Salam Ketua | Januari-Maret 2020

Hujan Tahun Baru

Hujan tahun baru itu sesungguhnya adalah pengingat bagi kita akan lebih peduli terhadap lingkungan. Ulasan-ulasan di edisi ini menguatkan itu.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

AGAKNYA isu lingkungan makin terasa penting dan genting. Tahun baru 2020 diawali dengan bencana banjir yang hebat akibat curah hujan yang lebat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat hujan 1 Januari 2020 sebagai hujan terlebat dalam 154 tahun terakhir, dengan intensitas 377 milimeter per hari. Dengan melihat data ini, saya kira, kita harus makin sadar bahwa perubahan iklim itu sedang terjadi, pemanasan global memang tengah berlangsung.

Hujan lebat pasti bukan hanya karena waktunya, tapi karena alam sedang berubah. Ada proses di semesta yang tak lazim akibat suhu bumi, gelombang udara, dan frekuensi cahaya yang berubah. Penyebabnya tak lain karena ulah kita, manusia. Apa yang ada di bumi selalu berkaitan dengan apa yang kita perbuat. Jarak 154 tahun adalah jarak ketika Revolusi Industri mulai berjalan dan masif.

Revolusi Industri 200 tahun lalu ditandai oleh teknologi yang memakai bahan bakar. Kita menemukan bahan bakar di bumi lalu mengeruknya. Bumi jadi gerowong dan pembakarannya membuat lapisan ozon kita meleleh. Akibatnya, panas matahari yang memancar ke bumi terperangkap di sana. Panas tak menguap ke semesta sehingga suhu planet ini jadi menghangat. Kita menyebutnya efek rumah kaca. Pemanasan global.

Banjir tentu saja karena air dari hujan besar itu tak tertampung oleh badan sungai. Tapi sungai seharusnya memang sebesar itu lebarnya sejak awal terbentuk. Maka air yang tak tertampung itu karena melimpas akibat tak terserap di hulu. Penyerap air di hulu tak lain adalah pohon. Jadi, air yang tak terserap dan kita sebut banjir itu karena ia sampai ke permukiman karena rumah untuk pohonnya sudah tak ada.

Kita menyebutnya deforestasi dan degradasi lahan. Hutan kian menyusut akibat pohonnya kita tebangi, lahannya kita okupasi untuk rumah dan industri. Semua itu karena kita, karena sifat survival kita di bumi. Jumlah manusia yang bertambah pada akhirnya akan kian mendesak alam ini, planet ini.

Hilangnya pohon-pohon membuat emisi dari aktivitas kita itu juga tak terserap. Akibatnya panas matahari langsung tembus ke bumi. Karbon yang dibutuhkan tumbuhan menghasilkan oksigen untuk manusia bernapas menjadi mubazir karena tak terserap dan termanfaatkan. Akibatnya panas. Akibatnya air di laut cepat menguap karena terserap ke atas. Jadinya hujan lebat yang membuat badan sungai tak lagi menampung volumenya.

Maka hujan tahun baru itu sesungguhnya adalah pengingat bagi kita akan lebih peduli terhadap lingkungan. Ulasan-ulasan di edisi ini menguatkan itu. Es di gunung Everest jadi meleleh menjadi air dan membentuk ribuan danau. Danau itu tak bisa menampung jutaan ton es sehingga Himalaya bisa terancam kebanjiran. Sebuah studi di Universitas Postdam mengalkulasi nasib danau-danau itu dalam 50 tahun ke depan.

Dalam tataran praktis, perhutanan sosial seharusnya menjadi solusi mencegah bencana. Ia adalah resultante kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekologi. Perhutanan sosial, yang sudah dibahas panjang lebar di edisi sebelumnya, mengajarkan bahwa kebutuhan ekonomi manusia bisa terpenuhi jika mencarinya seraya memelihara hutan. Hutan yang kembali hijau telah menyelamatkan sosial-ekonomi masyarakat sekaligus terhindar dari bencana ekologis, bencana lingkungan yang kerugiannya acap mengerikan.

Maka di momen tahun baru ini semoga kita makin sadar pentingnya urusan lingkungan di atas segala urusan. Politik, ekonomi, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur seyogianya tetap mengarah pada keseimbangan alam. Semoga kita belum terlambat untuk menyelamatkan bumi ini, spesies kita di planet ini.

Salam lestari!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.