Salam Ketua | Januari-Maret 2019

Forest Digest Digital

Selain melalui email, kami juga menyebarkan artikel di web Forest Digest melalui Facebook dan Twitter.

Bambang Supriyanto

Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB 2018-2021

SETELAH melalui proses yang agak rumit dan panjang, akhirnya kami bisa menuntaskan tahap akhir digitalisasi Forest Digest. Tepat saat peluncuran majalah edisi ke-9 pada Desember tahun lalu, kami bisa menyebarkan isi majalah ini secara digital ke alamat surat elektronik para alumni Fakultas Kehutanan IPB dan kolega-kolega kami. 

Ada sekitar 1.500 pelanggan Forest Digest melalui email yang kami kirimi artikel-artikel terpilih setiap hari. Sebanyak 96 persen alamat email tersebut aktif dan membuka kiriman-kiriman artikel dari majalah ini. Kami senang karena angka tersebut sangat signifikan. Saya lihat, angka yang membatalkan langganan juga sangat sedikit, kurang dari 0,001 persen. Mudah-mudahan para pembaca yang unsubscribes itu karena salah menekan tautan di email saja sehingga membatalkan langganan.

Selain melalui email, kami juga menyebarkan artikel di web Forest Digest melalui Facebook dan Twitter. Saya lihat di Facebook jumlah penyuka halaman Forest Digest juga lumayan. Tiap artikel bisa menjangkau 4.000-5.000 pemilik akun di Facebook. Sebuah angka yang mengejutkan sekaligus menyenangkan mengingat akun Forest Digest baru dibuat pada bulan Desember itu. Dalam waktu kurang tiga bulan, jumlah pembaca digital kami mencapai angka tersebut. Bagi media gratis yang dikelola secara amatir ini, angka-angka tersebut sangat menjanjikan.

Artinya, jejaring Internet adalah sarana ampuh menyebarkan informasi. Seperti dikupas dalam buku Kehutanan Milenial, generasi sekarang memakai cara berbeda sesuai dengan keahlian mereka dalam ikut serta membahas dikursus dan wacana pembangunan kehutanan. Dengan cara mereka sendiri, yang memanfaatkan Internet dan media sosial, isu-isu kehutanan kini menjadi perbincangan publik. Sehingga solusi-solusi yang diterapkan juga akan lebih demokratis.

Meski begitu, kami juga masih mencetak majalah ini untuk dikirimkan kepada para rimbawan di seluruh Indonesia, juga perpustakaan-perpustakaan universitas agar para mahasiswa mendapat referensi populer dari majalah Forest Digest. Kami senang mengirimkan majalah-majalah ini kepada mereka, sama senangnya ketika mendapatkan balasan dari kepala-kepala perpustakaan bahwa majalah telah sampai di tangan mereka dan masuk dalam katalog perpustakaan.

Kebahagiaan para penulis adalah ketika artikel mereka dibaca secara luas. Karena itu kami terus berupaya meluaskan pembaca tersebut melalui pelbagai kanal offline maupun online. Untuk menunjang hal itu kami juga tetap menggratiskan majalah ini kepada pembaca. Kami percaya, informasi yang bermutu dan kredibel adalah hak setiap orang. Dengan informasi bermutu itulah peradaban kita terbangun. Forest Digest adalah ikhtiar kecil ikut dalam membangun peradaban yang bermartabat itu.

Seperti tema yang kami angkat di edisi ini tentang perubahan iklim dan pemanasan global. Ini isu besar dan kompleks yang tidak bisa tuntas dibahas dalam 1-2 artikel. Tapi kami mencoba mengupasnya dengan memberikan perspektif lain, terutama informasi-informasi dari dalam, dari para pelaku dan aktor yang terlibat dalam usaha-usaha mencegah pemanasan global. Dari negosiasi dan diplomasi hingga usaha-usaha kecil membuat bumi tetap sejuk dan menjadi planet yang terus nyaman kita tinggali.

Sebab, kami percaya, hal-hal besar lahir dari hal-hal kecil. Kami, misalnya, mengangkat profil-profil SMA dan desa yang secara sukarela mewujudkan tempat tinggal mereka ramah lingkungan. Seperti Desa Bendungan di kawasan Puncak, Bogor, yang menjaga sungai mereka tetap bersih dari sampah dan memanfaatkan selokannya untuk menanam ikan. Usaha-usaha kecil ini mungkin tak seberapa dibanding upaya global menahan laju suhu udara, tapi apa yang mereka lakukan sangat berarti mengingat pola hidup dan konsumsi kita belum berubah kendati dampak pemanasan global sudah sangat terasa hari-hari  ini.

Informasi dan berita-berita itu kami kemas sedemikian rupa agar enak dibaca. Kami yakin informasi penting akan menjadi tak berguna jika tak disampaikan dengan cara yang mudah dicerna. Tanpa harus menunggu edisi cetak terbit, kami menyediakannya secara digital melalui web ForestDigest.com. Bagi Anda yang ingin mengaksesnya silakan daftar email Anda di kotak pendaftaran yang tersedia di akhir tiap artikel. Kami menunggu.

Salam Lestari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.