Teknologi | Oktober-Desember 2019

Teknik Baru Memadamkan Kebakaran di Rawa Gambut

Solusi baru memadamkan kebakaran lahan gambut yang menjadi momok Indonesia tiap musim kemarau: gel jagung. Lebih efektif dibanding air.

Purwo Subekti

Mahasiswa program doktoral Institut Pertanian Bogor.

KEBAKARAN lahan gambut terus terjadi tiap musim kemarau karena keringnya sebagian vegetasi dan permukaan lahan gambut. Cara membersihkan lahan dengan membakar merupakan cara yang paling efektif baik dari segi waktu maupun biaya, sehingga sebagian masyarakat akan terus melakukan pembakaran jika musim kemarau tiba. Namun cara tersebut merupakan tindakan yang sangat tidak ramah lingkungan dan cenderung menimbulkan efek kerugian yang nilainya sangat besar.

Pembakaran dengan tidak terkontrol dan dengan skala luas menyebabkan api cepat menjalar yang sangat sulit dipadamkan. Keberadaan asap yang disebabkan akibat pembakaran baik di lahan mineral maupun lahan gambut menyebabkan terganggunya aktivitas mahluk hidup bahkan dalam kondisi tertentu menyebabkan kematian.

Usaha pemadaman ketika terjadi pembakaran yang tidak terkontrol membuat Indonesia sibuk. Namun usaha-usaha tersebut belum optimal karena setiap tahun sebagian wilayah Indonesia selalu terjadi bencana asap. Maka perlu inovasi teknologi untuk mengefektifkan usaha memadamkan api.

Salah satu hasil pengembangan teknologi adalah memanfaatkan gel dari pati jagung sebagai  media pemadam kebakaran. Penerapan gel ini biasa dipakai dalam pemadaman kebakaran akibat api batu bara. Dari banyak percobaan, gel mampu menutupi permukaan dan menurunkan temperatur areal yang terbakar hingga padam.

Selain memadamkan, gel tersebut juga memiliki kemampuan untuk menahan nyala api kembali  (Cheng et al. 2017). Sementara peneliti lain Imtinan (2019) mengaplikasikan gel pada pemadaman kebakaran pada beberapa vegetasi, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa gel mampu memadamkan kebakaran pada semua sampel uji.

Pati jagung

Dalam kajian ini gel yang digunakan terbuat dari pati jagung yang dicampur dengan air, dengan komposisi 2% pati jagung dan sisanya air (Cheng et al. 2017). Aplikasi pemadaman kebakaran gambut skala laboratorium dilakukan pada reaktor pembakar, setelah gambut terbakar kemudian gel ditaburkan ke atas permukaan areal yang terbakar dengan ketebalan lapisan gel 0,75-1,5 sentimeter. Reaktor yang digunakan sisi-sisinya tertutup kecuali bagian atas.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan gel sebagai pemadam kebakaran gambut bisa mempercepat waktu padam dibandingkan penggunaan air, untuk gel dibutuhkan waktu selama 12,5 menit sedangkan air selama 45,9 menit.

Perbedaan tersebut disebabkan di antaranya karena penggunaan gel satu kali pemadaman, sedangkan air 2 kali pemadaman. Untuk penggunaan air, pemadaman pertama selang waktu tertentu temperatur bergerak naik sehingga di lakukan pemadaman kembali, setelah dilakukan pemadaman ke dua temperatur terus bergerak turun sebagai indikasi bahwa kebakaran gambut telah padam.

Ilustrasi aplikasi gel jagung untuk pemadaman api di rawa gambut skala laboratorium.

Selain waktu padam lebih cepat, gel juga lebih hemat. Gel yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak 65,65 gram, sedangkan air 125,70 gram (Gambar 4). Penggunaan gel pada aplikasi pemadaman kebakaran mampu menutupi pori-pori gambut pada waktu gel mulai di tuangkan ke dalam permukaan areal yang terbakar, sehingga sirkulasi udara yang akan masuk kedalam gambut berhenti.

Selain itu lapisan gel juga memutus sirkulasi gas panas yang akan keluar dari areal pembakaran,. Dengan berhentinya sirkulasi pembakaran api yang ada pada bagian bawah permukaan secara bertahap akan padam. Sedangkan air yang disemprotkan ke permukaan yang terbakar tidak semua bisa masuk ke dalam pori-pori gambut karena tekanan udara panas dari bawah, sehingga pada penyemprotan pertama sebagian besar air menguap.

Perbedaan waktu pemadaman api oleh gel jagung dan air pada percobaan skala laboratorium.

Selain disebabkan udara panas, sulitnya air meresap ke dalam gambut terbakar juga karena sifat gambut terhadap air: dari suka air pada waktu menjadi tidak suka air ketika terbakar atau kering. Sehingga butuh air banyak untuk bisa memadamkan api. 

Perbandingan jumlah gel jagung dan air dalam memadamkan api di rawa gambut.

Alternatif pemakaian gel ini perlu dipertimbangkan untuk aplikasi skala yang lebih luas sebagai usaha mempercepat pemadaman kebakaran gambut. Kemampuan gel sebagai pemadam kebakaran gambut telah terbukti lebih baik dibandingkan memakai air, namun demikian percobaan ini sangat sederhana sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kemampuan pemadaman yang lebih baik lagi. 

Daftar Pustaka

Akbar, A. 2016. Pemahaman dan Solusi Masalah Kebakaran Hutan di Indonesia. Bogor (ID): Forda Press.

World Bank. 2016. Kerugian dari Kebakaran Hutan, Analisa Dampak Ekonomi dari Krisis Kebakaran tahun 2015. Laporan Pengetahuan Lanskap Berkelanjutan Indonesia

Cheng W, Hu X,  Xie J,  Zhao Y. 2017. An Intelligent Gel Designed to Control the Spontaneous Combustion of Coal: Fire Prevention and Extinguishing Properties. Fuel 321 (2017): 826-835

Artikel ini terbit di versi cetak dengan judul "Gel Jagung untuk Memadamkan Api di Gambut".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.