Salam Ketua | Juli-September 2018

Edisi Penuh Kenangan

Selama menuliskan pengantar ini ada yang mengganjal di tenggorokan saya karena haru akan kisah-kisah dan nilai-nilai yang kita petik bersama di kampus kita tercinta.

M. Awriya Ibrahim

Ketua Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB periode 2015-2018

Akang dan Teteh yang baik,

Saya senang membaca bahan-bahan edisi khusus Hapka di Forest Digest edisi 08 ini, majalah kebanggaan kita semua. Sayangnya, tak semua angkatan mengirimkan tulisan. Tapi, saya tahu, menulis adalah pekerjaan berat. Anak Fahutan kalau disuruh “ngoceh” pasti tahan sampai pagi, tapi disuruh menulis dua paragraf susahnya minta ampun. Saya paham kesulitan akang dan teteh menuangkan ide ke dalam tulisan untuk dimuat di sini.

Selama empat-lima tahun kuliah kita terlatih menyusun laporan akademik. Tapi ketika menulis bergaya populer memang tak mudah seperti yang dibayangkan. Selama kuliah itu pula kita terbiasa berkumpul saling bertukar cerita. Seribu persen saya yakin, akang dan teteh punya banyak cerita yang tak akan mengenal selesai dikisahkan, di angkatan masing-masing, tapi menjadi hilang ketika akan dituliskan.

Saya baca, misalnya, cerita angkatan 28. Kang Dian Sukmajaya, yang akrab kita panggil Kang Kojay, sampai harus mengiming-imingi voucer kepada rekan-rekan seangkatannya agar ada yang mau menuliskan kenangan mereka selama menjadi mahasiswa Fahutan. Voucer tidak berhasil, Kang Dian mendadak jadi wartawan dan mewawancarai rekan-rekannya untuk mendapat insight dan cerita.

Angkatan lain menulis berhalaman-halaman sangat panjang sehingga redaksi sampai dengan terpaksa memangkas ceritanya tanpa mengurangi substansinya. Ketika membacanya saya merasakan gairah dan semangat menuangkan kenangan dan kisah-kisah yang menyenangkan selama menjadi mahasiswa kemudian menjadi alumni.

Membaca dan mengetahui gairah dan perjuangan akang teteh sekalian sungguh menggembirakan dan mengharukan. Tiap-tiap angkatan punya kenangannya sendiri terhadap Fahutan. Tapi saya merasakan satu hal bahwa kita semua belajar di kampus Fahutan tak semata belajar akademi, namun lebih banyak belajar tentang kesetiaan, kebersamaan, kekompakkan, kekeluargaan, tenggang rasa, sikap toleransi, peduli dan respek antar teman seangkatan, kepada senior, kepada junior. Care and respect betul-betul terlihat dan terbaca di edisi ini.

Saya kira inilah keberhasilan paling utama kampus Fahutan mendidik kita semua. Kita bisa saling tukar ilmu dan pengalaman dalam praksis dan laku hidup sehari-hari. Kita mungkin tak terlalu berhasil dalam akademik, tapi kita telah berhasil dalam memahami ilmu hidup yang paling utama, yakni menjadi keluarga besar yang saling melindungi, saling berbagi, dan peduli.

Tidak ada kata dan kalimat lain selain saya mengucapkan terima kasih kepada akang dan teteh yang telah meluangkan waktu dan berjuang menuliskan kisah-kisah berkesan di edisi ini. Semoga catatan-catatan ini menjadi dokumen berharga buat generasi Fahutan berikutnya dalam mengambil nilai-nilai baik dari para seniornya.

Saya yakin dan pasti, edisi ini akan dibaca oleh anak-cucu kita. Mereka akan belajar dari apa yang kita pelajari bersama di kampus. Mereka akan mudah melacak nilai-nilai baik yang mereka terima dalam keluarga karena mereka tahu seperti inilah ayah dan ibunya dulu digembleng di Fahutan.

Di lembar yang baik ini pula, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota Himpunan Alumni E, kepada para pengurus, yang telah bahu-membahu menjalankan program selama masa kepemimpinan saya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan khilaf selama menjalankan amanah itu. Ada beberapa program yang belum terealisasi. Semoga ketua baru periode 2018-2022 bisa melanjutkannya di sela program-program yang baru.

Selama menuliskan pengantar ini ada yang mengganjal di tenggorokan saya karena haru akan kisah-kisah dan nilai-nilai yang kita petik bersama di kampus kita tercinta. Selamat membaca. Salam care and respect. Jayalah Fahutan selamanya!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.