Ragam | Oktober-Desember 2019

Pengusaha Paling Banyak Memproduksi Emisi

Dibanding profesi lain, pengusaha paling banyak memproduksi emisi. Penghasilan berkorelasi dengan banyaknya gas yang dibuang.

Redaksi

Redaksi

PARA peneliti sudah lama menyimpulkan semakin tinggi penghasilan seseorang, karena itu semakin besar pula pengeluarannya, produksi emisinya juga akan mengikuti. Emisi adalah gas buangan dari aktivitas benda hidup berupa gas-gas yang menimbulkan efek gas rumah kaca jika terakumulasi dalam jumlah yang banyak.

Bernapas, duduk, berolahraga, perjalanan ke kantor, adalah aktivitas-aktivitas yang membakar energi dan menghasilkan emisi. Seorang mahasiswa IPB meneliti produksi emisi tiap orang berdasarkan profesinya pada 2017. Alat ukurnya pemakaian listrik, gas, kebutuhan energi untuk kendaraan, sampah yang diproduksi tiap orang, dan jumlah napas.

Kesimpulannya, pengusaha paling banyak memproduksi emisi, yakni sebanyak 6,6 ton setara CO2/tahun. Pegawai negeri sipil menempati urutan kedua sebanyak 4,45 ton setara CO2 per orang per tahun, mengalahkan para profesional yang hanya memproduksi emisi 4 ton CO2/orang/tahun.

Produksi emisi terbesar para pengusaha untuk gas sebanyak 3,6 ton/kapita/tahun. Sementara PNS lebih banyak menghasilkan emisi dari kendaraan sebanyak 2,4 ton CO2/kapita/tahun, mengalahkan mobilitas para pengusaha dan profesional yang hanya 1,8-1,9 ton/kapita/tahun.

Kesimpulan ini juga sejalan dengan kesimpulan lain bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin banyak pula emisi yang diproduksinya. Pada kelompok masyarakat yang penghasilannya di atas Rp 5 juta sebulan, emisi yang diproduksinya 5,3 ton CO2/kapita/tahun atau dua kali lipat dari masyarakat berpenghasilan Rp 2,5 juta sebulan.

Emisi yang diproduksi tiap penduduk Jakarta kian bertambah seiring kenaikan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesadaran penduduk pada pemanasan global. Jika emisi di Jakarta antara 2005-2010 naik 1,1 ton CO2/kapita/tahun, pada periode yang sama emisi yang dihasilkan penduduk London justru turun 0,7 ton/kapita/tahun menjadi 5,43 ton/kapita/tahun.

Pada kurun waktu itu, pemerintah Kota London memang punya kegiatan kolaboratif antara pemerintah dan dunia usaha dalam menurunkan produksi emisi. Selama lima tahun tercatat penurunan emisi sebanyak 34 persen dengan cara peralihan teknologi yang lebih ramah lingkungan, dari energi fosil ke listrik, gas, angin, dan matahari.

Jumlah produksi emisi ini terbalik jika membandingkannya dengan pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita Jakarta pada 2010 hanya US$ 9.984 sementara London US$ 55.947. Kendati pendapatan per kapita berbeda hampir 5 kali lipat ini produksi emisi kedua negara hampir sama.

Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca itu, perlu penyerap yang efektif di sekujur Ibu Kota. Pemerintah Jakarta perlu menambah terus ruang terbuka hijau atau melakukan penanaman pohon penyerap emisi agar lebih banyak menyerap polusi, selain mengubah energi fosil untuk kendaraan ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Menurut catatan Air Visual, indeks udara Jakarta sudah sangat tidak sehat. Baru-baru ini pemerintah Jakarta hendak membagikan tanaman lidah mertua yang diklaim bisa menyerap hingga lebih dari 100 polutan.

Produksi emisi penduduk Jakarta

Berapa investasi untuk menyerap emisi memakai dua pohon ini? Jika 1 ton CO2/kapita/tahun dibutuhkan lahan seluas 300.000 hektare, maka biaya yang diperlukan untuk agroforestri karet dan trembesi sebanyak Rp 30,2 triliun selama 25 tahun atau Rp 4,8 triliun/tahun. Jika dibagi dengan sekitar 9 juta penduduk Jakarta, tiap orang mesti berinvestasi sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 577 ribu setahun untuk menetralkan emisi yang mereka produksi.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.