Ragam | Januari-Maret 2019

Laporan Keberlanjutan di Perusahaan

Laporan ini agak berbeda dengan laporan keuangan atau laporan tahunan lain yang lebih populer. Laporan keberlanjutan berisi pengungkapan kinerja perusahaan sesuai dengan prinsip sustainability.

Siti Sadida Hafsah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

SECARA resmi, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2015. Pembangunan berkelanjutan berpegang pada prinsip yang terdiri dari tiga tiang utama, saling terikat satu sama lain, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Terkait dengan itu National Center for Sustainability Reporting (NCSR) sejak tahun 2005, mendorong praktisi, terutama unit bisnis untuk memahami dan menghasilkan Sustainability Report atau laporan keberlanjutan. Laporan ini agak berbeda dengan laporan keuangan atau laporan tahunan lain yang lebih populer. Laporan keberlanjutan berisi pengungkapan kinerja perusahaan sesuai dengan prinsip sustainability.

Menurut Ketua Pengurus NSCR Ali Darwin laporan keberlanjutan dibuat untuk mengetahui sejauh mana perusahaan berkomitmen dan berkontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, juga sebagai media komunikasi para pemangku kepentingan. “Kalau tidak ada laporan itu tidak ada media untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada publik,” kata Darwin pada Desember 2018. “Bisa di koran tapi terbatas.”

Darwin menambahkan NCSR punya standar laporan yang mengacu Global Reporting Initiative (GRI) dari Belanda. Dengan standar dan acuan tersebut, laporan keberlanjutan yang dibuat perusahaan lebih mudah dipahami oleh pembaca. Ia mencontohkan investor akan terbantu mendapatkan informasi yang tersedia dalam laporan tersebut. “Sehingga laporan ini sangat dibutuhkan kaitannya dengan kebutuhan informasi oleh investor,” kata dia.

Pada 8 Desember 2018, NCSR menyelenggarakan Asia Sustainability Reporting Rating (ASRR) di Novotel Bandar Lampung, sebagai bentuk apresiasi untuk para pembuat laporan keberlanjutan agar terus termotivasi berpartisipasi dalam pencapaian SDGs. Acaranya bersandingan dengan Sustainability Practitioner Conference (SPC) yang diselenggarakan berkolaborasi bersama Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP).

Sejak 2005, perhelatan ini dikenal sebagai Sustainability Reporting Award (SRA). Tahun lalu berubah menjadi ASRR, dengan sistem penilaian yang sebelumnya berupa award menjadi rating. Penilaiannya sendiri dilakukan oleh penilai eksternal yang berkompeten di bidangnya.

Asesor sudah memiliki sertifikasi CSRS (Certified Sustainability Reporting Specialist) dan merupakan para pengajar di perguruan tinggi, yang bukan konsultan atau orang praktik, agar tidak ada konflik kepentingan,” kata Darwin.

Peserta ASRR tahun 2018 dari Indonesia tercatat ada 38 perusahaan. Dari luar negeri ada perusahaan dari Bangladesh, enam perusahaan dari Malaysia, lima dari Singapore, dan lima dari Filipina. Hasil pemeringkatan dalam ASRR terdiri dari 4 peringkat yaitu Platinum (paling tinggi) diraih oleh 11 perusahaan, 29 perusahaan lainnya meraih Gold rating, 8 perusahaan peraih Silver rating dan 8 sisanya mendapatkan Bronze rating (paling rendah).

Keterangan Foto:

Penghargaan pembangunan berkelanjutan dari Asia Sustainability Reporting Rating yang diserahkan Kepala Badan Perencanaan Daerah Lampung Taufik Hidayat kepada Feronica Yula dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bandarlampung, Desember 2018 (Foto: ncsr-ide.org)

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain