Teknologi | April-Juni 2018

Alternatif Pengganti Beras

Beberapa kelebihan sorgum dibanding beras. Indonesia perlu alternatif bahan pangan pokok agar tak tergantung pada padi yang jumlahnya kian tergerus.

Satrio Cahyo Nugroho

Petani dan forester

SALAH satu kebutuhan dasar manusia adalah pangan, untuk memenuhi kalori, protein, vitamin dan mineral. Kebutuhan kalori umumnya dipenuhi melalui konsumsi bahan pangan yang berasal dari tanaman sereal seperti padi dan jagung. Adapun protein berasal dari bahan pangan hewani maupun nabati, seperti biji kedelai.

Kebutuhan vitamin, sementara itu, dapat dipenuhi melalui konsumsi buah-buahan yang umumnya memiliki kandungan vitamin relatif tinggi dibandingkan bahan pangan lainnya. Sedangkan komoditas sayuran umumnya memiliki kandungan mineral yang relatif baik menjaga vitalitas tubuh.

Masalah yang dihadapi Indonesia berkaitan dengan ketahanan pangan adalah ketergantungan terhadap bahan pangan impor terutama beras dan gandum. Beras merupakan bahan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memiliki kontribusi terbesar terhadap konsumsi kalori (55%) dan konsumsi protein (44%).

Impor pun tak terhindarkan mengingat produksi gabah selalu tak imbang sejak 1970-an. Padahal, impor tidak menguntungkan bagi ketahanan pangan karena dua alasan: pertama, pasokan dan harga beras dunia tidak stabil sehingga ketersediaan barang nasional akan meningkat jika proporsi beras impor terhadap penyedia beras semakin besar. Kedua, banyak pula devisa yang diperlukan untuk mendatangkan beras.

Mengingat besarnya peranan sawah dalam menghasilkan padi, peningkatan produksi merupakan upaya penting untuk memenuhi kebutuhan beras yang terus meningkat. Akan tetapi laju pertumbuhan padi sawah semakin lambat karena disebabkan oleh beberapa faktor:

(1) adanya konversi lahan sawah ke penggunaan nonpertanian seperti perumahan, kawasan industri, dan kompleks pertokoan/perkantoran sehingga luas sawah semakin sempit dan kapasitas produksi semakin kecil;

(2) peningkatan intensitas panen padi sawah yang dapat dirangsang melalui pembangunan jaringan irigasi semakin sulit diwujudkan akibat keterbatasan anggaran pemerintah;

(3) peningkatan luas panen padi yang dapat dirangsang melalui pencetakan sawah baru semakin sulit diwujudkan akibat keterbatasan anggaran pemerintah dan sumber daya lahan yang dapat diwujudkan; dan

(4) upaya peningkatan produktivitas padi sawah semakin sulit diwujudkan akibat adanya kelelahan lahan yang menyebabkan respons produktivitas padi sawah terhadap penggunaan input semakin kecil.

Maka perlu dikembangkan bahan pangan lain yang bisa menggantikan kedua bahan pangan tersebut dan bisa di kembangkan pada lahan kering, mengingat sawah basah kian tergerus oleh permukiman dan jumlah penduduk. Lahan kering umumnya memiliki tingkat kesuburan rendah, peka terhadap erosi dan ketersediaan air terbatas.

Potensi sorgum sebagai bahan pangan
Sorgum bisa menjadi alternatif pengganti dua bahan pangan dan makanan pokok orang Indonesia ini. Orang Jawa menyebutnya jagung cantel, orang Sunda menamainya gandrung. Sorgum (Sorghum spp) adalah tanaman serbaguna yang bisa dipakai sebagai sumber pangan, seperti untuk sereal dan sirop) pakan ternak dan bahan baku industri (alkohol, biofuel). Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi dan jelai.

Berasal dari Afrika Utara, sorgum kini banyak dibudidayakan di pelbagai belahan dunia dan merupakan bahan pokok penting di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Tengah. Rumput besar ini telah ditanam di banyak tempat di Indonesia, meskipun umumnya tidak secara besar besaran. Sorgum termasuk tanaman miror, dengan beberapa kelebihan dari tanaman pangan lain seperti toleran terhadap kekurangan dan kelebihan air, tidak memerlukan masukan tinggi, dapat tumbuh baik di lahan marginal dan relatif sedikit terserang organisme pengganggu tanaman (OPT).

Sorgum merupakan tanaman pangan lokal yang bisa dikembangkan pada lahan kering yang penggunaannya bisa untuk tepung sebagai bahan produk makanan olahan (mi roti, kue) . Berbagai produk industri lainnya dan bioethanol juga bisa dibuat dari sorgum. Setelah dipakai, limbah sisa pengolahannya pun masih punya nilai gizi tinggi untuk pakan ternak.

Tabel 1. Perbandingan kandungan beras dan sorgum


20180905140651.png
 Sumber: pengujian sendiri

Dari segi kandungan nutrisi, seperti terlihat dari tabel di atas, sorgum merupakan bahan pangan yang potensial. Namun demikian pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan belum diketahui oleh masyarakat luas kecuali pada sebagian masyarakat tertentu di daerah Nusa Tenggara, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai bahan pangan sorgum disajikan dengan cara dimasak seperti selayaknya nasi dengan perbandingan 1 gelas sorgum berbanding dengan 4 gelas air. 

Potensi Pengembangan Sorgum
Sorgum merupakan tanaman serealia yang bisa dikembangkan di daerah tropis maupun daerah sub tropis seperti China, India dan USA. Di benua Afrika sorgum banyak dikembangkan di Sudan dan Nigeria yang memiliki iklim relatif kering. Di wilayah Asia Tenggara, tanaman tersebut sudah dikembangkan di Thailand, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia sorgum telah banyak dikembangkan secara tradisional di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa timur, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di empat provinsi tersebut sorgum digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan makanan kecil atau jajanan pasar.

Sorgum bisa tumbuh dengan baik pada suhu berkisar 230-300 Celcius dengan kelembaban relatif 20-40%. Sorgum bisa hidup pada ketinggian di atas 500 meter meski pertumbuhannya agak terhambat. Meski begitu, sorgum bisa tumbuh pada kondisi tanah yang sangat beragam. Ia bisa tumbuh dengan baik pada tanah berpasir, pada hampir seluruh jenis tanah, pada tanah yang kurang subur dan dapat tumbuh pada pH tanah berkisar 5-7,5. Sorgum juga lebih toleran terhadap tanah salin dan genangan air dibanding tanaman serealia lainnya.

Kebutuhan air pada sorgum relatif rendah dibandingkan tanaman serealia lainnya terutama padi. Untuk tumbuh optimal, padi membutuhkan air lebih dari 514 kilogram, sedangkan sorgum hanya 322 kilogram.

Sorgum juga lebih tahan pada kondisi kering dibanding tanaman serealia lainnya karena beberapa faktor:

(1) sorgum membentuk akar sekunder dua kali seperti halnya jagung,

(2) adanya penimbunan silika pada endodermis yang akan mencegah terjadinya kolaps tanaman jika kekurangan air,

(3) permukaan daun sorgum dilapisi lilin yang dapat menggulung bila mengalami kekeringan,

(4) proses evapotranspirasi tanaman relatif rendah, dan

(5) sorgum bisa melakukan dormansi pada saat kekeringan dan memulihkan pertumbuhannya setelah kondisi lingkungannya kembali normal.

Uraian di atas menjelaskan bahwa sorgum memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi lingkungan tumbuhnya. Dengan sifat tersebut, sorgum memiliki potensi dikembangkan pada lahan kering yang umumnya kurang subur dan ketersediaan air sangat tergantung pada curah hujan.

Tak hanya itu, sorgum tahan terhadap serangan hama karena toleran terhadap kekeringan, genangan air maupun salinitas tanah. Secara alami kandungan bahan organik tanah pada lahan kering cenderung berkurang antara lain akibat korosi topografi lahan kering yang sebagian terdapat di daerah lereng dan berbukit. Untuk menghindari penurunan kesuburan lahan maka pengembangan, sorgum di lahan kering harus diikuti pemberian pupuk organik/pupuk kendang. Pemberian pupuk organik tersebut memiliki peranan untuk memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah.

Sebagai pengganti beras, sorgum layak dikembangkan karena punya kandungan gizi lebih baik dibanding padi dan tahan terhadap kondisi alam. Sorgum juga sangat baik untuk konsumsi penderita diabetes dan kolesterol karena mengandung glikemik rendah, tapi bobot karbohidratnya tetap setara beras. 

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.