Salam Ketua | Oktober-Desember 2019

Belajar dari Greta Thunberg

Greta Thunberg memprovokasi remaja seluruh dunia, bahkan pemimpin dunia, untuk lebih peduli pada planet ini. Ia mendesak agar kita mencegah bumi kian memanas.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

DUNIA tercengang oleh Greta Thunberg. Gadis 16 tahun asal Swedia ini hanya dalam waktu setahun bisa memprovokasi orang seluruh dunia, remaja seusianya, hingga orang-orang tua di kantor pusat PBB, untuk lebih peduli pada isu pemanasan global. Media-media besar dan prestisius mengikuti anjurannya, setidaknya dalam pemakaian kosa kata.

Mengapa Greta lebih memukau dibanding, katakanlah, Leonardo di Caprio—seorang bintang Hollywood yang sudah lama konsen dengan isu lingkungan? Leo juga menjadi inspirasi banyak orang dengan kepeduliannya itu, tapi tak mendorong begitu banyak orang mengikuti titahnya dengan turun dari ranjang, keluar dari kantor dan rumah, untuk ikut berdemonstrasi menuntut para kepala negara lebih peduli pada planet ini.

Dua edisi terakhir majalah ini membahasa Greta Thunberg. Pada edisi ini, Anda bisa membaca artikel yang meresensi bukunya yang baru terbit: No One is too Small to Make a Difference. Resensi itu membahas mengapa Greta menjadi bocah paling berpengaruh di dunia hari ini. Ada banyak alasan yang dikemukakan di sana.

Dari Greta memang kita bisa belajar banyak hal, juga mengingatkan akan banyak hal. Ide dan gagasan yang menggugah tidak datang karena usia. Kita tak boleh menolak ide berdasarkan kategori umur. Sebuah pepatah mengatakan bahwa andai pun mutiara itu keluar dari dubur ayam, ia tetaplah mutiara. Greta adalah mutiara isu perubahan iklim hari ini. Sebagai orang tua bahkan saya malu mendengar setiap pidatonya yang menggugah. Ia begitu visioner melihat masalah dengan memakai kacamata yang komprehensif.

Pelajaran lain adalah aksi-aksi Greta yang memobilisasi massa dalam jumlah yang banyak patut kita contoh hari-hari ini. Demonstrasi yang berhasil adalah demo yang membuat orang lain paham apa yang kita tuntut, tanpa kekerasan, bahkan demo menjadi semacam hiburan yang penuh kegembiraan.

Greta menginginkan perubahan paradigma. Ia berhasil karena membuat penduduk dunia melihat planet ini dengan cara berbeda. Suaranya didengar, gagasannya menembus benteng birokrasi dan sekat-sekat negara. Apa yang disuarakannya sudah menjadi isu umum, tapi aksi-aksinya kian menyadarkan seluruh umat manusia untuk lebih serius menyelesaikan problem pemanasan global karena kita berpacu dengan waktu akan nasib kita, nasib planet ini.

Greta Thunberg adalah sebuah inspirasi.

Salam lestari.

Foto: The Atlantic

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.