Kabar Rimbawan | Oktober-Desember 2019

Produk Hasil Hutan Bisa Diolah Lebih Kreatif

Produk hasil hutan mesti diolah secara kreatif agar memberikan nilai tambah. Perhelatan mahasiswa Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

Redaksi

Redaksi

AGAR punya nilai tambah, produk apa pun mesti diolah secara kreatif sejak dari bahan hingga kemasan produk. Produk hasil hutan terbuka peluang untuk kreativitas, seperti terlihat dari Forest Product Exhubition 10th (Fortex 10th) di mal Botani Square lantai dua pada 14-15 September 2019.

Tema pameran ini "Let's Make a Masterpiece" oleh Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Acara ini berkolaborasi dengan jurusan terkait dari tiga perguruan tinggi di antaranya Desain Produk Universitas Trisakti, Desain Produk Institut Teknologi Nasional, dan Kriya Seni Institut Kesenian Jakarta, serta dengan komunitas penggiat hasil hutan Hobikayu dan Alur Bamboo.

Rektor IPB Arif Satria yang membuka pameran menerangkan selain memamerkan produk-produk inovatif dari hasil hutan, juga menunjukkan perspektif lain dari hasil hutan. Ia mengenalkan inovatif gitar laminasi bambu yang dibuat oleh mahasiswa Departemen Hasil Hutan IPB.

Wakil Ketua Himasiltan Kevin Arian Sanjaya menjelaskan produk hasil hutan adalah produk yang memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan oleh berbagai kalangan, baik skala kecil maupun besar. Harapannya, dengan acara ini masyarakat lebih bisa untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil hutan, baik kayu maupun non kayu.

Pada hari pertama Fortex 10th diisi oleh presentasi produk kreatif hasil hutan dari empat perguruan tinggi, M. Yusuf Ersandy (IPB), Jovanka Fauzia (Univ. Trisakti), M. Fuadakbar Rahmatullah (Itenas), dan Aulia Murid Sasongko (IKJ). Wakil empat perguruan tinggi itu menjelaskan produk unggulannya yang berpeluang besar untuk dikomersialisasikan.

Pada hari kedua berupa ada unjuk-bincang interaktif yang diisi oelh Edo Borne (aktor danKketua Hobikayu Jabodetabek), Khris Hartono (Ketua Hobikayu Bogor Raya), dan Rio Ardiansyah M. (alumni IPB dan Founder Let It Wood). Unjuk-bincang ini dimoderatori Ketua Himasiltan Pandu Andhika.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.