Ragam | Oktober-Desember 2019

Taman Kota Mengurangi Kejahatan

Ada korelasi antara tingkat kejahatan dengan ruang terbuka hijau sebuah kota. Semakin hijau semakin berkurang angka kejahatannya.

Redaksi

Redaksi

SUDAH lama para ahli menelisik hubungan alam yang lestari dengan tingkat kejahatan. Jika sinrin-yoku atau secara natural alam memberikan ketenangan dan mereduksi stres, seharusnya ia berpengaruh pada tingkat kejahatan—jika kejahatan dianggap selalu berhubungan dengan cara manusia bertahan hidup yang menyebabkan kegelisahan dan tekanan mental.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PNAS menyebutkan ada korelasi positif antara kota yang hijau dengan tingkat kejahatan. Kota yang hijau dengan banyak taman telah menurunkan tingkat kejahatan sebanyak 10 persen, menurunkan kekerasan dengan senjata api hingga 17 persen, dan sebanyak 75 persen masyarakatnya merasa aman bepergian ke luar rumah.

Semakin banyak taman di sebuah kota, tingkat kejahatan menurun dibanding kota yang lebih sedikit memiliki taman. Masyarakat juga cenderung lebih berbahagia karena lebih sering berada di udara terbuka, terutama taman-taman yang rindang dan teduh.

Masyarakat yang tinggal di kota-kota dengan jumlah taman publik yang luas dan banyak, juga punya tingkat stres yang sedikit. Hijau daun, udara yang bersih, berpengaruh secara langsung pada tingkat stres dan kegelisahan. Dengan begitu, tingkat kejahatan akibat persaingan dan gerak gegas perkotaan menjadi berkurang.

Studi ini memang meneliti kota-kota di Amerika terhadap jumlah kejahatan antara tahun 1990-2007. Tapi, agaknya, bisa berlaku di kota mana pun. Kota yang gersang cenderung meningkatkan stres dan mendorong penduduknya berbuat jahat: merampok, membegal, menodong, memeras, hingga penculikan.

Udara Jakarta akhir-akhir ini mencatat rekor terburuk dengan kategori sangat tidak sehat. Dengan membandingkan grafik kualitas udara Jakarta dan tingkat kejahatan pada semester pertama 2019 ternyata berbanding lurus. Semakin buruk udara Jakarta, kejahatan perkotaan juga meningkat. Menurut polisi, di Jakarta kejahatan terjadi tiap 16 menit 27 detik dan ada 9 kejadian pencurian setiap hari.

Pada 2019, kejahatan naik cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ironisnya, di Jakarta Barat, para pelaku lebih banyak anak-anak dan memakai narkotika. Belum ada penelitian untuk menelisik korelasi antara keberingasan anak-anak dengan polusi udara yang mereka hirup sehari-hari.

Jumlah itu pun, Jakarta bukan provinsi dengan jumlah kejahatan terbanyak. Ia hanya menempati urutan kedua. Nomor satu adalah Sumatera Utara. Menurut Badan Pusat Statistik (2018), jumlah kejahatan di provinsi ini hampir 40.000 per tahun atau 109 kejahatan tiap hari. Meski pun tidak ada pembanding antara tingkat kejahatan dan jumlah taman kota secara spesifik, agaknya taman turut berpengaruh terhadap tingkat keamanan.

Sebab taman kota berperan menyerap polusi udara. Tingkat polusi yang tinggi di Jakarta akibat tak kunjung bertambahnya taman-taman kota. Ruang terbuka hijau di Ibu Kota masih 14,9 persen sejak beberapa tahun terakhir—atau separuh syarat ruang terbuka hijau dibanding luas Jakarta yang menapai 66 ribu hektare. Itu pun hampir separuh disumbang oleh swasta. Kurangnya ruang terbuka hijau, sementara pembangunan digenjot membuat udara Jakarta berada dalam kategori sangat tidak sehat bagi penduduknya.

Data dari Kepolisian Metro Jakarta, jumlah pencurian dengan pemberatan pada periode 1-15 Mei 2019 sebanyak 226 kejadian, naik 26 kasus dibanding periode bulan sebelumnya. Pencurian dengan kekerasan pada periode Mei sebanyak 44 kasus, naik tujuh kasus dibanding periode bulan sebelumnya.

Adapun indeks kualitas udara Jakarta turun setiap hari. Secara tahunan kualitas udara Jakarta memburuk dibanding 2018. Pada 2019, konsentrasi partikel PM 2,5 atau lebih kecil dari 2,5 mikrometer sebesar 57,88 mikrogram per meter kubik, lebih tinggi pada 2018 sebesar 42,42 mikrogram. Saking halus, partikel ini sanggup menembus masker dan sulit disaring oleh bulu hidung, sehingga besar kemungkinan menyusup sampai paru-paru dalam jumlah besar.

Udara Jakarta bahkan memburuk saat Lebaran 2019. Padahal “Jakarta sunyi sekali di malam hari” saat Hari Raya Idul Fitri karena kendaraan sebagai salah satu sumber polusi berkurang akibat mudik. Buruknya udara ketika tak ada kendaraan dan aktivitas manusia, menunjukkan konsentrat dan partikel bebas yang dibuang selama sebelum Lebaran turun ke permukaan tanah ketika udara bersih.

Versi lebih lengkap ada di artikel ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain