Ragam | Oktober-Desember 2018

Menembak dengan Kamera

Dari lomba fotografi Hapka 17 di kampus Fakultas Kehutanan IPB pada September 2018.

Mustofa Fato

Pemerhati kehutanan dan lingkungan. Penyuka kopi dan fotografi

DI kalangan konservasionis ada ungkapan “manusia sejati menembak dengan kamera, bukan dengan senjata.” Ungkapan ini mengandung pesan bahwa cara terbaik menikmati alam, yang di dalamnya ada flora dan fauna, adalah dengan mengabadikannya dengan kamera. Sebab, dengan kamera, kita tak perlu menyentuh mereka tapi tetap mendapatkan keindahan dan maknanya. 

Semangat menangkap keindahan dunia lewat kamera terasa dalam foto-foto yang tersaji dalam lomba Foto Hutan dan Lingkungan. Lomba yang menjadi bagian Hari Pulang Kampus Alumni Fakultas Kehutanan IPB ke-17 ini digelar pada 8-9 September 2018 di Kampus Fahutan Dramaga, Bogor. 

FHL ketiga ini diikuti oleh 150 peserta, dari alumni Fahutan IPB maupun umum. Antusiasme peserta terutama karena lomba ini tak hanya adu foto terbaik, juga adalah pelatihan memotret, pameran, dan penggalangan dana melalui lelang foto. FHL kali ini mengusung tema Rupa Bumi Nusantara. Total hadiah lomba mencapai Rp 15 juta.

20190104195311.jpg

Juri lomba ada tiga orang, yakni dua fotografer senior Pinto NH dan Dwi Oblo Prasetyo dan Dones Rinaldi dari Fahutan. Juri menilai puluhan foto untuk diseleksi dan menetapkannya menjadi juara 1, 2, dan 3. Pengunjung juga diminta memilih foto favorit. 

Juara 1 diraih Nana Tasus Maulana dengan foto berjudul Pesona Curug Cimarinjung. Juri memilih foto ini karena keunikannya memotret aliran air curug secara slowmotoin. Hasilnya adalah foto air terjun yang mirip lukisan. “Teknik dan cerita dari foto ini lumayan kuat,” kata Pinto NH.

20190104195327.jpg

Juara 2 diraih oleh Yoevy Prasetyo dengan foto berjudul Manusia dan Aktivitasnya, yang menggambarkan aktivitas manusia dengan latar Gunung Bromo. Sementara juara 3 jatuh kepada foto Rayuan Cendrawasih karya Andhy PS yang bercerita betapa beragamnya kekayaan fauna Indonesia. 

Untuk juara favorit yang dipilih pengunjung pameran dimenangkan Erlina Budiarti dengan foto yang berjudul Hutan dan Anak Punan. Menurut juri, foto-foto yang terpilih mewakili tema yang ditetapkan panitia. Karya-karya itu telah meneruskan pesan kamera adalah jalan terbaik menikmati keindahan alam raya tanpa merusaknya.

20190104195348.jpg

 Hasil lelang foto bisa mengumpulkan Rp 11 juta. Keseluruhan dana tersebut digunakan untuk aksi lingkungan yang dikelola oleh Himpunan Alumni Fahutan IPB (HA-E IPB).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.