Teknologi | Januari-Maret 2019

Sensor Hara Pohon Langka

Mahasiswa UGM menciptakan alat yang bisa mendeteksi unsur-unsur hara pohon. Peneliti tak perlu menunggu di lokasi penelitian untuk mendapat data komplit.

Razi Aulia Rahman

Anggota redaksi, bekerja di perusahaan konsultan kehutanan.

KETIKA akan meneliti pohon Palahlar, mahasiswa-mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada kesulitan mengakses data-data di sekitar pohon langka Indonesia yang punya nama Latin Dipterocarpus littoralis ini. Tak ada data yang komplit mengenai pH tanah di sekitar pohon, nutrisi yang diperlukan, hingga kecukupan cahaya untuk tumbuh. Informasi penunjang pohon ini jarang termuat dalam literatur. 

Kelangkaan itu yang mendorong Khumairoh Nur Azizah, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta angkatan 2015, membuat alat yang bisa mendeteksi unsur-unsur di setiap pohon dengan mudah. Ia mengajak Dwi Rahmasari dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Gema Wahyu dari Sekolah Vokasi UGM untuk berinovasi membuat teknologinya.

Setelah pembicaraan mulai mengerucut soal teknik pembuatan alat itu dan merumuskan cara kerjanya yang efektif, mereka sepakat mengajukan proyek itu untuk Program Kreativitas Mahasiswa di bidang karsa cipta yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang menyediakan hibah penelitian. Karena sudah masuk riset, mereka dibantu senior pembimbing Sony Alfa dari jurusan Teknik Fisika UGM di bawah arahan pembimbing dosen Ronggo Sadono.

20190314065106.jpeg

Agar deteksi bisa dilakukan dengan mudah, ketiga mahasiswa ini merancang sebuah alat yang memakai sensor sehingga para peneliti tak harus menunggui pohon yang sedang diamatinya selama 24 jam. Alat bisa bekerja sehari penuh karena dilengkapi panel solar sebagai sumber energi.

Sensor juga bisa ditinggal untuk merekam kehidupan sebuah pohon selama 24 jam yang datanya bisa dimonitor di komputer laboratorium. “Kami fokuskan untuk pohon-pohon langka dulu,” kata Azizah kepada Forest Digest akhir Februari lalu.

Mereka menamani alat itu Litto-Sens. Sens di sana merujuk pada kata “sensor”. Sementara Litto diambil dari nama Latin akhir pohon Palahlar. Menurut Azizah, pengelolaan jenis-jenis pohon di Indonesia, terutama jenis langka seperti Palahlar, masih sulit didapatkan oleh para mahasiswa. Problemnya karena alat untuk penelitiannya belum tersedia. “Padahal data itu penting untuk mengevaluasi satu jenis,” katanya.

Data-data yang mencakup penunjang hidup sebuah pohon tersebut direkam oleh sensor yang ditaruh peneliti di stasiun pengamatan. Dengan teknologi telemetri, data kemudian dikirim ke server website. Sensor alat di stasiun pengamatan bisa menjangkau radius 15 kilometer. Sehingga peneliti tak harus mendatangi pohon yang sulit dijangkau karena ada di lereng yang curam atau berada di medan yang sulit dilalui.

Sistem pengiriman datanya memakai sistem pengiriman data nirkabel yang telah di integrasikan melalui telemetri pada veri high frequency (VHF) dan pengiriman data ke jaringan internet. Dengan perpaduan dua metode pengiriman itulah, alat ini sangat memungkinkan sistem bekerja bahkan pada daerah yang jauh atau remote.

20190314065228.jpeg

Pendukung cara kerja Litto-Sens terdiri dari perangkat keras dan lunak. Sistem hardware terdiri dari dua stasiun yaitu stasiun sensor dan stasiun pengolah (gate station). Stasiun sensor bertanggungjawab pada pengukuran parameter sekaligus mengirimkan data secara telemetri kepada gate station. Sementara gate station menerima data yang kemudian mengirimkannya ke server melalui jaringan internet.

Azizah kini masih mengembangkan website untuk menampung data-data rekaman dari lapangan itu. Untuk sementara mereka memakai platform Ubidots, perangkat Internet of Things yang cocok dengan teknologi berbasis sensor. “Tapi alatnya sudah selesai dibuat 2018,” kata Azizah.

Alat itu kini sedang disempurnakan terutama soal daya jangkau. Azizah dan timnya menargetkan sensor bisa mengirim data ke server komputer dalam jarak 20 kilometer. “Kami belum sempat mengalibrasi karena kurang pendanaan,” kata dia.

Hibah dari Kementerian Riset turun sebesar Rp 7,5 juta sudah habis selama pembuatan dan pengembangan alat ini yang makan waktu tiga bulan pada tahun lalu. Azizah dan teman-temannya baru menanamkan algoritma kalibrasi yang berfokus pada datasheet dari setiap sensor yang merupakan bawaan dari pabriknya.

Dalam uji coba, pengiriman data berjalan lancar dari stasiun sensor hingga ke web. “Problemnya kami terbatas waktu mengembangkan antena sendiri,” kata Azizah. Akibatnya, jangkauan pengiriman telemetri yang seharusnya bisa mencapai puluhan bilometer belum tercapai.

20190314065255.jpeg

Inovasi ini muncul tepat waktu. Tahun 2018 adalah tahun yang heboh akibat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan aturan yang mengeluarkan lima jenis burung langka dari kategori dilindungi. Tak hanya itu Peraturan 106/2018 ini juga mengeluarkan pohon-pohon langka dan endemi Indonesia dari daftar dilindungi. Palahlar termasuk pohon langka, endemi pulau Nusa Kambangan, yang kini tak dilindungi setelah dikeluarkan dari daftar perlindungan pada Desember 2018.

Karena itu, kata Azizah, pemerintah maupun pemerhati pohon sangat antusias dengan inovasi yang mereka ciptakan. Para peneliti, universitas, dan pemerintah bisa memantau lebih cepat dan akurat keberadaan pohon-pohon langka termasuk perlakuan terhadap mereka untuk mencegah kepunahan akibat degradasi alam. “Semoga bisa dikembangkan untuk mendeteksi hewan-hewan langka sehingga penghitungan dan perlakuan terhadap mereka lebih akurat,” kata Azizah.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain