Ragam | Juli-September 2019

Serba-Serbi Praktik Lapang Mahasiswa

Tak hanya mempraktikkan ilmu di kampus, praktik lapang juga acap meninggalkan cerita dan pengalaman berkesan.

Robi Deslia Waldi

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

MAHASISWA Fakultas Kehutanan IPB terbiasa dengan praktik lapang. Hampir selesai pergantian tahun ajaran mereka pergi ke lapangan untuk praktik: pengenalan vegetasi di Jawa Barat, praktik umum di Jawa, hingga praktik kerja lapang di perusahaan di luar pulau Jawa. Tradisi itu berjalan bertahun-tahun.

Tahun ini namanya Praktik Lapang Kehutanan atau PLK  yang dilaksanakan dari 24 Juni hingga 17 Juli 2019. Diikuti oleh mahasiswa angkatan 54 dari 4 departemen. PLK merupakan nama baru sebagai kegiatan praktik di Fakultas Kehutanan IPB. Sebelumnya bernama Praktik Umum Kehutanan (PUK). Sebelumnya praktik ini memiliki 2 nama yaitu Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) dan Praktik Pengelolaan Hutan (P2H).

PLK 2019 dibagi ke dalam beberapa jalur: Cilacap-Baturaden, Kamojang-Sancang Barat, Papandayan-Sancang Timur, Gunung Sawal-Pangandaran, dan Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi sebagai basecamp terakhir.

Ada satu kebiasaan di semua camp saat praktik setiap pagi, yakni Senam Surga. Ini sejenis senam peregangan yang harus diikuti mahasiswa, dosen, dan asisten dosen. Campur baur antara mahasiswa di tengah hutan ini membuat suasana akrab. Dosen tidak boleh memimpin senam. Pemimpin senam adalah ia yang gerakannya paling kaku.

Maka peregangan menjadi ajang tawa dan senda gurau karena geli oleh tingkah teman yang tak bisa memutar pinggang secara ritmis. Gerakan yang diulang-ulang itu malah menjadi hiburan dan meregangkan otot otak yang kaku akibat cuaca dingin pegunungan. Di Garut, di Baturaden, di Pameungpeuk. “Kehangatan bisa datang bukan dari gerakan, tapi dari kegembiraan,” kata Bayu Winata, asisten dosen.

Setelah sarapan, praktikum hari pertama adalah menginventariasi ekosistem hutan pegunungan bawah dan hutan tanaman Ecalyptus sp., pengambilan data lapang dengan melakukan pembuatan plot jalur berpetak sebanyak 3 plot untuk setiap kelompok.  Jenis pohon yang dominan pada hutan pegunungan bawah adalah Puspa (Schima wallichii) dan Saninten (Castanopsis javanica).

Hari kedua giliran naik ke hutan pegunungan atas. Hutan pegunungan atas Garut bisa dikategorikan sebagai virgin forest dengan jenis pohon dominan adalah jamuju (Dacrycarpus imbricatus), Ki putri (Podocarpus neriifolius), cantigi gunung (Vaccinium varingifolium). Selain itu, juga selama praktikum mahasiswa menemukan  elang jawa (Spizaentus bartelis), burung sriganti (Nectarinia jugularis), surili, dan berbagai jejak satwa liar seperti macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus), babi hutan, serta sigung.

Perjalanan dilanjutkan selama enam jam ke Gunung Kendang di ketinggian 2.617 meter dari permukaan laut yang dijadikan sebagai tempat praktik pengenalan ekosistem Hutan Pegunungan Atas.

PLK tidak hanya mengenalkan ekosistem hutan pegunungan bawah, atas, hutan tanaman, namun mengenalkan juga ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan dataran rendah. Di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), praktik ini lebih banyak ke manajemen pengelolaan hutan seperti perencanaan hutan, perlindungan hutan (hama, penyakit, kebakaran hutan), kunjungan ke  industri hasil hutan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain