Salam Ketua | April-Juni 2019

Kami Akan Segera Punya FD.TV

Edmund Burke sudah mengingatkan empat abad silam bahwa kekuatan jahat akan berkuasa jika orang baik tidak berbuat apa-apa.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

CARA mencegah instrusi media sosial yang menginvasi hidup sehari-hari kita adalah dengan membuat konten yang positif agar konten negatif punya penyeimbang. Di alam demokrasi, tiap-tiap orang bebas berpendapat karena kebebasan berbicara menjadi tulang punggung sistem yang terbuka ini. Kata sebuah puisi Toto Sudarto Bachtiar, “Kemerdekaan adalah laut segala suara.”

Kehadiran media sosial menjadi penyambung lidah yang ampuh dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi ini. Hanya saja, karena kebebasan itu, acapkali opini buruk menjadi sama derajatnya dengan opini yang baik. Demokrasi memang memerlukan sikap arif dan keterbukaan pikiran serta kesediaan tiap kita mengikis bias konfirmasi yang inheren dalam pikiran tiap-tiap orang. Maka Edmund Burke sudah mengingatkan empat abad silam bahwa kekuatan jahat akan berkuasa jika orang baik tidak berbuat apa-apa.

Bertolak dari posisi itulah Forest Digest ingin meluaskan jangkauan melalui konten-konten positif di banyak kanal media sosial. Kami akan meluncurkan FD.tv yang menjadi kanal di YouTube untuk menambah meriah konten majalah ini, selain  dalam artikel cetak, juga web, dan video pendek yang diunggah di TwitterFacebook dan Instagram.

FD.tv akan berisi video-video liputan yang lebih panjang, unjuk-bincang yang dikemas kekinian, atau liputan-liputan lain yang membutuhkan ruang dan waktu yang lebih leluasa. Sebab, pertumbuhan pengguna YouTube terus naik, bahkan menjadi media sosial nomor 1 di Indonesia dari segi jumlah pengguna. Dari 267 juta penduduk Indonesia, 150 juta aktif berselancar di YouTube dengan waktu pemakaian rata-rata 3 jam 26 menit.

Tentu saja, angka-angka ini menjadi peluang bagi para pembuat konten untuk bersaing mendapatkan perhatian. Tentu juga perhatian yang positif pula, bukan mendapat perhatian karena membuat konten memakai gaya umpan klik: judul mengundang klik karena membuat penasaran tapi isinya tak ada makna. FD.tv ingin memberikan warna baru dalam konten media sosial di bidang pengelolaan hutan dan lingkungan, mempromosikan pengelolaan yang lestari.

Selain FD.tv, kami juga mendirikan Textonia. Ini semacam pengampu acara atau event organizer. Karena kami adalah para relawan di bidang media, penyelenggaraan acara Textonia tak jauh-jauh dari soal diskusi dan acara-acara intelektual. Dalam dua bulan terakhir kami menyelenggarakan dua diskusi bertema perhutanan sosial. Sebab, selain menggelar diskusi yang dirancang sendiri oleh redaksi, Textonia juga menerima penyelenggaraan diskusi dari pihak luar dengan tema dan tujuan yang sejalan dengan visi dan misi majalah ini.

Untuk mendukung visi itu, kami mengangkat tema majalah ini menjadi lebih beragam. Dalam edisi ini kami angkat soal Citarum. Februari lalu program Citarum Harum genap satu tahun. Sungai terpanjang di Jawa Barat ini mulai dibersihkan secara terstruktur dan masif. Berkat Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi, Citarum mendapat perhatian perbaikan dengan skala nasional.

FD.tv akan berisi video-video liputan yang lebih panjang, unjuk-bincang yang dikemas kekinian, atau liputan-liputan lain yang membutuhkan ruang dan waktu yang lebih leluasa.

Kami ingin melihat sejauh mana program berjalan setelah setahun. Kami mengunjungi Situ Cisanti yang menjadi hulu Citarum. Kami terperangah melihat danau ini sekarang bersih, dengan air yang jernih, dan taman bunga di sekelilingnya dengan warna-warni pagar yang membuat situ dengan kerling bukit-bukit ini tak seperti berada di tengah hutan.

Danau lima hektare ini dulu dipenuhi eceng gondok dan sampah. Para pemancing dan turis datang ke danau ini lalu membuang sampah ke tengahnya. Di dasar danau juga ada banyak pakaian dan celana dalam. Ada kepercayaan penduduk yang mandi di tujuh mata airnya untuk buang sial dengan membuang pakaian ke danau.

Di hilir tak kalah sumpek. Sungai sepanjang 269 kilometer ini menjadi sumber kehidupan hampir separuh orang Jawa Barat. Ada sekitar 3.000 pabrik yang bergantung pada sungai ini dan buang limbahnya juga ke sini. Belum lagi sampah rumah tangga. Bayangkan betapa polutif dan kotor sungai ini menanggung sampah masyarakat yang dibuang tanpa diolah terlebih dahulu.

Liputan ini ingin memotret program dan perubahan-perubahan itu. Memang belum sempurna, tapi kesempurnaan bukan milik kita. Tugas kita adalah menyalakan lilin ketimbang merutuki kegelapan.

Selamat membaca. Salam lestari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain