Ragam | Oktober-Desember 2019

Masker untuk Mengingat dan Menjaga Hutan

Perkumpulan Hutan Itu Indonesia membagikan masker di ruang publik untuk mengingatkan pentingnya hutan bagi planet ini.

Redaksi

Redaksi

ANAK-anak muda yang tergabung dalam “Hutan itu Indonesia” membagikan 30.000 masker secara gratis di tujuh stasiun transportasi publik selama tiga hari sejak 26 Agustus 2019. Masker itu bertuliskan “Hutanku Napasku”. “Tujuan kampanye ini untuk mengajak anak muda menyadari pentingnya hutan yang menyediakan udara bersih untuk Indonesia,” kata Riry Silalahi, Koordinator Kampanye Hutan itu Indonesia pada 25 Agustus 2019.

Ada puluhan sukarelawan yang membagikan masker “Hutanku Napasku” di stasiun kereta komuter Depok, Bekasi, Palmerah, Sudimara, dan Manggarai, plus stasiun moda raya terpadu (MRT) Jakarta Lebak Bulus dan stasiun kereta ringan Velodrome. Menurut Riry, pembagian akan dilaksanakan pada jam 06.00-09.00 WIB dan 16.00-19.00 WIB.

Para sukarelawan membagikan masker itu kepada para penumpang transportasi publik. Dari pantauan di stasiun Palmerah, mereka yang meminta masker kain ini umumnya meminta lebih dari satu.

Menurut Riry, pembagian masker juga bekerja sama dengan dua universitas terkemuka di Indonesia. Pada 17 Agustus 2019, Hutan itu Indonesia telah membagikan 2.000 masker kepada mahasiswa baru di Univeritas Katolik Atma Jaya dan tanggal 23 Agustus 2019 membagikan masker untuk 8.000 mahasiswa baru di kampus Universitas Indonesia, Depok.

Para pemakai masker juga bisa mengikuti kompetisi media sosial dengan mengunggah foto atau video kreatif mereka dengan memakai masker tersebut di Instagram atau Twitter. Dengan mencantumkan tanda pagar #HutankuNapasku, #HutanituIndonesia #JagaHutan, mengikuti, menandai akun @HutanituID, dan mengajak tiga teman lain. Mereka yang mengikuti tata cara ini secara otomatis berhak mengikuti kompetisi media sosial.

“Enam orang dengan foto atau video dan keterangan yang paling keren akan kami ajak jalan-jalan gratis ke hutan di bulan September,” kata Riry.

“Anak muda perlu bersuara dan menunjukkan kepedulian kita akan hutan Indonesia,” ujar Astrid, penyanyi yang sejak 2016 mendukung gerakan Hutan itu Indonesia, termasuk berpartisipasi dalam video Hutanku Napasku. “Hutanlah yang membuat rumah kita bersama ini segar dan nyaman. Tanpa hutan, kita tidak bisa menghirup udara bersih.”

Riry menambahkan kendati tidak mendapatkan masker khusus gratis dari Hutan itu Indonesia, semua orang tetap bisa turut berpartisipasi dalam kampanye ini dengan membuat masker Hutanku Napasku sendiri. Foto atau video kreatif dengan masker buatan sendiri juga bisa diikutsertakan dalam kompetisi media sosial Hutanku Napasku.

Indonesia memiliki hutan hujan tropis ketiga terluas di dunia, yang merupakan rumah beragam flora dan fauna yang menjadikan negeri kita salah satu yang terkaya keanekaragaman hayatinya di dunia. Presiden Joko Widodo pada 7 Agustus 2019 menandatangani peraturan yang melarang dikeluarkannya izin baru untuk membuka lahan di hutan primer dan lahan gambut sebagai bentuk perlindungan hutan.

“Kami mengusulkan hari ditandatanganinya peraturan ini diresmikan sebagai Hari Hutan Indonesia, supaya kita punya satu hari khusus setiap tahun untuk merayakan kekayaan milik kita bersama ini,” kata Andre Christian, Ketua Hutan itu Indonesia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.