Teknologi | April-Juni 2020

Potensi Besar Minyak Kepayang

Minyak kepayang punya potensi besar karena pelbagai kegunaan dari biji dan zat yang dikandungnya. Selain untuk bumbu masak juga bisa untuk minyak hingga kecantikan.

Misriadi

Kepala Kesatuan Pengelola Hutan Limau Sarolangun, Jambi.

PENGELOLAAN sumber daya hutan kini berorientasi pada produk bukan kayu. Selain potensinya lebih besar dibanding kayu, manajemennya juga lebih lestari. Di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Limau Unit VII-Hulu Sarolangun ada potensi minyak kepayang sebagai produk bukan kayu yang prospektif. Di Jawa, buah kepayang dikenal dengan nama “keluwek”, yang biasa dipakai sebagai bumbu masak, seperti rawon dari Surabaya atau sop konro dari Makassar.

Di Limau, mengolah minyak kepayang merupakan warisan leluhur. Pohon Kepayang (Pangium edule) merupakan salah satu pohon yang cukup banyak tersebar di wilayah hutan Sumatera. Pohonnya cepat tumbuh, kanopi besar, akar kuat, mampu mempertahankan air tanah, berbuah lebat, dan berumur panjang. Sehingga ia juga cocok sebagai tanaman konservasi.

Di Sorolangun, buah kepayang dipakai sebagai bahan minyak goreng dan obat tradisional. Karena banyak kegunaannya itu, KPHP Limau Unit VII sedang mengembangkannya menjadi bisnis rintisan melalui koperasi. Dari sekitar 25 desa yang ada di Limau, penduduk diperkirakan menghasilkan 870 ton biji kepayang sekali panen.

Dari 6,8 kilogram daging biji kering akan diperoleh 2,8 kilogram minyak dan 4 kilogram ampas. Berarti dengan total berat biji kepayang sebanyak 870 ton atau 870.000 kilogram akan diperoleh 358.235,29 kilogram minyak dan 51.1764,71 kilogram ampas.

Potensi
Buah kepayang adalah mata rantai keanekaragaman hayati hutan Jambi. Ia makanan kesukaan babi hutan yang menjadi mangsa harimau. Bagi manusia, buah kepayang juga menjadi sumber obat dan kecantikan serta menaikkan kekebalan tubuh karena mengandung omega 3, vitamin A, B dan C, protein, zat besi, dan betakaroten.

Selain di hutan, pohon kepayang tumbuh di lahan desa. Karena itu KPHP menjalin kemitraan dengan masyarakat di sekitar hutan yang berhimpun dalam Kelompok Tani Hutan “Kelompok Pengolah Kepayang (KPK)”. Tak heran jika di Sorolangun, kepayang menjadi bagian dari adat. Ada seloko (pesan adat) dalam bahasa penduduk yang berbunyi “Nutuh kepayang nubo tepian”, artinya “dilarang menebang pohon kepayang dan meracuni ikan di sungai”. Masyarakat memakai daun kepayang untuk mengawetkan ikan.

Selain pendampingan teknis yang menggandeng pihak lain, dan membantu menyediakan alat produksi, KPHP juga membantu pemasaran minyak kepayang yang diproduksi masyarakat. Minyak ini sudah tersedia di toko oleh-oleh di Sorolangun dan bandar udara Sultan Thaha Jambi. Body Shop, produsen alat kecantikan yang punya gerai di seluruh dunia, sudah melirik kepayang untuk jadi bahan dasar produk mereka.

Kandungan Kimia
Kepayang mengandung beberapa zat kimia yang berguna bagi keperluan manusia. Daun dan bijinya mengandung asam sianida. Keberadaan asam ini membuat biji kepayang menjadi beracun. Dari asam inilah asal-usul istilah “mabuk kepayang” bermula—selain karena daerah endemik pohon ini dari Kapahiang di Bengkulu. Jika bijinya dimakan mentah buah ini membuat mabuk berat. Mabuk kepayang kemudian berasosiasi secara denotatif menjadi “mabuk asmara”.

Kandungan asam sianida pada kepayang cukup tinggi, baik pada bagian batang, daun, dan buahnya. Asam sianida bersifat racun, akan tetapi mudah dihilangkan karena sifatnya yang larut dalam air dan menguap pada suhu 26oC. Racun ini pada jaringan tanaman diperoleh dari hasil hidrolisis enzim atau non-enzim dari glikosida. Zat kimia lain yang terkandung dalam kepayang adalah senyawa anti oksidan seperti vitamin C, ion besi, karoten, saponin dan polifenol.

Morfologi pohon kepayang.

Sementara daging biji kepayang mengandung saponin, flavonoid dan polifenol. Senyawa antioksidan dan golongan flavonoid. Senyawa antioksidan berfungsi anti kanker dalam biji antara lain berupa vitamin C, ion besi dan betakarotin.

Minyak kepayang transparan, cair pada suhu kamar, tidak berbau dan berkisar dalam warna kuning keemasan pucat ke oranye gelap atau merah-coklat. Warna minyak tergantung penyinaran matahari saat pengeringan biji. Semakin besar intensitas dan durasi jam sinar matahari selama pengeringan, maka warna minyak yang dihasilkan semakin jernih.

Buah kepayang.

Tiap 100 gram kepayang mengandung 273 kalori, 10 gram protein, 13,5 gram protein, 24 gram lemak nabati, 40 miligram kalsium, 100 miligram fosfor dan 2 miligram besi. Minyak kepayang juga mengandung 0,10 IU Vitamin A, 0,15 miligram Vitamin B, dan 30 miligram Vitamin C.

Selain sebagai bahan dasar minyak dan bumbu masak, ada beberapa kegunaan lain biji kepayang:

  1. Biji yang tidak masak ditumbuk dan dihaluskan dapat digunakan untuk mengawetkan ikan supaya tetap segar, caranya usus ikan dibuang dan diganti dengan tumbukan biji.
  2. Kulit kayu atau biji yang muda dapat digunakan sebagai racun ikan, sementara itu tumbukan daunnya bisa untuk menyimpan atau mengawetkan udang.
  3. Untuk obat dapat digunakan minyak kepayang yang masih mengandung asam sianida.
  4. Biji masak dapat diolah sebagai keluwek, yang merupakan bumbu dapur seperti rawon.
  5. Getah kayunya kuning, dengan bau yang tidak enak, kayu Kepayang agak keras tetapi cukup awet dapat digunakan untuk konstruksi bangunan.
  6. Tempurung biji kepayang dapat digunakan sebagai bahan baku arang aktif atau pengganti kayu bakar. Tempurung biji dapat diolah menjadi suvenir seperti gantungan kunci.
  7. Minyak kepayang bisa dipakai sebagai minyak sayur pengganti minyak kelapa. Cara membuatnya cukup mudah: biji yang telah dibersihkan dari daging buah lalu direbus hingga mendidih selama 1-2 jam. Tempurung dipecahkan/dibelah untuk mengambil biji yang kemudian dicuci dengan air mengalir selama 24 jam. Kemudian daging biji yang telah direndam dijemur, lalu ditumbuk hingga halus, dikukus lalu dipress untuk mendapatkan minyak. Kualitas minyak sangat ditentukan saat pengeringan.
  8. Biji kepayang juga bisa menjadi minyak biodiesel.

Panen biji kepayang adalah mengumpulkan biji dari buah masak hasil dipanjat. Buah pada musim berbuah lebat bisa jatuh 10-15 buah per hari dan jika menunggu buah jatuh sampai habis, maka waktu yang diperlukan untuk mengumpul biji dalam satu pohon mencapai dua minggu. Jika akan dilakukan pemanenan dengan dipanjat, maka pemanjatan dilakukan setelah 2-3 hari buah mulai jatuh. Dan harus melakukan pemilihan dalam pemanenan, dipilih buah yang telah masak.

Minyak kepayang.

Setelah panen, biji kepayang disimpan dengan cara ditumpuk di tanah tanpa alas. Penyimpanan dengan cara ini dapat dilakukan jika penyimpanan hanya untuk proses selama 1-10 hari, namun jika lebih dari 1 bulan, penyimpanan sistem ini bisa mengakibatkan menurunnya rendemen dan biji mulai menuju proses perkecambahan.

Sistem penyimpanan biji yang baik dilakukan pada ruangan yang sirkulasi udaranya baik dan tidak lembap, tidak panas dan tidak terkena sinar matahari langsung. Terkait dengan keterbatasan waktu dalam proses penyimpanan dan kendala pengelolaan biji Kepayang di musim hujan, direkomendasi untuk pengembangan teknologi tepat guna terutama oven untuk pengeringan.

* Artikel ini terbit dalam edisi cetak dengan judul "Kepayang Tak Hanya Memabukkan".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain