”

Di belakang saya, seorang laki-laki yang menggandeng putrinya berteriak. “Vad ska vi göra? Rädda klimatet! När? NU! När?” (Apa yang harus kita lakukan? Selamatkan iklim! Kapan? Sekarang!) Si putri kecil terdengar lantang meneriakkan yel-yel. Anak-anak kecil lain dalam rombongan bersahutan menjawab teriakannya. Takjub saya dibuatnya.

Peserta aksi datang dari beragam usia. Ada guru-guru dengan siswa-siswinya. Ada ayah dengan putra-putrinya yang masih kecil. Ada remaja berpakaian modis nan trendi. Ada kakek-nenek yang membikin sendiri poster bertuliskan “Grandparents for Future”. Ada suami-istri yang membawa bayi yang dipasangi penutup telinga dalam kereta dorong bayi karena cuaca sangat dingin. Ada gerombolan mahasiswa dengan membawa spanduk beratribut kampus. Beberapa orang meneriakkan yel-yel tanpa memegang poster. Demo itu dihadiri 2.000 orang, menurut media setempat.

Di titik akhir, kawasan Medborgarplatsen, kami berkumpul menunggu hingga barisan terakhir tiba. Selama sejam, deretan musisi dan penyanyi rap menghibur massa sampai Greta Thunberg muncul di atas panggung. Ya. Dia Greta Thunberg. Remaja yang fenomenal itu. Kedatangannya disambut dengan gemuruh. Para remaja memekik kencang. Greta benar-benar telah jadi idola baru remaja Swedia, bahkan jadi pahlawan mereka.

Greta berpidato di panggung itu. Seperti biasa, kata-katanya membius, dengan logika yang melampaui gadis remaja seusianya, bahkan zaman dan orang-orang tua seusia ayah-ibunya.

Sekitar pukul 15.00, demo berakhir. Sebagian orang berfoto dengan Greta, sebagian lagi berfoto di booth berlogo Fridays for Future.

Pengalaman mengikuti aksi ini membawa lebih banyak pertanyaan lagi di kepala saya. Apa yang bisa saya bawa agar bermanfaat bagi Indonesia? Apa yang bisa saya lakukan untuk memperlambat kerusakan bumi? Bagaimana saya bisa mengajak orang-orang di sekitar saya? Indonesia kan, disebut sebagai negara dengan jumlah orang yang meragukan pemanasan global sedang terjadi paling banyak di dunia?

Demo iklim di Stockholm (Foto: Artika Farmita)

Saya tiba di Swedia pada 1 Agustus 2018, ketika Greta belum sepopuler sekarang. Namun isu kelestarian lingkungan sudah terasa familier dalam obrolan sehari-hari. Swedia sebelum Greta adalah masyarakat dengan kesadaran tinggi terhadap perubahan iklim sejak Laut Baltik tercemar parah akibat Perang Dunia.

Awalnya saya skeptis terhadap isu kelestarian maupun perubahan iklim. Soalnya, bumi memanas karena Revolusi Industri dan kapitalisme yang muncul di Eropa. Jika kini Eropa menyerukan dunia mencegah pemanasan global, apa tidak salah?

Seiring waktu, saya sadar marah tidak akan membawa kita ke mana-mana. Perubahan besar untuk mendorong negara-negara maju berpengaruh agar meredam nafsu mereka juga perlu dibarengi dengan kesadaran komunal maupun individu. Baik dari negeri-negeri utara maupun yang di selatan seperti Indonesia. Warga dunia di belahan selatan juga harus bersuara dan bergerak.

Saya terinspirasi dan diam-diam tertular gaya hidup orang-orang Swedia yang lebih senang makan ala vegetarian dibandingkan memakan daging sapi dan ayam karena menyumbang emisi karbon. Memisahkan jenis sampah, membawa tas sendiri saat berbelanja, membeli barang bekas daripada baru, sampai mengurangi bepergian dengan pesawat.

Sampai-sampai ada kelakar flygskam alias flight shame di Swedia agar orang-orang berhenti terbang dengan pesawat untuk mengurangi emisi karbon dan mengajak naik kereta api atau bus jarak jauh. Kampus saya, KTH, salah satu yang terdepan dalam meriset pengurangan emisi penerbangan ini. Alhasil, pada tahun baru 2020, saya berkeliling Eropa Tengah tanpa penerbangan.

Ketika hari beranjak sore, saya pulang naik tunnelbana atau kereta bawah tanah. Meninggalkan taman bersama peserta aksi hari itu. Kubah Masjid Central Stockholm tersiram cahaya matahari sore. Kubah itu berkilau keemasan. Ini sebetulnya kecantikan yang ironis karena Februari di Swedia biasanya bulan musim dingin paling suram, gelap, dan suhunya lebih dari minus 200 Celsius. Musim dingin jadi lebih hangat. Salju turun sesekali dan pepohonan di taman-taman kota berbunga lebih cepat. Iklim benar-benar telah berubah.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain