Perjalanan | Juli-September 2018

Bhineka Tunggal Papua

Papua: erotisme yang misterius. Perpaduan antara lautan, daratan, dan langit biru di ujung timur Indonesia.

Libriana Arshanti

Anggota Dewan Redaksi, bekerja sebagai konsultan kehutanan dan lingkungan.

MAPPI adalah hamparan rawa-rawa. Kabupaten di ujung Papua ini baru mandiri pada 2003.

Rute ke sana bisa ditembus melalui Timika memakai pesawat otter twin buatan 1974 berkapasitas 12 orang. Pesawat ini hanya terbang tiga kali dalam sepekan seminggu. Alternatif lain melalui Merauke dengan pesawat terbang jenis karavan berkapasitas sembilan sampai 12 orang yang terbang sekali dalam sehari.

Untuk bisa mendapatkan tiket kedua rute pesawat ini kita harus memesan paling tidak sebulan sebelumnya. Karena jalur penerbangan sudah penuh, maka mau tidak mau saya dan tim survei dari Bogor harus melakukan perjalanan ke Mappi melalui jalan darat dan sungai.

Tantangan pertama dari perjalanan ini adalah panjangnya perjalanan menuju Distrik Asikie melalui Kabupaten Sotta. Ini kabupaten paling timur Indonesia. Daerah ini adalah titik 0 kilometer. Titik perbatasan ini menjadi destinasi wisata yang cukup unik dan bila beruntung bisa berkomunikasi dengan satu dua orang warga Papua Nugini yang melintas ke sana.

Selama perjalanan mobil tidak lagi harus menempuh jalan tanah merah yang lengket atau berdebu karena sepanjang jalan Merauke dan Asiki sudah diaspal. Walaupun tidak semulus jalan yang membelah kota Yogyakarta, namun bisa mempercepat waktu tempuh. Menurut Paskalis, supir kami, sebelum jalan diaspal waktu tempuh Merauke ke Asikie bisa sampai tiga atau empat hari. Kini hanya enam jam saja.

Sampai Distrik Asikie, kami harus bermalam untuk melanjutkan perjalanan dengan perahu fiber pada keesokan harinya. Perjalanan selama 16 jam menyusuri sungai Digoel ini sungguh tegang: perpaduan antara eksotisme alam dan keganasannya.

20180905131547.jpg

Sepanjang perjalanan kami singgah di beberapa kampung untuk makan dan membeli kebutuhan di jalan. Kampung pertama yang kami singgahi adalah Kampung Aam yang masih masuk Kabupaten Digoel. Dari obrolan dengan beberapa penduduk setempat, mereka sedang membangun rumah permanen bantuan pemerintah kabupaten.

Untuk sementara proyek pembangunan itulah yang menjadi mata pencaharian penduduk kampung itu. “Jika bangun rumah selesai, mungkin kami akan kembali berburu,” kata seorang dari mereka.

Dari Kampung Aam kami harus berpindah moda transportasi ke kapal menuju muara Sungai Digoel. Perjalanan selama empat jam ini diakhiri dengan singgah di Distrik Edera yang sudah masuk ke dalam Kabupaten Mappi. Pelabuhan sungainya kecil dan semrawut. Kami harus singgah untuk mengisi bahan bakar dan menambah perbekalan.

Di sana-sini tampak tumpahan oli dan sampah rumah tangga memenuhi pelabuhan. Agaknya soal kebersihan dan keselamatan bukan prioritas di kabupaten paling ujung ini. Tak ada jaket pelampung satu pun di pelabuhan atau di kapal-kapal sewaan.

Senja tiba juga. Alam yang terbentang di depan kami menjadi raksasa gelap yang sunyi. Burung Rangkong sudah berbunyi, menandakan malam, juga sepi yang merungkup wilayah ini. Langit terang dan bersih memamerkan jutaan bintang yang satu-satunya sumber penerangan di sungai panjang ini, menemani kami melaju ke Pelabuhan Mur.

Mur adalah ujung sungai untuk mencapai Keppi, ibu kota Kabupaten Mappi. Karena jalan malam dengan truk, kami tak melihat apa yang ada di sekeliling. Baru esoknya kami terperanjat bahwa jalan yang kami tempuh semalam melintasi hamparan rawa-rawa yang maha luas.

Keppi tampak seperti kota seadanya, tapi ada terasa kota ini tengah membangun. Di sana-sini ada tanah yang digaruk, ada tumpukan batu untuk fondasi, ada bukti yang dibelah. Tak ada Internet di sini. Sinyal telepon seluler hanya satu strip.

Di benak saya, Papua identik dengan pinang. Orang Papua paling senang mengunyah pinang dan sirih lalu memuntahkan ludahnya di mana saja. Tapi tak ada ceceran ludah merah di Keppi. Menurut seorang pedagang, masyarakat asli Keppi tidak terlalu banyak mengunyah pinang seperti umumnya orang Papua. Mereka berbeda-beda tapi merasa tetap satu jiwa Papua.

Di sini rumah-rumah didirikan di atas rawa-rawa, berupa rumah panggung. Agaknya, semua penghuni rumah menjadikan panggung itu tempat sampah raksasa karena hampir semua kolong rumah dipenuhi dengan sampah plastik.

Tahun 2015 daerah ini diketahui termasuk wilayah yang mengalami kebakaran cukup parah. Kami datang ke sana hendak mensurvei pelaksanaan restorasi lahan gambut. Tapi tak ada gambut di sini. Semuanya adalah rawa-rawa. 

Di sana-sini masih tampak bekas padang alang-alang sisa dibakar. Penduduk Mappi membakar alang-alang itu saat berburu rusa. Saat musim panas rawa-rawa dangkal kering airnya, beberapa wilayah dibakar untuk mengumpulkan rusa pada titik tertentu. Rusa pun terjebak dalam lingkaran api dan orang Mappi menangkapnya untuk dimakan. Menurut orang Mappi, bekas sisa kebakaran itu kelak akan tumbuh tunas baru ilalang yang menjadi santapan utama para rusa.

20180905131422.jpg

Masyarakat lokal Mappi tinggal dalam sebuah keluarga yang berkumpul membentuk marga. Masing-masing marga memiliki tanah kekuasaan dan wilayah berburu. Pada desa Kadam Oyim, misalnya, terdapat lima marga yaitu Maritimu, Tambagaimu, Kaminaimu, Kandemu, Mbatimu. Pelanggaran atas batas wilayah ini akan menyebabkan pertikaian. Namun berbeda dengan puluhan tahun lalu, pertikaian pada masa sekarang ini diselesaikan oleh Balai Musyawarah kampung (BAMUSKAM) dan aparat terkait.

Ada cerita dari kepala Kampung Wanggate, suatu waktu ada warga kampung Passue yang berburu dan mencari umbi di hutan hingga melewati batas tanah adatnya dan memasuki Kampung Wanggate. Warga kampung yang tersesat ini langsung dipanah dan menyebabkan terjadinya perang antar suku di hutan namun tidak sampai menimbulkan korban meninggal.

Kejadian ini disikapi  dengan rapat adat dipimpin kepala kampung. Suku yang melanggar harus minta maaf dan harus kembali mundur ke batas wilayah tanah adatnya. Selain itu ada kesepakatan bahwa bila warga yang melanggar memiliki hubungan famili/keturunan di wilayah tersebut dan tanah yang dilewatinya (dijelajahi mencari nafkah) adalah milik keturunannya maka dinyatakan tidak bersalah. Tapi bila tidak memiliki hubungan darah dengan kampung tersebut maka dinyatakan bersalah dan didenda untuk menyerahkan anggota keluarga atau anak perempuannya untuk dinikahkan dengan laki-laki dari kampung tersebut. Kesepakatan ini dianggap efektif untuk menekan peperangan yang sampai menimbulkan korban jiwa.

Ekonomi masyarakat Mappi masih belum bisa lepas dari kebiasaan berburu dan meramu namun sudah tidak lagi hidup berpindah-pindah. Beberapa warga mulai melakukan cocok tanam untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sulitnya transportasi keluar-masuk kabupaten yang baru saja berdiri ini membuat jenis bahan makanan menjadi terbatas.

Kebutuhan protein hewani dipenuhi dari ikan dan daging rusa. Pada awalnya rusa diburu untuk memenuhi konsumsi seluruh anggota marga. Ada aturan tidak tertulis bahwa bila ada salah satu anggota mendapatkan rusa hasilnya akan dibagi rata untuk seluruh anggota marga tersebut. Menurut kepala kampung Kadam Oyim, sistem ini membuat tidak ada anggota marga yang kelaparan.

Interaksi dengan masyarakat luar membuat berburu rusa berubah menjadi barter dengan bahan kebutuhan lain adalah sistem perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Kegiatan pembangunan daerah Mappi membawa masuknya masyarakat dari luar dan kegiatan berdagang pun mulai naik kepada tahap penggunaan uang sebagai alat jual beli.

Daging rusa pun tidak lagi hanya untuk konsumsi makan keluarga namun juga dijual di pasar lokal Mappi. Semua warung makan dan pembuat bakso menggunakan daging rusa sebagai bahan dasar menunya. Abon dan dendeng daging rusa adalah oleh-oleh khas dari Kabupaten Merauke.

Adanya kapal yang mengangkut orang-orang keluar masuk Keppi membuka peluang pasar untuk penjualan daging rusa ke Merauke. Menurut Marros, salah seorang pengemudi angkutan di Keppi, setiap pekan selalu ada pengiriman daging rusa ke Merauke yang dilakukan oleh pengumpul. Namun, penjualan daging rusa ini belum tercatat dalam statitik Mappi.

Kawasan Mappi dengan padang rumput dan rawa kering musimannya tampaknya bisa menjadi lokasi yang cukup sesuai untuk budidaya rusa, walaupun butuh kajian lebih mendalam untuk soal ini. Kearifan lokal untuk berburu dengan sistem memutar tidak lagi mampu menjaga keberlangsungan populasi rusa di alam liar. Kesadaran bahwa kegiatan berburu yang dilakukan bisa menghasilkan uang untuk membeli barang-barang  di luar kebutuhan hidup dasar akan membuat keberadaan satwa ini cepat punah.

Masyarakat lokal Mappi adalah masyarakat yang cerdas dan adaptif terhadap teknologi baru. Beberapa penjual sayur mengatakan bahwa sayur yang mereka jual adalah hasil dari bercocok tanam. Artinya orang Mappi terbuka dan mau belajar hal-hal yang baru dan bernilai ekonomis. Sikap adaptif terhadap perkembangan baru ini bisa menjadi pintu masuk mengajari mereka dalam pengenalan teknologi baru bercocok tanam, setelah tradisi nomaden tak lagi populer.

Hukum adat di kampung menekankan bahwa tidak ada jual beli tanah tapi menerima orang luar untuk pinjam pakai tanah dengan kontrak yang jelas. Orang Mappi sangat melindungi sumber daya yang mereka miliki. Masalahnya, pinjam pakai tanah berisiko semakin menurunnya area jelajah rusa di alam liar.

Jika tak arif mengelola tradisi dan logika baru ini, bukan tak mungkin rusa akan punah oleh kehadiran manusia. Papua harus tetap bhineka dengan ciri khas alam yang eksotis dan misterius.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain