Kabar Rimbawan | Oktober-Desember 2018

Inspirasi Angkatan 30

Berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Atik Ratih Susanti

IRT rimbawan yang hobinya menyimak diskusi lingkungan

TAHUN ini Angkatan 30, atau mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang masuk kuliah tahun 1993, mengadakan hajat besar Reuni Perak untuk merayakan kebersamaan selama 25 tahun. Untuk menyemarakkan reuni akbar tersebut, mereka mengadakan beberapa acara sebelum acara puncak pada 9 September 2018.

Pada 5 September 2018, alumni Fakultas Kehutanan menggelar unjuk-bincang “Berbagi 30 Cinta Fahutan” di ruang auditorium Sylva Pertamina di Kampus IPB Dramaga. “Cinta” kependekan dari “Cerita Inspiratif Alumni”. Karena itu talkshow ini menghadirkan pembicara para alumni yang datang dari pelbagai profesi untuk berbagi kisah mereka kepada mahasiswa Fahutan. Karena merupakan rangkaian reuni perak, acara serupa digelar di fakultas lain, seperti Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Perikanan. 

Ada lima pembicara yang berbagi kisah inspiratif mereka setelah lulus dari Fahutan. Mereka adalah Doni Sriputra, yang kini menjabat Kepala Sub Direktorat Pemantauan Sumber Daya Hutan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wahyu Wijayasari yang menjadi Kepala Sekolah Islam Terpadu Mutiara Insani School), Agustin “Ririn” Hariyani, pendamping sosial Kementerian Sosial), Irwan Gunawan, Direktur Kalimantan Program WWF, Bayu Murtiyoso yang menjabat Country Manager at Position Partner), Dwi Pujiyanto, Manager Hibah dan Administrasi Yayasan Kehati), Akhmad Hidayat dari Environment Manager Adaro MetCoal – Adaro Energy). Unjuk-bincang dipandu oleh Indra “Sanca” Gunawan. 

Acara yang diikuti hampir 200 mahasiswa ini dibuka dengan menyanyikan hymne IPB dan Mars Rimbawan. Dekan Fahutan Rinekso Soekmadi dalam sambutannya mengatakan bahwa acara berbagi cerita seperti ini baru pertama kali digelar di Fahutan. “Acara seperti layak diteruskan secara berkala untuk memberikan bekal bagi para calon Sarjana Kehutanan dalam menghadapi tantangan dunia kerja,” katanya. 

Akhmad “Mamak” Hidayat bercerita bahwa fase terpenting selama ia kuliah di Fahutan adalah mengikuti praktik lapangan. Sebab, kata dia, praktik saat libur kuliah kenaikan tingkat itu “membekali kita menghadapi dunia kerja.” Adapun Bayu Murtiyoso berwasiat agar mahasiswa aktif dalam organisasi dan membangun jaringan. “Berorganisasi itu akan melatih kita dalam manajemen,” katanya. 

Dwi Pujianto memaparkan sesuatu yang tak asing, yakni ketakutannya kuliah di Fahutan karena Ospeknya yang gahar dan keras. “Tapi setelah menjalaninya rasa persaudaraan kita menjadi terpelihara, kita menjadi akrab dengan teman, senior, dan dosen,” katanya. Doni Sri Putra juga menegaskan soal kekompakan yang tertera dalam syair Mars Rimbawan “Bersatulah bersatu tinggi rendah jadi satu, bertolongan selalu”. 

Bu Guru Wahyu “Ai” Wijayasari bercerita bahwa kekompakan di Fahutan mendorong mahasiswa punya rasa saling memiliki yang berguna menumbuhkan empati setelah memasuki dunia kerja. Sebagai guru, ia menularkan sikap tolong-menolong dan saling menghargai kepada murid-muridnya tanpa memandang suku, agama, ras, atau kelompok. 

Ririn menutup sesi inspirasi itu dengan mengatakan bahwa tiap orang harus mencintai profesinya, apa pun itu. “Karena ia adalah sarana pemuliaan bagi kehidupanmu,” katanya. Para pembicara lain setuju. Mereka sepakat bahwa beragam profesi alumni Fahutan akan punya peran sepanjang mereka yang menjalaninya mencintai serta memuliakan pekerjaan itu. 

Saat sesi tanya jawab, banyak mahasiswa yang bertanya kepada Ririn karena ia berkiprah langsung di lapangan tapi tidak secara langsung bersentuhan dengan hutan. Rupanya cerita Ririn tentang bagaimana dia menjalani hari-harinya sebagai pendamping sosial masyarakat berhasil membangkitkan keinginan dari banyak peserta untuk tahu lebih banyak tentang dunia pendampingan.

Selain cerita dan tanya jawab, sesi berbagi ini diselingi kuis berhadiah dari panitia bagi seluruh peserta. Jumlah hadiah yang melimpah membuat moderator kewalahan membagikannya kepada peserta. Karena acara cukup sukses, panitia berencana membuat acara serupa secara rutin dengan pembicara dari pelbagai angkatan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.