Salam Ketua | Oktober-Desember 2018

Menuju Majalah Umum

Kami mencita-citakan majalah ini sebagai bacaan alternatif media populer tentang hutan dan lingkungan hidup sekaligus referensial. Artinya, majalah ini setengah populer-setengah-jurnal, namun bukan jurnal akademis yang rigid oleh aturan-aturan penulisan karya ilmiah.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

FOREST Digest memasuki edisi ke-9. Artinya majalah ini sudah melewati dua tahun. Bisa terbit sesuai jadwal melewati 48 bulan, bagi kami, adalah sebuah prestasi yang layak dibanggakan. Para pengelola majalah ini sebermula tak punya pengalaman mengurus sebuah majalah yang dikemas secara populer. 

Pengalaman selama dua tahun mengajarkan kepada kami bahwa hal paling krusial dalam menerbitkan sebuah berkala adalah tenggat. Kami baru sadar bahwa tenggat tak bisa dilawan, tapi dengan tenggat disiplin bisa ditegakkan. Kami mematuhi tenggat yang kami buat sendiri itu agar anggota redaksi terbiasa dengan kerja yang punya batas akhir ini. 

Tenggat mengandung banyak makna dalam penerbitan. Ia yang membatasi edisi bulan ini, sekaligus ia yang membuka kembali edisi bulan mendatang. Siklus itu terus berputar dan kami di dalamnya dituntut mengisi halaman-halaman majalah ini dengan sajian-sajian yang, mudah-mudahan, makin bermutu. 

Kami mencita-citakan majalah ini sebagai bacaan alternatif media populer tentang hutan dan lingkungan hidup sekaligus referensial. Artinya, majalah ini setengah populer-setengah-jurnal, namun bukan jurnal akademis yang rigid oleh aturan-aturan penulisan karya ilmiah. Seperti jurnal populer karena kami ingin isi majalah ini berupa penelitian-penelitian akademis yang dikemas dengan feature atau teknik-teknik penulisan yang menghibur. 

Dalam dua tahun ini kami terus mengupayakan cita-cita ini dalam setiap penerbitan. Sebab, kami ingin makin meluaskan pembaca Forest Digest, tidak saja alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tema-tema yang disajikan, seperti edisi kali ini, juga mengikuti berita hangat di publik yang kami tinjau dan meluaskan isunya agar sebuah masalah punya konteks yang lengkap. 

Urusan satwa liar adalah urusan kita bersama. Kita hidup bersama satwa dan fauna sebagai sesama mahluk penghuni bumi. Bahasan dari para ahli satwa, juga studi-studi mutakhir, dalam edisi ini kian menegaskan bahwa seyogyanya manusia hidup secara harmonis dengan mereka. Jumlah satwa yang merosot 60 persen dalam 40 tahun terakhir mencengangkan sekaligus mencemaskan. 

Hewan-hewan endemik kita kelak tinggal nama jika kita tak melakukan sebuah upaya serius menyelamatkan mereka sejak sekarang. Kehilangan mereka sesungguhnya sama saja dengan kehilangan manusia, sebab bumi adalah sebuah ekosistem yang saling mendukung. Berkurangnya jumlah ikan dan penguin menandakan pemanasan global adalah masalah serius yang kita hadapi hari ini, yang imbasnya kita rasakan. 

Untuk meluaskan pembaca tadi itu, kami juga sudah menerbitkan web agar artikel-artikel bisa dibagikan secara lebih mudah. Bagi yang menyukai format majalahnya kami tetap mencetak secara terbatas dan menyediakan tautan pdf di web ForestDigest.com

Beberapa rubrik juga berubah menyesuaikan tujuan majalah umum. Kabar Alumni berganti menjadi Kabar Rimbawan. Kabar Kampus tak hanya merekam kegiatan mahasiswa di Fakultas Kehutanan IPB, tapi kampus-kampus di seluruh Indonesia. Berita Kilas juga akan diperbanyak agar pembaruan informasi tetap terjaga di antara artikel-artikel yang tak lekang oleh waktu. 

Majalah ini tetap diedarkan secara gratis. Meskipun sejarawan Yuval Noah Harari mengatakan hal paling berbahaya di era Internet adalah informasi gratis, kami ingin tetap merayakan demokratisasinya. Setiap orang berhak mendapat informasi yang kredibel dan akuntabel, justru agar yang dicemaskan Harari tak terjadi, yakni meruyaknya hoaks dan kabar bohong di tengah tsunami informasi dewasa ini. 

Akhir kata, semoga apa yang kami ikhtiarkan dan sajikan bermanfaat buat para pembaca. 

Salam Rimbawan,

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.