Salam Ketua | November-Januari 2017

Edisi Kedua

Saya terharu begitu tahu ada banyak sekali alumni yang antusias mendukung majalah ini dengan berperan sebagai sponsor dan memesan untuk membacanya.

M. Awriya Ibrahim

Ketua Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB periode 2015-2018

Alhamdulillah majalah Forest Digest edisi kedua telah terbit. Edisi ini membuktikan dan mematahkan ungkapan yang beredar di dunia penerbitan yang tak dikelola bukan oleh ahlinya: sekali terbit sudah itu terbirit. Dengan segala daya upaya redaksi, edisi ini membuktikan alumni Fakultas Kehutanan ternyata bisa dengan sungguh-sungguh menerbitkan majalah ini sebagai media komunikasi para alumni.

Edisi pertama yang terbit dengan tema “Ekowisata Sampai di Mana” pada Agustus-Oktober 2016 telah tersebar ke seluruh Indonesia sebanyak 5.000 eksemplar. Penerimanya antara lain tamu tamu Istana Negara karena dibagikan saat upacara bendera 17 Agustus 2016. Ini sesuatu yang di luar dugaan bahwa edisi perdana sudah beredar di lingkungan Istana Presiden.

Tentu saja, majalah juga diedarkan kepada alumni Fakultas Kehutanan IPB melalui Komisariat Daerah dan Ketua Angkatan, Fakultas Kehutanan IPB, perguruan tinggi, pelaku usaha kehutanan, Perum Perhutani, instansi pemerintah, dan LSM. Alhamdulillah, semua menyambut baik penerbitan ini. Semoga sebagian besar alumni Fakultas Kehutanan IPB sudah menerima dan membaca majalah tersebut dengan penuh kebanggaan.

Atas nama redaksi, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh sponsor yang telah mendukung penerbitan majalah ini. Kekompakkan dan saling dukung seperti ini yang menjadi nilai Fahutan yang tak ternilai di mana pun dan kapan pun. Saya terharu begitu tahu ada banyak sekali alumni yang antusias mendukung majalah ini dengan berperan sebagai sponsor dan memesan untuk membacanya.

Majalah Forest Digest diterbitkan selain untuk menjalin komunikasi antar alumni, juga menjadi pasar ide-ide bagi akang dan teteh sekalian. Kami tahu banyak sekali alumni yang berkiprah di dunia kehutanan tingkat nasional maupun internasional. Saya membayangkan alangkah indah dan bermanfaat jika kiprah itu diberitakan sehingga semakin banyak alumni yang tahu dan bangga dengan almamater kita.

Para alumni juga bisa menulis ide-ide atau saran-saran untuk dunia kehutanan maupun umum sesuai bidang mereka masing-masing. Dengan diterbitkan di majalah, saran dan ide tersebut akan dibaca oleh lebih banyak pemangku kepentingan sehingga peran alumni menjadi nyata dalam pembangunan Republik ini. Majalah ini diterbitkan dengan keinginan sederhana tapi besar seperti itu.

Edisi kedua periode November 2016-Januari 2017 mengangkat tema “Wajah Baru Perhutanan Sosial”.  Tema ini dipilih karena perhutanan sosial selain menjadi program andalan pemerintah juga tumpuan harapan pengelolaan hutan secara lestari. Dengan kebijakan baru yang sedang disiapkan oleh pemerintah, isu ini menemukan muara yang tepat memadukan pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, serta pengelolaan hutan yang tepat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan perhutanan sosial sebagai salah satu program unggulan. Perhutanan sosial merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berhubungan langsung dengan masyarakat di dalam atau sekitar kawasan hutan. Kegiatan utama perhutanan sosial adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Kemitraan dan Hutan Adat (HA), di mana masyarakat diberikan akses untuk mengelola kawasan hutan secara lestari, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sekali lagi, kami mengundang para alumni untuk menyampaikan berbagai tulisan yang menarik sebagai sarana komunikasi, informasi, dan promosi. Juga saran dan kritik agar majalah ini terus berbenah. Atas semua pengorbanan waktu, pemikiran, serta dukungan dari seluruh tim redaksi dan seluruh alumni, kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.  Semoga majalah Forest Digest ini bermanfaat bagi alumni dan stakeholder kehutanan.

Salam Rimbawan dan Care and Respect.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.