Teknologi | April-Juni 2019

Cara Menurunkan pH Limbah Detergen

Menurunkan pH Limbah Detergen dengan brotowali dan temulawak. Lebih praktis dan efektif.

Danish Muhammad Putra Amiftama

Kelas 7 SMP Kharisma Bangsa Tangerang Selatan, Banten

AIR atau Dihidrogen monoksida adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan di bumi. Menurut Wikipedia, air menutupi hampir 71% permukaan planet ini. Jumlah air di bumi diperkirakan sebesar 1,4 triliun kilometer kubik atau 330 juta mil kubik. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan bagian utama dalam proses metabolisme. Agar air bisa tetap bermanfaat sesuai fungsinya, kualitasnya harus dikelola dengan baik. Salah satu cara mengelola kualitas dan menjamin mutu air adalah dengan mengendalikan pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran air.

Pencemaran lingkungan atau polusi, menurut Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982, berupa masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat  tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Zat atau bahan yang mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup karena jumlahnya melebihi jumlah normal, berada pada waktu yang tidak tepat, atau berada pada tempat yang tidak tepat. Beberapa bulan lalu, ramai diberitakan memutihnya sungai-sungai di Jakarta. Busa itu berasal dari detergen.

Bahaya pencemaran detergen

Detergen dan sabun sama-sama agen pembersih permukaan yang bekerja dengan mengurangi luas permukaan air. Namun sabun berbeda dengan detergen. Sabun terbuat dari bahan organik seperti lemak hewan atau lemak tumbuhan. Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.

Komponen utama detegen adalah surfaktan (agen aktif permukaan), seperti Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LAS) yang direaksikan dengan natrium hidroksida (NaOH). Detergen juga mengandung bahan lainnya seperti builder (pembentuk) yang berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Karena itu, dibandingkan sabun, detergen punya keunggulan daya cuci lebih baik serta tidak terpengaruh kesadahan air.

Pengguna detergen terbesar adalah rumah tangga. Detergen merupakan salah satu barang yang tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Indonesia. Setiap hari detergen digunakan rumah tangga atau perseorangan. Banyak keluarga mempercayakan detergen untuk mengatasi beragam masalah terkait pakaian kotor. Ketika mencuci pakaian di dalam mesin cuci, banyak orang beranggapan detergen yang banyak akan membuat cucian lebih bersih. Detergen yang sudah dilarutkan dengan air di dalam mesin cuci akan membentuk emulsi bersama kotoran pakaian yang nantinya akan terbuang saat dibilas (membentuk busa).

Penggunaan detergen yang berlebihan kerap kali menimbulkan persoalan lain, terutama terhadap kulit yang sensitif. Penggunaan detergen yang terlalu banyak bisa menyebabkan iritasi kulit, gatal-gatal, maupun kulit menjadi terasa sedikit panas ketika kita memakai pakaiannya. Hal ini disebabkan karena detergen umumnya menggunakan surfaktan dengan tingkat keasaman (pH) alkali (basa) dan bersifat iritatif.

Menurunkan pH air

pH adalah derajat keasaman yang dipakai menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki suatu larutan. Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25° C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang dari 7 disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih dari 7 dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangat penting dengan industri pengolahan kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi.

Usaha mengurangi keasaman bisa memakai bahan kimia maupun bahan organik. Beberapa bahan kimia untuk menurunkan pH air di antaranya adalah tawas, asam phospat, asam klorida, dan asam nitrat. Namun, pemakaian bahan kimia bisa menimbulkan dampak negatif, seperti asam fosfat dan asam nitrat yang berbahaya buat kulit.  

Sejak lama telah digunakan bahan-bahan organik untuk menurunkan pH air seperti menggunakan daun ketapang, daun dan batang pepaya, bonggol pisang maupun enceng gondok. Usaha-usaha tersebut banyak dilakukan untuk menurunkan pH air kolam untuk usaha peternakan ikan. Namun penggunaan bahan-bahan tersebut sulit dilakukan untuk menurunkan pH air mengandung detergen dalam rumah tangga karena tidak praktis.

Penyebab air minum isi ulang terasa pahit karena kadar pH-nya yang terlalu rendah. Semakin rendah tingkat keasamannya, rasa air akan semakin pahit. Hal itu menginspirasi saya dan teman-teman mencoba meneliti bahan-bahan organik yang pahit untuk menurunkan pH air alkali.

Brotowali dan temulawak

Bratawali, brotowali, atau akar aliali (Tinospora crispa (L.) Miers ex Hoff.f.; juga T. cordifolia (Thunb.) Miers dan T. rumphii Boerl.) adalah tanaman obat tradisional Indonesia. Rebusan batangnya terasa sangat pahit dan dapat dijadikan obat. Klasifikasi dari tanaman ini termasuk kedalam famili Tanaman Menispermaceae. Tanaman ini kaya kandungan kimia antara lain alkaloid (berberina dan kolumbina yang terkandung di akar dan batang, damar lunak, pati, glikosida pikroretosid, zat pahit pikroretin, hars, berberin, palmatin, kolumbin (akar), kokulin (pikrotoksin).

Brotowali

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Ia berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan wilayah biogeografi Malesia. Bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak. Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri (sumber: Wikipedia)

Untuk mempermudah penelitian, kami membeli brotowali dan temulawak dalam bentuk bubuk di pasar.

Temulawak

Penelitian dilakukan terhadap air mengandung detergen yang berasal dari mesin cuci. Air dari mesin cuci ditampung dalam ember. Air limbah cucian rumah tangga terdiri dari 4 sampel yaitu:

  1. Air limbah cucian baju tanpa pemutih dari mesin cuci
  2. Air limbah cucian pertama
  3. Air limbah bilasan cucian
  4. Air limbah cucian baju dengan pemutih dari mesin cuci
  5. Air limbah cucian pertama
  6. Air limbah bilasan cucian

Masing-masing sampel air limbah dituang ke dalam tiga gelas plastik sehingga total terdapat 12 gelas sampel air limbah (4 sampel air kali 3 gelas). Kemudian pH masing-masing gelas tersebut diukur dengan pH meter dan catat hasilnya dalam tabel (pH 0). Gelas-gelas berisi air limbah tadi dibagi dalam tiga kelompok, kelompok pertama diberi setengah sendok temulawak, kelompok kedua diberi setengah sendok brotowali dan kelompok ketiga dibiarkan sebagai gelas kontrol seperti dalam tabel berikut:

Pengelompokkan sampel air limbah cucian mengandung detergen

Setelah itu, air limbah tersebut diukur masing-masing pH nya dan masukkan dalam tabel (pH1). Diamkan air limbah dalam gelas selama 12 jam. Setelah 12 jam, air akan mengendap dan ukur kembali pH masing-masing air limbah dalam gelas. Catat hasilnya dalam tabel (pH 2).

Setelah dilakukan pengukuran, diperoleh  hasil pengukuran pH air limbah cucian mengandung detergen sebagai berikut:

Hasil pengukuran pH Air sampel air limbah cucian mengandung detergen

Kesimpulan

Temulawak dan brotowali efektif menurunkan pH limbah mengandung detergen. Brotowali lebih efektif menurunkan pH air mengandung limbah detergen. Hal ini dimungkinkan karena brotowali memiliki rasa pahit yang sangat kuat seperti halnya rasa air yang memiliki pH rendah sehingga memiliki kemampuan menurunkan pH air. 

Sumber:

UU No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup

https://id.wikipedia.org/wiki/Air

https://id.wikipedia.org/wiki/Bratawali

https://id.wikipedia.org/wiki/Temu_lawak

https://duniaparapelajar.wordpress.com/tag/pengertian-pencemaran-lingkungan/

https://www.sharp-indonesia.com/ind/article/detail/18/penggunaan-detergen-banyak-baguskah

https://punyanyavika.wordpress.com/2011/12/25/dampak-penggunaan-detergen-sebagai-pembersih-pakaian-dalam-kehidupan/

https://alat-test.com/blog/penyebab-air-minum-terasa-pahit/

Artikel terbit dalam versi cetak edisi April-Juni 2019 dengan judul "Mencuci Limbah Detergen".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain