Kabar Baru | 25 Juni 2019

Ingin Sehat? Mainlah di Alam 2 Jam Sepekan

Bermain di alam terbuka bisa mengurangi stres dan menambah kebahagiaan—menurut para peneliti.

Redaksi

Redaksi

BERJALANLAH jauh ke alam, Anda akan tahu segala hal berjalan dengan baik. Kutipan ini datang dari Albert Einstein, ahli fisika yang sewaktu kecil senang menghabiskan waktu berjalan di hutan-hutan Italia Utara sambil membaca buku tentang alam semesta.

Einstein yang diusir dari sekolahnya karena terlalu banyak bertanya, karena guru-gurunya tak bisa menjawab rasa ingin tahunya, menemukan kedamaian di alam, di bawah tegakan pohon yang rindang dan sunyi. Ia pun paham, semesta berjalan secara teratur dengan hukum-hukumnya yang tak bisa dikendalikan manusia.

Selain tidur yang cukup, Einstein memberikan resep berjalan di alam sebagai penumbuh gairah dan penjaga pikirannya tetap terang. Ia pun berumur panjang, 76 tahun, untuk seorang yang tumbuh di masa perang. Hubungan alam dengan kesehatan manusia dikukuhkan oleh studi terbaru yang dipublikasikan para peneliti epidemiologi di jurnal Scientific Reports volume 9 yang terbit pada 13 Juni 2019.

Dengan menganalisis kesehatan hampir 20.000 responden di Inggris, para peneliti menyimpulkan berjalan di alam terbuka, di taman, atau pantai selama 120 menit hingga 300 menit meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan virus.

Mereka yang menghabiskan waktu di udara terbuka dalam kurun waktu itu juga lebih bahagia dibanding mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup.

“Bahkan membuka sepatu Anda lalu berjalan di rumput akan memberikan efek kekebalan pada tubuh, atau sekadar duduk di bangku di sebuah taman,” kata Matther P. White, kepala peneliti, seperti dikutip The Guardian.

Dalam introduksi penelitian itu, White dkk juga menyebutkan bahwa masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan lingkungan yang lebih hijau memiliki kemungkinan lebih besar terhindar dari penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular, obesitas, diabetes, asma, tekanan mental, pada orang dewasa; dan menurunkan risiko obesitas serta miopia pada anak-anak.

Paparan langsung alam—misalnya jarak tempat tinggal ke taman kota—juga mempengaruhi perilaku tiap orang akibat tingkat stres dan daya tahan tubuh.

Penelitian White dkk tak mengukur frekuensi 120-300 menit pada tiap orang. Seseorang yang berdiam atau berjalan di alam terbuka satu jam sehari sehingga ia melakukannya 5 jam sepekan punya kecenderungan kesehatannya lebih baik dibanding mereka yang melakukannya kurang dari itu.

Penelitian ini juga makin mengukuhkan penelitian-penelitian terdahulu soal koneksi dengan alam kaitannya dengan kesehatan manusia. Orang Jepang telah mengenal shinrin-yoku atau “mandi hutan” sejak 1980-an, yakni kegiatan berjalan-jalan di hutan, di bawah kanopi pohon, yang memberi efek bahagia dan tenang setelahnya.

Berjalan di hutan sekitar Gunung Merapi, Yogyakarta.

Seperti ditulis Qing Li, Presiden Kelompok Pengobatan dari Hutan di Tokyo, dalam bukunya Shinrin-Yoku: The Art and Science of Forest Bathing, bahwa berjalan di bawah hutan dan menjumpai kehijauan alam adalah faktor penting dalam memerangi penyakit di tubuh dan pikiran. Setiap hari, Qing selalu berjalan-jalan di taman kota di dekat Nippon Medical School di Tokyo. Dalam sebulan Li menghabiskan tiga hari berjalan di hutan sebenarnya.

Dalam buku yang terbit pada 2018 itu, Li membuat panduan “mandi hutan”:

“Pastikan kamu meninggalkan ponsel dan kamera. Berjalanlah tanpa tujuan dan perlahan. Biarkan tubuhmu yang menuntun arahmu. Dengarkan ke mana ia ingin membawamu. Ikuti hidung dan panca indramu. Tidak masalah jika kamu tidak berjalan dan hanya diam. Nikmatilah suara, aroma, dan pemandangan alam dan biarkan alam memasukimu dan kamu memasukinya.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.