Salam Ketua | Juli-September 2019

Peran Rimbawan di Era Milenial

Sektor kehutanan mesti berintegrasi dengan sektor lain agar bertambah kuat. Paradigma pembangunan kini tak lagi bisa mengandalkan satu sektor yang mengisolasi diri.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

SAYA terharu oleh antusiasme para alumni Fakultas Kehutanan IPB dalam acara syawalan di IPB International Convention Center pada 6 Juli 2019. Acara ramai dan terutama karena kami berhasil merumuskan refleksi dan pemikiran rimbawan IPB sebagai sumbang saran untuk pengelolaan masa depan kehutanan di Indonesia. Setidaknya refleksi ini bisa menjadi bahan renungan untuk masa jangka pendek lima tahun ke depan.

Refleksi ini merupakan hasil dari serangkaian diskusi terfokus yang menghadirkan para pembicara yang mumpuni di tiga sektor yang kami soroti: perhutanan sosial, usaha kehutanan, dan politik kehutanan. Menurut kami inilah tiga hal pokok yang akan dan harus menjadi isu sektor kehutanan ke depan. Kami menyusunnya dalam kertas kerja yang mudah-mudahan bisa menjadi acuan ke depan. Kami tak menyusunnya dalam tataran ideal tapi lebih taktis dan praktis untuk diterapkan.

Ada 10 poin yang kami ulas dari tiga tema utama itu. Kami memulainya dengan menelaah masalah sektor kehutanan sekarang, juga potensi, tantangan, serta peluangnya di masa mendatang. Sebagaimana kita tahu sektor kehutanan sangat potensial menjadi tulang punggung ketahanan bangsa Indonesia. Dengan wilayahnya yang luas, dengan hutan alamnya yang murni, dan masyarakatnya yang beragam dengan kultur dan ada istiadat, kehutanan bisa menjadi tumpuan harapan Republik ini.

Namun, masalah dari sektor kehutanan juga tak sedikit. Kami coba urai satu-satu untuk menemukan solusinya. Integrasi dan kolaborasi dengan sektor lain adalah keniscayaan yang tak bisa ditolak, di era industri 4.0 dan milenial ini. Sektor kehutanan mesti berintegrasi dengan sektor lain agar bertambah kuat. Paradigma pembangunan kini tak lagi bisa mengandalkan satu sektor yang mengisolasi diri.

Seperti dikatakan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Profesor Dudung Darusman, sektor kehutanan harus mencari teman sebanyak mungkin untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari. Tanpa teman yang banyak pengelolaan akan centang-perenang dan jalan sendiri-sendiri. Akibatnya, seperti di masa lalu, pengelolaan kehutanan centang-perenang karena mengabaikan pemikiran-pemikiran baik yang datang dari luar pemikiran para rimbawan.

BACA: Multiusaha: Jawaban Atas Pengelolaan Hutan Lestari

Dengan informasi yang masif melalui Internet, kini makin banyak yang sadar dan paham bagaimana mengelola lingkungan yang lestari, bagaimana seharusnya mengelola lingkungan yang bermanfaat bagi planet ini dan penghuninya. Alih-alih menganggap sebagai halangan, kami melihat arus besar keberpihakan itu sebagai peluang dan kekuatan. Masyarakat harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembangunan kehutanan.

Refleksi dan pemikiran itu sejalan dengan tema utama edisi 12 majalah ini. Restorasi ekosistem adalah tema mutakhir dalam 10 tahun terakhir. Restorasi adalah peluang kita menata kembali pengelolaan hutan yang memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk alam dan manusia. Restorasi adalah jalan kita menebus dosa masa lalu kendati menengok terus ke masa yang lewat tak akan menyelesaikan problem. Masa lalu harus menjadi pijakan dan pelajaran berharga menata strategi ke depan.

BACA: Saatnya Meninggalkan Kayu

Hal ini terkait dengan paradigma baru dalam memandang hutan yang tak lagi semata kayu. Multisektor adalah jawaban dalam pengusahaan hutan. Sebagaimana sebuah penelitian bahwa hutan akan jauh lebih produktif jika tak hanya dilihat kayunya semata. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan di dalamnya: wisata, pendidikan, pengalaman, karbon, yang bisa menumbuhkan dan merawat fungsi ekologi, sosial, serta ekonomi sebuah kawasan.

Paradigma timber based sudah saatnya kita tinggalkan karena tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Inovasi-inovasi para rimbawan mendapat tantangan yang serius di masa depan untuk lebih kreatif memaksimalkan potensi yang ada dalam kawasan hutan. Sebab, saya yakin, baik para rimbawan maupun nonrimbawan ingin hutan kita abadi, ingin pengelolaan lingkungan kita lestari.

kutipan dudung darusman

Kembali mengutip Profesor Dudung, bangsa yang kuat di masa mendatang adalah bangsa yang mampu mengelola hutannya dengan arif, bukan negara yang kuat senjata nuklirnya. Sebab hutan adalah kita. Tak alasan kuat lain mengapa kita ditakdirkan hidup di bumi Indonesia selain sebagai generasi terpilih untuk menjaganya.

Salam lestari,

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.